Konser anti-klimaks Morrissey di Jakarta

Abdul Qowi Bastian
Konser anti-klimaks Morrissey di Jakarta
Morrissey mengangkat isu kebrutalan polisi, perdamaian dunia, anti-rokok, dan perlindungan hewan dalam konsernya di Jakarta

Segalanya berjalan lancar dan sesuai ekspektasi penonton hingga Morrissey balik badan dan tidak kembali lagi ke panggung untuk menampilkan encore. Ratusan penonton di GBK Sports Complex, Senayan, Jakarta Selatan, pada Rabu malam, 12 Oktober, dibuat terheran-heran. Tak sedikit dari mereka yang menyuarakan kekecewaannya terhadap vokalis asal Manchester, Inggris, itu.

“Enggak sopan, nih, Morrissey,” ucap seorang penonton di samping Rappler dalam kerumunan ketika Moz —panggilan akrabnya— tidak menampakkan batang hidungnya lagi setelah menyelesaikan lagu terakhir dalam setlist malam itu, Meat is Murder.

“Gini doang?” ujar penonton lainnya.

Mantan vokalis band The Smiths itu menutup penampilannya dengan Meat is Murder yang disertai dengan video di layar backdrop yang menampilkan adegan-adegan grafik pembunuhan hewan di berbagai tempat. Morrissey yang dikenal sebagai seorang vegetarian memang aktif berkampanye sebagai seorang aktivis hak binatang.

Sebelum mulai membawakan lagu penutup, ia mengatakan, “These are your friends (Mereka adalah kawan-kawanmu),” sambil menunjuk ke layar yang memperlihatkan sapi disembelih lehernya, atau anak-anak ayam jago yang dibunuh karena mereka tidak bisa bertelur. “Do not kill them, do not eat them (Jangan membunuh mereka, jangan memakan mereka).”

Sejumlah penonton terhenyak disuguhkan video yang berdurasi kurang lebih 5 menit itu. Video kemudian diakhiri dengan sebuah tulisan berbahasa Indonesia, “Apa alasanmu sekarang? Daging adalah pembunuhan”.

Tulisan jangan membunuh dan memakan hewan di akhir konser Morrissey di Jakarta, pada 12 Oktober 2016. Foto oleh Abdul Qowi Bastian/Rappler

Morrissey melangkah ke belakang panggung begitu tulisan itu muncul di layar, perlahan diikuti kelima anggota bandnya. Penonton bertepuk tangan sopan.

Tak lama, layaknya konser-konser musisi mancanegara, terdengar teriakan “We want more”. Namun tak begitu kencang, hanya segelintir penonton yang berteriak menginginkan encore.

Sekitar lima menit berlalu, tak ada tanda-tanda yang menunjukkan Morrissey akan membawakan encore. Lalu para kru terlihat di atas panggung, mencopot drumset dan membereskan instrumen-instrumen. Kemudian lampu menyala. Seorang petugas keamanan memberitahu kabar buruk bagi fans Morrissey malam itu, “Bubar, bubar. Udah selesai.”

Atri Anggira, seorang penonton, mengatakan, “Encore itu sesuatu yang essential dari sebuah konser. Jadi jika itu ditiadakan, membuat kami bertanya-tanya, ‘What’s going on?’

Meski ditutup tanpa encore, Anggira —yang sudah dua kali menyaksikan langsung konser Morrissey— mengaku puas dengan penampilan idolanya malam itu. Ini adalah konser kedua Morrissey di Jakarta. Ia pernah menyambangi The Big Durian saat tampil di Tennis Indoor Senayan pada Mei 2012 lalu.

Sama seperti konser-konser Morrissey lainnya, 30 menit sebelum pertunjukan dimulai, penonton disajikan “hidangan pembuka” berupa kompilasi video tentang segala hal yang disukai oleh pria kelahiran 22 Mei 1959 itu. Mulai dari video klip musik Sex Pistols, The Ramones, Alice Cooper, dan New York Dolls; pembacaan puisi Wanting to Die oleh Anne Sexton, hingga adegan cuplikan film seperti Flesh karya Andy Warhol.

