Komedi Indonesia yang sarat testosteron

Nadia Vetta Hamid
Keresahan seorang penggemar 'standup comedy' terungkapkan melalui sepotong tulisan

KOMEDIAN. Juara 3 Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV musim 2 Kemal Palevi dihujat lantaran videonya yang dianggap melecehkan. Foto dari Instagram/@kemalpalevi

Saya (sempat) bermimpi menjadi penulis/komedian. Enggak jauh-jauh sampai sekaliber Saturday Night Live (SNL) deh, seenggaknya saya bisa dikenal di dunia maya. Saya mengidolakan wanita-wanita hebat seperti Tina Fey, Mindy Kaling, dan Julia Louis-Dreyfus; kalau bisa, jadi Tina Fey KW-3 versi lokal.

Tapi setelah dipikir-pikir, kalau mau masuk dunia komedi Indonesia kayaknya harus jadi YouTuber atau standup comedian. Jalan lainnya, ya lewat jalur talen, masuk agency dan nunggu panggilan castingopsi yang ini paling ditentang sama orangtua saya. Lagian, saya juga enggak punya darah campuran bule meskipun banyak yang mengira saya blasteran. Badan saya juga enggak langsing. Kalaupun saya lulus casting, maybe it’s for the sake of jadi objek becandaan di skrip. Ogah, ah.

With all due respect to YouTubers Indonesia, standup comedian, dan aktor-aktor Indonesia keturunan bule; saya tidak menyerang kalian. Tapi itulah realitanya dunia hiburan Indonesia saat ini. Sepertinya selain Raditya Dika, belum ada lagi komedian di Indonesia yang memulai karirnya sebagai penulis (pekerjaan saya sekarang).

Hal-hal yang saya tulis di bawah ini adalah contoh ketakutan saya kalau seandainya saya ini komedian perempuan yang menjunjung tinggi nilai-nilai feminisme dan gender equality. Eh, feminisme kan mendukung kesetaraan gender, tapi mungkin saya akan dikira sama dengan keekstriman faham feminazi.

Saya takut komedi Indonesia jadi ajang pamer kejantanan. There, I said it. Kesimpulan ini saya ambil enggak hanya berdasarkan kasus video prank-nanya-ukuran-beha-abege-nya Kemal Palevi, tapi ada juga beberapa contoh lain yang saya masih ingat.

Mari kita mulai dari Kemal. Saya tahu dia sudah minta maaf dan bakal belajar dari kasus ini biar enggak terulang lagi. Tapi, di kultwit minta maafnya, ada beberapa argumen yang menurut saya — dan mungkin ribuan netizen lainnya — lemah:

Dan yang terakhir, ini paling konyol sih:

Teman-teman kedokteran juga protes karena bidangnya dijadikan landasan untuk becandaan enggak etis. Kalau misalnya saya yang ditanya, mungkin saya udah nampar Mas Kemal, enggak peduli Anda terkenal atau apapun itulah pencapaian karir Anda.

Begini lho, Mas Kemal. Saya concern, lho, dengan Anda. Waktu zamannya saya getol ngikutin standup comedy Indonesia, saya kira Anda adalah komika yang fresh, apalagi dulu mengandalkan ke-absurdan-nya, ya Mas?

Masalahnya, sekarang argumen Anda yang absurd.

Kedua, Uus.

Wah, Mas Uus ini selain judgmental, seksis, homophobic lagi. Triple threat.

Anyway, waktu SMA dulu saya ngikutin K-Pop banget lho, Mas. Sampai sekarang masih ngefans sama Big Bang sih, sama lah kayak Mas Uus. Dulu saya naksir banget sama Jay Park, tahu dia enggak? Itu lho, leader-nya 2PM yang kontraknya dibatalkan agensi JYP karena pernah nulis “Korea is gay”. Google sendiri aja ya tentang kasusnya.

