Kesaksian mantan anggota Cakrabirawa tentang G30S

"Saya bawahan hanya menaati perintah atasan. Diajak ke mana oleh Pak Untung saya ikut,"kata Ishak Bahar, mantan anggota pasukan Cakrabirawa yang dipenjara 13 tahun tanpa pengadilan.

 

Sertu Ishak Bahar, eks Cakrabirawa yang dipenjara tanpa pengadilan. Foto oleh Irma Muflikhah/Rappler

PURBALINGGA, Indonesia – Usianya sudah 82 tahun. Garis keriput di wajahnya sudah penuh. Namun tubuh Ishak Bahar, mantan pasukan Cakrabirawa era Soekarno itu masih tegap. Otot-otot kekarnya masih terlihat di beberapa anggota tubuhnya yang legam. 

Menariknya, daya ingat pria tua asal Kalimanah Purbalingga, Jawa Tengah itu masih tajam. Ia masih mengingat betul peristiwa 52 tahun silam, 30 September 1965, tragedi yang membawanya ke jeruji tahanan selama 13 tahun tanpa proses peradilan. 

Ishak mengaku tak tahu menahu latar belakang penculikan tujuh jenderal oleh pasukan Cakrabirawa di malam jahanam itu. 

Ia tiba-tiba dihadang oleh Komandan Batalyon 1 Cakrabirawa Letkol Untung bin Samsuri dalam perjalanannya menuju istana.

Ia yang kala itu menjabat komandan regu security kompi C Batalyon 1 Cakrabirawa dan anak buahnya hendak mengawal Soekarno untuk menghadiri Musyawarah Besar Teknik di Istora Senayan. 

Oleh atasannya itu, Ishak diminta ikut pergi ke tempat yang belum diketahuinya. Untung menunjuk pemimpin regu baru untuk menggantikan posisi Ishak yang ia tarik jadi ajudan. 

“Saya bawahan hanya menaati perintah atasan. Diajak ke mana oleh Pak Untung saya ikut,”katanya

Meski perintah Untung menyisakan teka teki baginya, Ishak tak berani bertanya. 

Ia masuk mobil yang ditumpangi Untung dan pergi meninggalkan pasukan pengawal. 

Belakangan Ishak sadar rute yang dilalui kendaraannya menuju tengah hutan atau di kenal kawasan lubang buaya. Perasaannya semakin tak enak. Namun tak mungkin ia berontak. Ia memilih mengubur pertanyaan yang menjejali pikirannya. 

Tempat yang didatanginya ternyata telah dipadati orang-orang militer. 

Kurang dari 150 prajurit Cakrabirawa dibagi ke dalam beberapa kelompok. 

Mereka disebar untuk mengambil para jenderal kontrarevolusi menggunakan truk.  

Tersiar kabar di kalangan pasukan, para jenderal itu dijemput agar menghadap Presiden Soekarno, pemimpin besar revolusi.

Beberapa saat kemudian, 1 Oktober 1965 dini hari, para pasukan Cakrabirawa kembali ke lubang buaya usai menjalankan misi menjemput jenderal. 

Namun ada yang di luar dugaannya. Ishak terkejut melihat beberapa jenderal yang diturunkan dari mobil dalam kondisi meninggal. 

Jasad para jenderal itu dibawa ke sebuah sumur untuk dipendam.

“Bukannya jenderal-jenderal itu harusnya dibawa hidup-hidup untuk menghadap Presiden, kenapa ini pada mati. Wah, ini bisa bahaya,” katanya.

Ishak mengungkapkan lubang buaya saat itu dipenuhi aparat militer. Ia tidak melihat ada masyarakat sipil menyelinap di situ. 

Nyanyian Genjer-Genjer yang sering dikaitkan dengan tragedi lubang buaya juga tak didengarnya di tempat itu. 

“Saya kira tidak ada ya warga sipil di situ. Saya juga gak dengar lagu itu. Tapi saya tidak tahu kalau yang di dalam sana,”katanya

Selamatkan tawanan polisi

Bersamaan dengan penurunan jasad para jenderal, beberapa pasukan menurunkan seorang pria tawanan dari truk.  

Dialah Sukitman, seorang Agen Polisi yang ikut diangkut ke dalam truk bersamaan dengan pengambilan para jenderal. 

Sukitman sedianya akan dieksekusi di lubang buaya menyusul jenderal yang telah mati duluan.  

Ishak ditugasi untuk menembak mati Sukitman di tempat itu karena dianggap ikut bermasalah. 

Namun Ishak tak langsung menodongkan bedil. Ia khawatir, polisi itu hanya korban salah tangkap. Sukitman mengiba agar diloloskan dari maut. 

Ia meyakinkan tidak ada urusan antara dia dengan jenderal yang dianggap kontrarevolusi. 

Ia hanya kebetulan melewati kediaman Mayor Jenderal Donald Isaac Pandjaitan saat pasukan Cakrabirawa menyergap rumah itu.  Pandjaitan adalah satu di antara jenderal yang tertembak mati dalam upaya penjemputan pasukan Cakrabirawa pada 1 Oktober 1965 dini hari. 

Ishak lebih mempercayai pengakuan Sukitman ketimbang mengikuti arahan untuk membunuh polisi itu. 

Saat perhatian pasukan lain beralih, Ishak segera menyembunyikan Sukitman ke dalam mobil jip yang dikendarainya. 