Kompilasi video pun diakhiri dengan adegan seorang perempuan berambut merah berteriak. Sesaat setelah itu, Morrissey diikuti anggota bandnya memasuki panggung.

Ia langsung menghentak dengan lagu pembuka, Suedehead, yang diiringi oleh koor penonton. 

Lagu-lagu klasik Morrissey pun menyusul, Alma Matters dan Everyday is Like Sunday membuat penonton melambaikan tangan di atas sambil bernyanyi bareng.

Sebelum melanjutkan ke lagu berikutnya, ia menyapa penonton dan mengatakan, “I’m incredibly happy to be here”.

Kemudian diikuti dengan Kiss Me a Lot, salah satu lagu yang diambil dari album teranyar Morrissey, World Peace is None of Your Business yang rills pada 2014. 

Morrissey membuat penggemarnya berteriak ketika ia menyanyikan Let Me Kiss You dan membuka kemeja berwarna birunya yang sudah basah oleh keringat ketika verse ini dimulai, “Close your eyes and think of someone you physically admire, and let me kiss you. But then you open your eyes and you see someone you physically despise”.

Kemeja birunya itu ia lemparkan ke arah penonton dan berbalik ke belakang panggung untuk berganti kostum dengan kemeja berwarna hitam.

Ia kembali bertanya kepada penonton, “Do you like Donald Trump?” Yang langsung dijawab serentak, “Noooo”.

“I’m surprised,” katanya berseloroh. “But did you know that world peace is none of your business?” Lagu dengan judul yang sama dengan album terbarunya itu pun dimainkan.

Ia juga menyerang kekerasan yang dilakukan oleh anggota kepolisian, utamanya di Amerika Serikat, ketika membawakan Ganglord. Adegan-adegan brutal polisi menendang, memukul, melempar para warga sipil dipertontonkan dengan gamblang di layar. Jika polisi yang seharusnya melindungi warga malah berbalik menyerang, maka kepada siapa masyarakat harus meminta perlindungan?

Ia juga mengangkat isu tentang perlindungan hewan melalui The Bullfighter Dies, menceritakan tentang Spanyol yang menglorifikasi perkelahian antara manusia melawan banteng. “There’s a pain in Spain (Ada penderitaan di Spanyol),” kata Morrissey. 

Morrissey bermain visual dengan layar backdrop di panggung yang menampilkan gambar-gambar yang menarik perhatian penonton, sesuai dengan tema yang diangkat melalui lagu-lagunya dalam konsernya di Jakarta, pada 12 Oktober 2016. Foto oleh Muhammad Adimaja/Antara

Dalam konser kedua kalinya di Jakarta ini, Morrissey hanya membawakan 2 lagu dari The Smiths, yaitu How Soon is Now? dan Meat is Murder yang dijadikan penutup.

Putri, seorang penonton, mengatakan padahal ia menunggu-nunggu Morrissey membawakan crowd favourites seperti There is a Light That Never Goes Out dan Heaven Knows I’m Miserable Now.

Terlepas dari segala kekurangannya, konser Morrissey malam itu tetap mampu mengisi kekosongan dan menuntaskan rindu para penggemar di Jakarta.

Mungkin lain kali, Morrissey dapat mengucapkan sepatah dua kata perpisahan sebelum meninggalkan penonton yang dibuat bertanya-tanya. Agar tidak ada penonton yang mengeluh dan mengatakan, “Ah… kalau gini abis konser gue makan KF* aja, deh”.

Karena kalau demikian, hasilnya menjadi kontraproduktif dari pesan yang dibawakan dengan apik dan elegan oleh Morrissey selama satu jam setengah ke belakang, bukan? Tapi penyanyi legendaris sekaliber Morrissey bisa berlaku semaunya juga, bukan?—Rappler.com

BACA JUGA:

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.