Bahas nasib mahasiswa Papua, Gubernur Lukas Enembe temui Sultan Hamengkubowono

Anang Zakaria
Bahas nasib mahasiswa Papua, Gubernur Lukas Enembe temui Sultan Hamengkubowono
Dari hasil pertemuan itu, Sri Sultan Hamengkubowono, menjamin keamanan mahasiswa Papua di Yogyakarta. Tetapi, aksi separatis tetap tak dibolehkan

YOGYAKARTA, Indonesia – Setelah sempat tertunda, Gubernur Papua, Lukas Enembe akhirnya berkunjung ke Asrama Kamasan I, Jalan Kusumanegara, Yogyakarta pada Rabu, 3 Agustus. Di hadapan ratusan mahasiswa Papua, Lukas mengatakan akan melaporkan tindak diskriminasi yang dialami warga Papua di Yogyakarta kepada Presiden Joko “Jokowi” Widodo.

“Kami akan sampaikan kondisi di Yogyakarta seperti ini,” ujar Lukas.

Dia mengatakan warga Papua juga adalah warga Indonesia dan memiliki hak yang sama dengan warga negara lainnya. Mereka berhak hidup di daerah mana pun di Indonesia tanpa diskriminasi dan intimidasi.

“Kalau ada yang bilang kamu kera, jawab saja tidak ada kera di Papua. Habitat asli kera Indonesia justru tersebar di Sumatera, Jawa dan Kalimantan,” tutur Lukas.

Sementara, merujuk kepada garis Wallace, garis imajiner yang memisahkan wilayah geografis sebaran hewan di Asia dan Australia. Hewan di Indonesia bagian barat, kata Lukas berhubungan dengan Asia, sementara di bagian timur berhubungan dengan Negeri Kanguru.

Dia juga menilai tindakan sejumlah organisasi massa yang berdemonstrasi di depan asrama dan meneriaki mahasiswa dengan kata-kata bernada rasis sudah di luar batas. Terlebih saat peristiwa itu terjadi, polisi justru tengah menjaga ketat Asrama Yogyakarta selama 3 hari.

“Ini keterlaluan,” tuturnya Lukas.

Kendati masih diliputi situasi yang tidak nyaman, Lukas tetap berpesan kepada para mahasiswa agar tetap serius dan tekun berkuliah. Sebab, hanya dengan pendidikan, katanya, masyarakat Papua bisa mencapai kesejahteraan.

“Kau minta merdeka itu urusan belakangan, yang penting sekolah dulu,” kata dia.

Represi berlanjut

DIALOG MAHASISWA PAPUA. Gubernur Papua, Lukas Enembe berdialog dengan mahasiswa di Asrama Papua, Yogyakarta pada Rabu, 3 Agustus. Selain berdialog dengan mahasiswa Papua, Lukas juga bertemu dengan Sultan Yogyakarta. Foto oleh Anang Zakaria/Rappler

Kendati peristiwa pengepungan Asrama telah berlalu, tetapi sejumlah mahasiswa melaporkan menjadi korban tindak kekerasan anggota kepolisian ketika tengah mendatangi acara pertemuan dengan Gubernur Lukas. Salah satu yang mengaku mendapat perlakuan represif dari petugas kepolisian adalah Naomi Aim, calon mahasiswa baru di Yogyakarta.

Kepada Rappler, Naomi mengaku tengah melintas di depan Kebun Binatang Gembira Loka ketika sekelompok polisi mencegat sepeda motornya. Saat itu, polisi memang tengah melakukan razia lalu lintas terhadap para pengguna kendaraan.

Lantaran tidak menduga, dia buru-buru mengerem dan terjatuh.

Bahkan, Naomi mengaku sempat menerima kalimat bernada rasis dari personil kepolisian. Akibat insiden itu, tangan dan bibirnya terluka. Polisi juga menyita sepeda motornya.

Alhasil, Naomi terpaksa berjalan kaki ke Asrama Papua.

“Di tengah jalan, saya sempat menghentikan kendaraan pickup dan menumpang sampai ke dekat asrama,” ujar Naomi.

Dia tiba di asrama pukul 11:20 WIB saat Gubernur Lukas tengah berpidato di depan mahasiswa. Akibat datang dengan keadaan menangis, Naomi menjadi perhatian ratusan peserta pertemuan.

“Saya juga dicegat polisi saat berangkat ke sini,” tutur seorang mahasiswa Papua lainnya, Alpeus Asso.

Sementara, di bagian luar asrama, kerumunan polisi berpakaian preman terlihat berjalan-jalan di sekeliling asrama sejak pukul 09:00 WIB. Selain di Jalan Kusumanegara, mereka juga terlihat berjaga di Jalan Timoho.

Gubernur Lukas turut menyaksikan kondisi itu.

“Bahkan, di depan gubernur pun mereka masih melakukan intimidasi,” katanya.

Mengapa polisi masih melakukan tindak intimidasi? Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda DIY, Ajun Komisaris Besar Anny Pudjiastuti membantah adanya tindakan intimidasi atau penganiayaan terhadap mahasiswa Papua. Justru, dia meminta kepada media untuk tidak membesar-besarkan masalah.

“Jangan mudah percaya pada informasi yang tak jelas,” katanya.

Bertemu Sultan Hamengkubowono

Dari Asrama Mahasiswa, Gubernur Lukas Enembe langsung menemui Gubernur Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X di Keraton Yogyakarta. Sebanyak 8 orang rombongan pemerintah daerah Papua ikut menyertai Gubernur Lukas masuk ke Keraton Kilen, kediaman Sultan.

Ketua Ikatan Mahasiswa Papua-Yogyakarta, Aris Yeimo, berharap kepada Pemda Yogyakarta agar mereka bisa menjamin keselamatan warga Papua di sana. Dia juga berharap agar Sultan mencabut pernyatannya yang bernada rasis dan telah diucapkan tempo hari.

“Para ormas juga harus meminta maaf,” kata Aris.

Sementara, pertemuan Gubernur Lukas dengan Sultan dilakukan secara empat mata dan tertutup.

“Kami hanya menunggu di depan ruangan,” ujar Sekretaris Ikatan Mahasiswa Papua-Yogyakarta, Ruben Frasa.

Usai pertemuan tersebut, Gubernur Lukas mengaku telah menyampaikan tuntutan mahasiswa Papua dalam pertemuan dengan Sultan. Dari hasil petemuan itu, Sultan meminta agar mahasiswa Papua menerapkan sikap saling pengertian.

“Beliau berjanji akan menjamin keamanan, tetapi (bersikap) separatis tetap tidak boleh,” ujar Ruben menirukan pernyataan Gubernur Lukas. – Rappler.com

BACA JUGA:

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.