Militer Turki lakukan kudeta terhadap pemerintah

Rappler.com
Militer Turki lakukan kudeta terhadap pemerintah

EPA

Presiden Recep Tayyip Erdogan dalam keadaan aman dan meminta agar rakyat Turki turun ke jalan untuk menolak kudeta militer

JAKARTA, Indonesia – Militer Turki melakukan sebuah kudeta terhadap pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan pada Jumat malam, 15 Juli. Kudeta ditandai pesawat jet tempur yang terbang rendah di ibukota Ankara dan sebuah pernyataan yang disiarkan di radio milik pemerintah, TRT.

Sebuah kelompok yang menamakan diri “Dewan untuk Perdamaian Dalam Negeri” menyampaikan militer telah mendeklarasikan darurat militer dan jam malam.

“Kekuasaan di negeri ini telah diambil alih terhadap entitasnya,” ujar pernyataan militer yang dikutip banyak media di Turki.

Mereka beralasan kudeta dilakukan untuk memastikan dan mengembalikan tatanan konstitusi, demokrasi, Hak Asasi Manusia (HAM), kebebasan dan supremasi hukum di Turki. Kelompok itu menyebut juga akan memulihkan ketertiban di Turki yang terganggu.

“Semua kesepakatan internasional dan komitmen yang telah dibuat (dengan negara lain) akan tetap sama dan sah,” kata mereka dalam sebuah pernyataan.

Selain membacakan pernyataan, kelompok itu juga menyandera petinggi militer Jenderal Hulusi Akar di markas militer di Ankara.

Lalu, di mana Presiden Erdogan? Menurut seorang sumber dari Istana Kepresidenan, Erdogan dalam keadaan yang aman. Bahkan, dia mendorong agar rakyat mulai turun ke jalan dan menolak kudeta.

“Saya sangat yakin upaya kudeta ini tidak akan berhasil,” katanya melalui aplikasi FaceTime untuk merespons pertanyaan media.

Selain turun ke jalan, Erdogan turut meminta agar rakyat Turki berkumpul di tempat-tempat umum dan bandara. Sebab, dia yakin tidak ada kekuasaan yang lebih tinggi dibandingkan kekuatan rakyat.

Ketika terjadi kudeta pada Jumat dini hari, Erdogan dilaporkan tengah berada di resor Marmaris di Mediterania. Dia bersumpah para pelaku kudeta akan membayar aksi mereka dengan harga yang sangat mahal.

Sementara, beberapa gambar yang ditayangkan di televisi menunjukkan beberapa tank dikerahkan di luar bandara Ataturk, Istanbul. Semua penerbangan dari bandara tersebut dibatalkan. Sementara, penerbangan yang ingin mendarat di sana, dialihkan ke bandara lain.

Kota hantu

Sementara, menurut laporan koresponden AFP, kota Istanbul berubah menjadi kota hantu pasca diumumkannya kudeta militer. Warga Turki yang biasanya berada di luar rumah pada Jumat malam, memilih langsung bergegas ke kediaman masing-masing demi keselamatan mereka.

Namun, sebagian justru bersuka cita mendengar berita kudeta.

“Saat ini, situasi akan berubah. Turki tengah dalam peperangan,” ujar seorang pemandu wisata berusia 27 tahun, Fethi Karabas.

Dia menyebut warga Turki kini memiliki harapan baru. Sebab, selama ini negara tersebut sudah terbelah selama 15 tahun terakhir.

“Ini merupakan manifestasi dari semua kemarahan kami,” kata dia.

Warga Turki dari suku Kurdi yang tengah berlibur di Istanbul, Rojhat Dogru, turut merasa gembira.

“Saya sangat bahagia. Erdogan merupakan seoran pembunuh, tetapi kini dia sudah mati,” ujarnya.

WNI diminta waspada

Menyikapi situasi di Turki, KBRI di Ankara mengeluarkan himbauan kepada WNI yang tengah bermukim di sana. Pemerintah mengimbau agar warga Indonesia tetap berada di dalam rumah.

“Selain itu agar sedapat mungkin menghindari tempat atau pusat keramaian. Senantiasa membawa identitas diri seperti paspor atau ikamet apabila bepergian,” ujar KBRI Ankara dalam sebuah pernyataan tertulis.

Jika terjadi sesuatu, KBRI pun menyiapkan empat nomor yang bisa dihubungi oleh keluarga di Indonesia yakni:

KBRI Ankara: +905 321 352298, +905 3381 20760
KJRI Istanbul: +905 314 530 351, +905 319 831 534

– dengan laporan AFP/Rappler.com

BACA JUGA:

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.