Pengalihan subsidi BBM: Dipaksa berkorban oleh pemerintah

Pangeran Siahaan
Tiga juta enam ratus empat puluh delapan ribu rupiah. Itulah sejumlah uang ekstra yang harus dikeluarkan akibat kenaikan harga BBM bersubsidi

 

BBM NAIK. Seorang petugas SPBU mengisi BBM untuk kendaraan beberapa jam sebelum pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi pada Selasa, 18 November 2014, dini hari. Foto oleh Romeo Gacad/AFP

Pemerintah ini memang keterlaluan. Baru sebentar saja menjabat, sudah mengacaukan kehidupan ekonomi saya dan teman-teman. 

Saya sudah melihat berbagai analisa dan hitung-hitungan berbagai pakar ekonomi di televisi yang rasanya tidak mewakili kalkulasi saya dan teman-teman. Dengan semangat ala ekonom Ichsanuddin Noorsy, izinkan saya menuliskan analisa ekonomi sendiri. 

Dikuranginya subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang menyebabkan harga premium naik dari Rp 6.500 menjadi Rp8.500 memberikan pukulan yang cukup telak bagi gaya hidup kami. Sekilas memang kenaikannya tidak drastis, hanya dua ribu perak, tapi saya ingin menjelaskan betapa selisih angka itu berpengaruh besar bagi kami.

Setiap pekan saya harus mengisi mobil dengan premium sebanyak 38 liter. Waktu harga premium masih Rp 6.500 per liter, jumlah yang harus saya bayar setiap berkunjung ke SPBU adalah 38 x Rp 6.500 = Rp 247.000.

Jika dikalikan 4 pekan, maka setiap bulan anggaran belanja saya untuk mengisi BBM adalah Rp 988.000. 

Dinaikkan harga premium berpengaruh besar. Dengan harga baru Rp 8.500 per liter, maka uang yang harus saya keluarkan setiap mengisi bensin sampai penuh adalah 38 x Rp 8.500 = Rp 323.000.  

Jika dikalikan 4 pekan, maka sekarang setiap bulan uang yang harus saya keluarkan adalah Rp 1.292.000.

Uang yang harus saya bayarkan karena kenaikan harga BBM ini adalah Rp 1.292.000 – Rp 988.000 = Rp 304.000 tiap bulannya.  

Seandainya jumlah konsumsi BBM Anda per pekan sama seperti saya, bayangkan apa yang bisa anda beli setiap minggu dengan Rp 304.000. 

Anda bisa dapat 8 burger Big Mac

atau

6 gelas Starbucks grande frappucino

atau

4 mangkuk ramen Hokkaido

atau

2 loyang pizza berukuran besar

atau

1 potong baju diskon di Zara.

Dengan menaikkan harga BBM, maka pemerintah telah merampas hak Anda dan teman-teman untuk menikmati privilese kelas menengah. 

Ilustrasi oleh Muhammad Reza/Midjournal

Kebijakan pemerintah ini diskriminatif dan tidak bersahabat kepada kalangan lain, seperti kalangan pecandu rokok. Kenaikan harga BBM ini telah merenggut hak mereka untuk mengisap tembakau karena bayangkan jika selisih kenaikan harga BBM ini dikonversi ke dalam kotak rokok, sudah berapa bungkus rokok yang bisa anda beli dengan Rp 304.000?

Golongan lain yang akan merasakan dampak langsung dari kenaikan harga BBM ini adalah kalangan partygoers dan clubbers. Dengan Rp 304.000 di tempat ajojing yang paling glamor di Jakarta, Anda bisa dapat 5-6 botol bir. Jumlah botol ini bisa meningkat menjadi 8-9 botol jika Anda pergi ke tempat yang lebih murah.  

Belum lagi kalau kita berbicara mengenai liquor shot atau minuman beralkohol lainnya. Bayangkan berapa shot tequila yang bisa anda dapatkan dengan Rp 304.000?  

