Chelsea vs Leicester City: Menunggu momen Bardonecchia di tim biru

Agung Putu Iskandar
Proses adaptasi Antonio Conte berlangsung cukup lama untuk sebuah klub yang selalu menargetkan gelar seperti Chelsea.

Gary Cahill saat bertanding melawan West Ham 19 April lalu. Dia akan kembali tampil melawan Spurs setelah absen satu laga karena sakit. Foto: Will Oliver/EPA

JAKARTA, Indonesia — “Aku ingin kalian memiliki kemarahan yang sama seperti diriku. Titik!” Kalimat singkat tersebut memanaskan hati para pemain yang sedang menahan dingin di dataran tinggi Bardonecchia, kawasan resort dan ski Italia. 

“Sudah dua musim kita hanya finis di posisi ketujuh. Berhentilah kalian jadi pecundang!” kalimat kedua meluncur. Tak kalah pedas. 

Andrea Pirlo, salah satu di antara para pemain Juventus yang sedang menggigil itu, mencatat momen-momen latihan pertama tim berjuluk La Vecchia Signora tersebut bersama Antonio Conte. Allenatore (pelatih) anyar tersebut didatangkan klub Turin itu dari Siena. 

“Soal taktik, pelatih lain bisa dengan gampang menirunya. Tapi dia tangguh, memiliki karisma, dan sangat berkomitmen,” tutur Pirlo dalam buku biografinya, I Think Therefore I Play

Latihan perdana itu terbukti manjur. Mentalitas juara yang raib pasca skandal calciopoli alias pengaturan skor kembali hadir. Conte langsung membawa Juve meraih gelar Serie A di musim perdananya, 2011-2012.  Gelar itu juga menuntaskan dahaga Juve yang puasa gelar selama 5 musim.  

Setelah itu, roda juara Juve terus menggelinding. Menggilas musuh-musuh lama yang mengambil keuntungan saat mereka terlelap. Conte mendominasi Italia sepanjang 3 musim kehadirannya di Turin.

Bahkan setelah dia mundur untuk menangani Italia pun, Juve tetap seperti saat dia tinggalkan. Massimiliano Allegri, allenatore penggantinya, bahkan masih memakai sebagian besar pemain pilihan Conte. 

Kante sebagai ‘role model’

Tugas yang sama diemban Conte saat dipilih untuk menukangi Chelsea. Situasi klub berjuluk The Blues kurang lebih sama dengan Juve. Tim yang bermarkas di Stamford Bridge itu kehilangan mental juara. Justru di musim pertama setelah menjuarai Liga Primer 2014-2015. 

Salah satu penyebab kehancuran mereka adalah etos kerja tim yang terjun bebas. Para pemain kunci mulai apatis dengan permainan tim. Jose Mourinho, manajer saat itu, yang berusaha menekan mereka justru harus ditendang di tengah jalan. 

Jika pemain sudah kehilangan semangatnya di lapangan, apa yang bisa dilakukan pelatih? 

Conte terus berusaha membangun kembali pola pikir agresif khas pemburu gelar. Namun, dia tak mau terjebak dalam lubang yang sama seperti Mourinho. Menekan dan menuntut pemain habis-habisan, di ruang ganti dan di depan umum, agar mereka benar-benar bertarung di lapangan.

Pelatih 47 tahun itu sadar, mempermalukan pemain di depan pers bukanlah solusi—meski sudah 5 kali di musim ini dia tak memasukkan nama Cesc Fabregas dalam starting line up

Apalagi, Conte memiliki yang tak dipunyai Mourinho. Dia pernah aktif sebagai pemain dan meraih banyak gelar. Dia juga terbukti mampu menjadi sosok kapten yang disegani anak buahnya.

Saat masih aktif bermain bersama Juventus, Conte memimpin talenta luar biasa saat itu seperti Zinedne Zidane, Alessandro Del Piero, dan Filippo Inzaghi. Salah satu caranya adalah dengan memuji habis-habisan N’Golo Kante. Pemain yang didatangkan dari juara bertahan Liga Primer Leicester City itu, menurut dia, memiliki mentalitas yang dibutuhkan Chelsea. 

“Kante fantastis. Staminanya luar biasa. Dia meng-cover begitu banyak ruang. Untuk tim yang memainkan sepak bola ofensif, peran dia sangat penting,” kata Conte seperti dikutip dari Goal.

Bahkan, meski Chelsea kalah 0-3 saat menghadapi Arsenal dan Kante melakukan kesalahan, Conte masih memujinya. Dia mengakui, salah satu gol The Gunners terjadi karena Kante tak bisa menghentikan Mesut Oezil. Namun, itu terjadi lantaran pemain Perancis tersebut sibuk menekan pemain saat bola masih di daerah lawan. Akibatnya, dia terlambat turun.

