Lompat jauh membawa Maria Natalia Londa pada Olimpiade Rio 2016

Sakinah Ummu Haniy
Lompat jauh membawa Maria Natalia Londa pada Olimpiade Rio 2016
Perempuan asal Bali tersebut menjadi atlet atletik Indonesia pertama yang berlaga di Olimpiade tanpa ‘wildcard’

 

 

JAKARTA, Indonesia—Pulau Dewata tak hanya merupakan pusat pariwisata Indonesia. Bali juga menjadi pusat latihan tim atletik Indonesia yang mengharumkan nama bangsa di dunia internasional.

Di Lapangan Umum Mengwi, Denpasar, Bali, yang tergolong sederhana, atlet atletik andalan Indonesia, Maria Natalia Londa, berlatih bersama teman-temannya sejak pagi, tujuh hari dalam seminggu, di bawah asuhan sang pelatih I Ketut Pageh.

Rappler beruntung dapat menyaksikan sesi latihan intensif Maria Natalia Londa jelang Olimpiade Rio 2016.

Perkenalan dengan lompat jauh

Perempuan kelahiran 29 Oktober 1990 ini berkenalan dengan lompat jauh di usia yang masih belia. Saat ia masih duduk di kelas 5 SD, ayahnya mengajak Maria bermain ke lapangan dan melihat orang yang berolahraga dan berlatih.

Kebetulan, lapangan tersebut adalah lapangan tempat para atlet atletik profesional berlatih, termasuk I Ketut Pageh yang kemudian menjadi pelatihnya hingga sekarang. Pada saat itu, Maria langsung jatuh cinta pada lompat jauh.

“Di sana lihat orang lari, tapi saya kurang menarik karena buat saya lari tuh sudah biasa dan banyak orang tau kalo atletik itu lari. Jarang orang tau kalau atletik itu lompat jauh. Jadi terjun memang dari awal banget, dari tahun 2002 itu langsung terjun di nomor lompat jauh,” ujar Maria saat ditemui Rappler disela-sela sesi latihannya.

ATLET ATLETIK PERTAMA. Maria Natalia Londa merupakan atlet atletik Indonesia pertama yang berlaga di Olimpiade tanpa ‘wildcard’. Foto oleh Karma Gurung/Rappler      

Ternyata, sang pelatih I Ketut Pageh juga telah melihat bakat Maria sejak lama. Saat Maria masih SD, sang pelatih yang merupakan mantan atlet nasional tersebut telah meminta pada guru olahraga di sekolah Maria untuk memberikan latihan dasar atletik.

“Saya suruh gurunya memberikan latihan dasarnya, nanti setelah SMP biar saya tangani secara khusus,” ujar pria yang akrab disapa Pageh tersebut.

Berprestasi tanpa henti

Saat ini, Maria Natalia Londa memang merupakan yang terbaik di olah raga lompat jauh. Selain Maria, Indonesia juga mengirimkan Sudirman Hadi di nomor lari 100 meter.

Namun, Maria adalah atlet atletik pertama Indonesia di nomor manapun yang berhasil tampil di Olimpiade tanpa wildcard alias lolos mutlak lewat kualifikasi.

“Itu benar-benar bukan dengan wildcard, tapi benar-benar dengan lompatan sendiri, saya bisa lolos ke olimpiade, artinya saya memang sudah pantas untuk ada di sana. Mudah-mudahan dengan awal saya yang baik itu saya bisa memberikan yang terbaik juga nanti pada saat kompetisi,” kata Maria yang terlihat bersemangat meskipun pagi itu telah berlatih keras selama dua jam.

Sejak ditangani pelatih I Ketut Pageh, Maria memang telah memegang banyak rekor. Saat duduk di bangku SMP, ia telah memegang rekor nasional di kelompok usia muda, remaja, hingga junior. Sekarang, ia pun memegang rekor untuk kelompok umum, di tingkat Asia, hingga akhirnya lolos kualifikasi setelah mendapatkan emas di Sea Games 2015.

“Pertama tau lolos kualifikasi itu di Sea Games 2015 kemarin. Lompat 670 cm dan itu kuallifikasi pas,” tutur Maria.

Maria dan tim atletik Bali mendapatkan hadiah berupa lapangan sintetis setelah ia berhasil meraih medali emas dalam Asian Games 2014 dan Sea Games 2015 lalu. Sebelumnya, Maria dan tim atletik Bali berlatih di sarana yang sangat minim.

Penuh perjuangan dan pengorbanan

TERUS BERLATIH. Maria Natalia Londa beristirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan latihannya di Lapangan Umum Mengwi, Denpasar, Bali. Foto oleh Karma Gurung/Rappler         

Keberhasilan Maria bukanlah hal yang mudah diraih. Menurut sang pelatih, Maria merupakan sosok anak didik yang sangat disiplin.

“Londa ini tipe atlet yang sangat disiplin. Manut dengan pelatih, mau nurut,” kata Pageh.

Maria pun sadar, ia punya tanggung jawab besar sebagai atlet yang akan mewakili Indonesia di Olimpiade. Oleh karena itu, Maria berusaha semaksimal mungkin untuk berlatih dengan keras.

“Kita harus benar-benar mendisiplinkan diri bukan hanya pada saat latihan, pada saat keseharian kita itu sangat mempengaruhi latihan berikutnya. Jadi jangan pernah menyepelekan satu hari atau satu hal apapun yang dilarang oleh pelatih,” tutur Maria.

Meskipun sibuk berlatih demi hasil yang terbaik, namun Maria tidak pernah meninggalkan tanggung jawabnya kepada keluarga.

“Sebenarnya kita ditawari juga latihan training camp di luar negeri. Namun sepanjang ini kita memang tidak bisa ikut karena Maria punya tanggung jawab penuh. Dia kan sudah ditinggal mati orang tuanya, dan dia menjadi tulang punggung ibunya yang agak sakit-sakitan,” kata sang pelatih menceritakan kehidupan anak didik yang telah dikenalnya selama lebih dari 13 tahun tersebut.

DAPAT HADIAH TEMPAT BERLATIH. Maria dan tim atletik Bali mendapatkan hadiah berupa lapangan sintetis berkat kemenangan Maria di Asian Games 2014 dan Sea Games 2015 lalu. Foto oleh Karma Gurung/Rappler         

Maria pun berharap, semua yang dilakukannya secara maksimal akan memberikan hasil yang terbaik di Olimpiade nanti. Tentunya dengan dukungan semangat dan doa dari keluarga serta masyarakat Indonesia.

“Harapannya, bisa memberikan yang terbaik, mengeluarkan secara maksimal pada saat saya latihan. Fokus, lebih tenang menghadapi, karena ini olimpiade pertama saya, minta doa semua kepada masyarakat indonesia, karena tanpa doa saya enggak ada apa-apanya,” katanya dengan tulus karena ia percaya, usaha yang dilakukannya tidak akan sia-sia.

“Proses itu tidak akan membohongi hasil. Jadi lakukan dengan maksimal, selalu do the best,” katanya. —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.