Pikiran saya langsung tertuju kepada mereka yang akan pergi ke rave party bulan depan dan harus mengencangkan ikat pinggang. Pemerintah memaksa rakyatnya untuk berkorban.

Bahkan jika hitung-hitungan ini ingin ditarik ke dalam jangka yang lebih panjang, maka pengaruhnya semakin masif kepada kehidupan kita. Jika selisih harga konsumsi BBM saya yang Rp 304.000 itu dikalikan dengan 12 bulan, maka uang ekstra yang harus saya keluarkan sekarang untuk membeli premium setiap tahun menjadi Rp 3.648.000.

Tiga juta enam ratus empat puluh delapan ribu rupiah!

Dengan uang itu, anda bisa membayar cicilan iPhone 6. Apa pemerintah tidak sadar kalau ada kebutuhan dasar untuk terus memperbarui gadget yang harus kami penuhi?

Dengan angka demikian pun, anda juga bisa membeli tiket untuk jalan-jalan ke negara tetangga, berfoto di depan Merlion, dan membeli oleh-oleh kaus “Singapore is a fine city” untuk teman-teman kantor. Anda juga bisa memakai jumlah uang tersebut untuk membeli alat hiburan seperti Playstation atau Blu-Ray DVD player. Jika Anda ingin punya kendaraan pun, uang tersebut bisa dipakai untuk mencicil motor.

Namun anda tak bisa lagi melakukan hal-hal tersebut karena kebijakan pemerintah mengharuskan Anda untuk mengalokasikan uang tersebut untuk membeli premium yang subsidinya sudah dikurangi. 

Oleh karena itu, saya menuntut agar pemerintah meninjau ulang kebijakan pengurangan subsidi BBM ini yang jelas-jelas telah memberatkan kehidupan saya dan teman-teman.

Saya sudah dengar berbagai argumen dan pembelaan yang disampaikan sebagai dasar dari pengurangan subsidi BBM ini.

Katanya, cadangan minyak bumi Indonesia mengalami penurunan dari 3,74 miliar barel di awal 2012 menjadi 3,59 miliar barel di tahun 2013 dan jika tidak ada eksplorasi baru, maka Indonesia akan kehabisan cadangan minyak dalam 12 tahun mendatang. 

Katanya, subsidi BBM ini tadinya jumlahnya melebihi subsidi bidang lain. Subsidi BBM mencapai 714 triliun, sementara subsidi infrastruktur 577 triliun dan subsidi kesehatan hanya 202 triliun. 

Katanya, benefit dari subsidi BBM ini hanya dinikmati oleh masyarakat pengguna mobil pribadi yang tergolong mampu yang jumlahnya lebih dari separuh, sedang 40 persen sisanya dinikmati pengguna sepeda motor.

Katanya, pengurangan subsidi BBM ini akan berujung pada penghematan APBN yang menyebabkan pemerintah punya dana yang cukup untuk membangun sarana pelayanan publik yang lebih banyak seperti, jalan raya, sarana transportasi, eksplorasi laut, pengembangan kawasan pedesaan, dan peningkatan lapangan kerja.

Katanya, pengalihan subsidi BBM ini akan memberikan dana sebesar Rp 291,5 triliun kepada pemerintah tahun depan dan dana tersebut bisa digunakan untuk puluhan rumah sakit, ribuan sekolah, puluhan ribu kilometer jalan raya, dan ribuan kilometer rel kereta api.

Katanya, dana hasil pengurangan subsidi BBM bisa diubah menjadi dana masing-masing Rp 1,4 miliar untuk 65.714 desa di seluruh Indonesia dan membangun berbagai sarana dan prasarana yang akan menyejahterakan hidup banyak orang. 

Sekarang saya mau tanya, apalah arti berbagai alasan di atas selain itu semua hanya fakta belaka? —Rappler.com

Pangeran Siahaan adalah seorang penulis dan co-founder Provocative Proactive. Follow Twitternya di @PangeranSiahaan.

 Artikel ini sebelumnya diterbitkan oleh Midjournal.com.