What's the Big Idea series

Raja Thailand Bhumibol Adulyadej wafat di usia 88 tahun

Rappler.com
Raja Thailand Bhumibol Adulyadej wafat di usia 88 tahun
Akibat kondisi kesehatannya yang terus memburuk, Bhumibol absen di hadapan publik sejak tahun terakhir

JAKARTA, Indonesia (UPDATED) – Raja Thailand, Bhumibol Adulyadej, tutup usia pada Kamis, 13 Oktober. Raja yang diketahui berkuasa paling lama di Negeri Gajah Putih itu, wafat di usia 88 tahun.

“Walaupun tim dokter telah merawat mereka dengan mengerahkan seluruh kemampuan terbaik, tapi kondisinya terus memburuk,” ujar Biro Rumah Tangga Kerajaan dalam sebuah pernyataan. 

Mereka menjelaskan, Bhumibol wafat di Rumah Sakit Siriraj dengan dama pada pukul 15:52 waktu setempat. Pengumuman mengenainya wafatnya Raja juga disiarkan melalui televisi tepat sebelum pukul 19:00. Mereka menayangkan pengumuman khusus itu dengan menampilkan foto hitam putih sang Raja. 

Kemudian seorang pria yang mengenakan kemeja dan blazer hitam membacakan pernyataan serupa. 

Kondisi kesehatan Bhumibol sudah memburuk sejak setahun terakhir. Dia sudah absen dari sorotan publik.

Terakhir, pada Minggu kemarin, Istana memastikan dokter yang merawat Bhumibol telah mengoperasikan alat bantu pernafasan. Mereka juga menyebut kondisi kesehatan Raja bergelar Rama IX itu sudah tak stabil.

Melihat sejarah ke belakang, biasanya Istana akan mengendalikan informasi mengenai kondisi kesehatan Bhumibol dan sulit untuk bisa memastikan situasinya secara keseluruhan. Tapi, beberapa bulan terakhir, Istana mulai mengeluarkan perkembangan secara reguler mengenai kondisi kesehatan Bhumibol, termasuk penyakit gagal ginjal yang dia derita.

Lebih dari dua tahun yang lalu, Bhumibol juga sudah dirawat karena terkena infeksi bakteri, kesulitan bernafas, masalah dengan jantung dan hidrosefalus.

Berdasarkan pernyataan yang dikeluarkan oleh Biro Rumah Tangga Kerajaan pada Minggu malam kemarin, rumah sakit akhirnya memutuskan untuk mengoperasikan alat bantu pernafasan karena tekanan darah Bhumibol terus menurun. Situasi itu terus memburuk pasca dilakukan prosedur cuci darah dan mengganti tabung untuk membantu mengeluarkan cairan dari tulang belakangnya.

Rezim Bhumibol diketahui telah berlangsung selama 70 tahun. Kondisi kesehatannya yang memburuk tentu akan menjadi perhatian publik Thailand, yang sebagian besar pernah merasakan kepemimpinannya.

Tetapi, di bawah rezim Bhumibol pula, Pemerintah Thailand menerapkan secara keras hukum terkait pencemaran nama baik kerajaan. Hukum yang dinamakan lese majeste itu kerap digunakan untuk memenjarakan siapa pun di Thailand yang dianggap telah mengkritik kerajaan.

Para analis berpendapat kecemasan mengenai berakhirnya rezim Bhumibol telah memperburuk konflik politik di Thailand dalam 1 dekade terakhir. Para elit yang kini berkuasa justru saling berperang untuk meraih pengaruh.

 

Putra Mahkota jadi penerus

Kematian Bhumibol membuat masa depan Thailand menjadi tak tentu. Sebagian besar warga Thailand hanya mengenal Bhumibol sebagai sosok Raja yang ada. Terlebih Bhumibol diketahui memiliki peranan sebagai pemersatu dua golongan terbelah di Negeri Gajah Putih itu. 

Kematian Bhumibol juga menjadi ujian terberat bagi kelompok militer yang mengambil alih kekuasaan melalui kudeta pada tahun 2014 lalu. Ketika itu mereka berjanji akan mengembalikan stabilitas Thailand setelah selama 10 tahun dilanda kekacauan politik. 

Pengumuman pada hari ini juga menyebut Putra Mahkota, Maha Vajiralongkorn (64 tahun) sebagai penerus Bhumibol. Walau publik pesimitis terhadap kemampuannya. – dengan laporan AFP/Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.