“Menurutku, itu bukan kelemahan dia. Itu justru kekuatannya. Dia terlalu murah hati. Meng-cover ruang yang bukan wilayahnya,” kata Conte seperti dikutip Independent

Namun, Conte tak ingin terjebak dalam konflik “menganakemaskan Kante”. Dia buru-buru mengatakan bahwa Chelsea hanya perlu satu sosok seperti pemain mungil tersebut. Yang lain hanya perlu mencontoh etos kerja dia. “Saya menginginkan karakter pemain seperti ini,” katanya.

Conte memang harus terus membenahi sikap pemain Chelsea. Sebab, tugas di klub milik konglomerat Rusia Roman Abramovich tersebut tidak ringan. Selain soal mentalitas, hingga sekarang Conte juga belum menemukan sistem terbaik bagi tim. 

Sepanjang tujuh pekan Liga Primer, Chelsea sudah berganti formasi sebanyak 3 kali. Ganti formasi memang lazim dalam sepak bola. Terutama untuk mengantisipasi gaya bermain lawan yang lebih kuat.

Tapi, pergantian formasi yang dilakukan Conte cukup elementer. Dia pernah memakai formasi 3 bek (3-4-2-1) dan 4 bek (4-1-4-1 dan 4-2-3-1). Dia juga pernah menggunakan gelandang jangkar tunggal (4-1-4-1) dan gelandang jangkar ganda (4-2-3-1). 

Pergantian formasi tersebut jelas memusingkan para pemain. Butuh waktu untuk beradaptasi. Masalahnya, Conte juga perlu waktu untuk memahami gaya sepak bola Inggris.

Kekalahan besar atas Arsenal 0-3 menunjukkan Conte belum terlalu mengenal lawan. Tim dengan gaya bermain yang agresif tak bisa dihadapi Chelsea (yang masih dalam proses mencari gaya bermain) dengan cara yang sama. 

Kinerja David Luiz mengkhawatirkan

Situasi bagi Conte semakin sulit karena fondasi pertahanan belum kokoh. Upaya untuk mendatangkan bek Juve Leonardo Bonucci yang gagal tak bisa diantisipasi dengan hadirnya David Luiz.

Seperti peran Bonucci di timnas, Conte mengharapkan bek yang tangguh tapi juga memiliki visi menyerang. Seorang bek bisa tiba-tiba mengirim umpan pada striker di area akhir lawan. 

Beberapa kali dalam sejumlah laga, Luiz berusaha mengadopsi peran bek timnas Italia tersebut. Alih-alih berhasil, dia justru melalukan blunder. Dalam laga Piala Liga melawan Leicester City pada 21 September lalu, 2 kali kesalahan Luiz membuat pasukan Claudio Ranieri mencetak 2 gol. Untung, Chelsea tetap menang 4-2 setelah melalui babak tambahan. 

Keteledoran yang sama bisa dimanfaatkan Claudio Ranieri dalam laga antara Chelsea versus Leicester City, Sabtu, 15 Oktober, pukul 18.30 WIB di King Power Stadium. 

Apalagi, Fabregas dan Branislav Ivanovic tak bisa diturunkan. Fabregas absen lantaran cedera ringan sedangkan Ivanovic mengalami masalah kebugaran. 

Situasi ini bisa membuat Conte kembali memasang trio benteng mereka (John Terry, Gary Cahill, dan David Luiz) sebagai trio bek dalam format 3-4-3. Luiz jelas bakal menjadi titik lemah yang disasar Wes Morgan dan kawan-kawan. 

Soliditas pertahanan Chelsea bisa dalam bahaya karena Ranieri sedang mempertimbangkan memainkan tiga penyerang. Ya, Leicester musim ini mulai ada sedikit perubahan.

Jika musim lalu mereka monoton memainkan 4-4-2 dengan 2 penyerang berdiri tidak sejajar (Jamie Vardy ujung tombak) kali ini Ranieri lebih banyak bereksperimen di lini depan. Jamie Vardy dan Islam Slimani beberapa kali dipasang berdampingan. 

Ranieri ingin keduanya bermain harmonis bersama “penyerang ketiga” winger Riyad Mahrez. “Link-up” di antara ketiganya bakal menjadi senjata baru Leicester musim ini yang masih irit gol. 

“Ketiganya mampu melakukan banyak kombinasi serangan. Ini adalah kekuatan baru kami,” katanya seperti dikutip BBC.—Rappler.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.