“Saya suruh diam di situ atau tidur di dalam jip agar tak ketahuan pasukan,”katanya

Sumur untuk mengubur jasad para jenderal telah diratakan dengan tanah. Sebagian besar prajurit pergi. Ketegangan di lubang buaya memudar, berubah menjadi tenang. 

Di tempat itu, hanya tertinggal segelintir pasukan dan sopir truk Cakrabirawa yang masih terparkir. 

Karena tak ada lagi kepentingan di tempat itu, Ishak memimpin sopir-sopir itu kembali ke istana. 

Sukitman yang masih sembunyi di kolong jib ikut terangkut ke istana. Ia pun selamat dari maut. 

“Jadi saya yang sembunyikan Sukitman hingga dia selamat. Tidak benar jika dia selamat karena meloloskan diri dari lubang buaya,” katanya 

Derita selama di penjara

Ishak Bahar di rumahnya di Purbalingga, Jawa Tengah. Foto oleh Irma Muflikhah/Rappler

Hanya berselang jam usai pulang dari lubang buaya, 1 Oktober 1965, Ishak ditangkap dan dijebloskan ke panjara bersama anggota Cakrabirawa lainnya. 

Ishak yang saat itu berusia 29 tahun ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang tanpa melalui proses peradilan.  Tujuh belas hari kemudian, Ishak dipindahkan ke Lapas Salemba. 

Ishak meninggalkan seorang istri yang belum lama dinikahinya dan telah mengandung satu bulan. 

Berbagai perlakuan tak manusiawi kerap diterimanya selama di dalam tahanan, mulai dari siksaan fisik hingga dibuat kelaparan. 

“Saya digebuki itu sudah biasa. Tidak diberi makan dan minum berminggu-minggu juga pernah. Saya menyadari, saya orang kalah, orang yang dipersalahkan di negara manapun itu, akan mendapatkan perlakuan begini, saya sadar itu,” katanya

Siksaan paling pedih yang ia rasakan di dalam penjara adalah tak diberi makan yang layak hingga membuatnya sering menahan lapar. 

Makanan yang biasa ia dapatkan adalah biji jagung rebus yang disebar ke tahanan. 

Jumlah biji jagung yang ia dapatkan sekali makan hanya sekitar 120 hingga 150 butir. Ia kerap iseng menghitungnya saat tidak ada kerjaan. 

“Seratus lima puluh butir itu kalau dikumpulkan gak ada satu buah jagung utuh. Boro-boro nasi, yang di luar saja sulit cari makan karena  ekonomi susah,  apalagi yang di dalam penjara,”katanya

Tak heran, kata Ishak, antara tahun 1965 atau 1966, hampir setiap hari ada 10 hingga 15 tahanan mati di dalam penjara karena sakit atau kelaparan. 

Tubuh Ishak yang semula gempal berubah kurus kerontang, tinggal tulang berbalut kulit. Hanya dalam waktu dua tahun, berat badannya yang semula 75 kilogram turun drastis menjadi 40 kilogram. 

Hingga pada tahun 1970,  Persatuan Bangsa bangsa (PBB) turun tangan untuk membantu memikirkan nasib tahanan di Indonesia. Sejak saat itu, nasib para tahanan lebih diperhatikan oleh pemerintah. 

“Setelah PBB turun, agak mending nasib kami. Makannya sudah mulai ada nasi dengan lauk ikan asin,”katanya

Tiga belas 13 tahun kemudian, Ishak bisa menghirup udara segar. Tak mudah baginya menjalani hidup baru sebagai seorang mantan tahanan Cakrabirawa. Terlebih, kampanye Gerakan 30 September/PKI oleh penguasa waktu itu begitu masif dengan salah satu aktor di dalamnya pasukan Cakrabirawa. 

Ia keluar penjara tanpa lagi menyandang pangkat. Harta bendanya lenyap. Yang lebih menyedihkan, istrinya telah dikawin orang. Anaknya yang telah menginjak dewasa tak mengenalnya waktu itu karena ditinggal sejak dalam kandungan. 

Ishak akhirnya memutuskan kembali ke tanah kelahiran, Purbalingga untuk memulai hidup baru dan menutup lembaran kelam masa lalu. 

Ia menjadi buruh cangkul untuk bertahan hidup. 

“Pangkat hilang, harta lenyap, istri minggat. Saya gak punya apa-apa lagi. Tapi saya tetap semangat menapaki hidup,”katanya

Ishak Bahar mengatakan dia adalah satu dari dua pengawal Soekarno yang kini masih hidup. Seorang anggota Cakrabirawa lain, Sulemi, juga masih hidup dan tinggal di Purbalingga. 

Sulemi adalah bawahan Ishak di Resimen Cakrabirawa yang ditugaskan menjemput Jenderal Abdul Haris Nasution oleh Komandan Batalyon Cakrabirawa Letkol Untung bin Samsuri pada 1 Oktober 1965 dini hari.  

Sementara seorang mantan Cakrabirawa asal Purbalingga lainnya, Masruri, yang bertugas menjemput Mayor Jenderal Suprapto meninggal belum lama ini. 

Ishak tentu saja enggan dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dituding mendalangi penculikan para jenderal. Ia bahkan mengaku tak mengenal partai itu selama jadi prajurit. 

Ia dan anggota Cakrabirawa lain hanya menjalankan perintah atasan sebagaimana doktrin prajurit. 

“Urusan politik saya tidak tahu menahu ya. Wong saya cuma diperintah atasan ya nurut saja,”katanya. – Rappler.com