OK deh, Mas Uus bilang, “nangis-nangis di konser Korea sambil nangis-nangis PFFFFFFT MENDINGAN LIAT CEWEK SEXY DI TEMPAT DUGEM PAMER T*T*K!!!” Tapi gini deh, cewek-cewek hijabers yang nangisin opa-opa itu kebanyakan niat banget lho belajar bahasa Korea. Wawasan mereka tentang dunia luarpun bertambah. Lagian, setiap orang berhak milih mau nonton Super Junior atau GOT7 atau Sulis dan Haddad Alwi. Sesuai selera mereka lah.

Tapi, saya dan Anda juga tidak berhak nge-judge cewek-cewek seksi di tempat dugem yang pamer payudara itu. Siapa tahu mereka rajin belajar dan lulus universitas dengan predikat cum laude. Siapa tahu juga mereka rajin beramal. Siapa tahu juga mereka kerja keras untuk membantu meringankan beban orangtua, dan dugem hanyalah salah satu cara mereka menghilangkan penat.

Ketiga, ini udah lama sih, tapi saya masih ingat: Ge Pamungkas.

Tweet ini berasal dari masa-masanya cekcok Aaron Ashab (sekarang Aron, kenapa harus buang satu ‘A’nya sih?) vs YouTubers/komika dan teman-teman sekompleknya. Saya kurang tahu dan enggak mau tahu sebab musababnya karena sejujurnya, saya baca tentang kasus ini ketika duduk menunggu mulas mendera di atas toilet.

For the record, saya juga bukan fans Aaron, eh Aron. Coba dibalik, yuk, situasinya. Misalkan situ hobi pake softlens biru, terus gaya berpakaiannya semi-semi gender-bending gitu, terkadang pake rok di atas celana denimeh, itu jelek banget deng kalau dibayangin.

Mas Ge mau enggak di-subtweet komika/YouTuber lain kaya gitu?

“Ada ya komika, hobinya pake softlens biru, pake eyeliner, suka pake rok di atas celana jins

….. Oooooooookkaaaaayy”

Nah, situ mau enggak? Enggak kan? 

Ya udah. Itu kan kejadian tiga tahun yang lalu, semoga Mas Ge nggak begini-begini amat lagi ya.

“Ya udah, intinya tulisan ini apa, sih? Gue males baca panjang-panjang,” mungkin begitulah kira-kira pertanyaan pembaca tulisan ini — kalau ada.

Apa persamaannya ketiga Mas-mas Komika di atas? Semuanya menyalahkan cewek. Apapun yang berhubungan sama cewek, kayaknya lebih rendah daripada standar kejantanan mereka.

Saya takut fans-fans Mas-mas Komika yang tersebar dari Bekasi sampai Samarinda, Tangerang, hingga Salatiga itu menganggap kalau yang Anda lakukan itu sah-sah saja. Mas-mas sekalian ini sadar enggak sih kalau segala tindak-tanduk sampai perkataan Mas ini dijadikan pedoman bagi mereka?

Saya juga takut adik-adik kita ini menganggap pelecehan seksual di bawah umur adalah hal yang lucu, menjelekkan penampilan orang lain adalah hal yang lumrah, dan bersikap judgmental terhadap orang yang enggak seperti mereka adalah perilaku yang bisa diterima.

Senyelekit-nyelekitnya mendiang George Carlin, kayaknya beliau enggak pernah mengajarkan hal-hal barusan deh. Justru saya belajar banyak dari kata-kata beliau, cek aja di sini meskipun Mas-mas ini kayaknya sudah hapal luar kepala.

Sudah dulu ya, curcol dari saya. Lagian saya ini apa sih, belum ada karya yang konkrit tapi sudah berani kritik Mas-mas Komika yang sudah malang-melintang di industri hiburan Indonesia. —Rappler.com

Nadia Vetta Hamid adalah social media producer untuk Rappler Indonesia. Penggemar berat cappuccino dan terkadang suka begadang untuk nonton FC Bayern München ditemani kucingnya. Nadia bisa disapa di @nadiavetta.

BACA JUGA: