Selamat dari tsunami, kepala desa dobrak tradisi bangun pemukiman di Aceh

Nurdin Hasan
Selamat dari tsunami, kepala desa dobrak tradisi bangun pemukiman di Aceh
Desa Lambung di Banda Aceh kini tampak tertata rapi. Desa yang sebelum tsunami merupakan desa kumuh telah menjadi desa percontohan karena berhasil ditata rapi dan bersih.

BANDA ACEH, Indonesia –  Zaidi M. Adam bersama 23 rekannya sedang menggiring kawanan ikan di tengah lautan Samudera Hindia. Tiba-tiba, air laut seperti berpusar. Perahu yang mereka tumpangi tak bisa melaju, hanya mengikuti pusaran air. Para nelayan itu kebingungan. Kawanan ikan, yang siap dijaring, lenyap seketika, tanpa bekas.

Sekitar 10 menit kemudian, mereka mendapat kabar melalui radio bahwa di dataran Provinsi Aceh telah terjadi gempa sangat dahsyat. Awalnya kekuatan gempa pada  Minggu pagi, 26 Desember 2004, itu dicatat 8,9 skala richter. Tetapi, para ilmuan kemudian merevisi kekuatannya menjadi 9,3 skala richter.

Perahu pukat merekaarahkan agak ke selatan untuk mencari kawanan ikan. Yang dicari hilang bagai ditelan bumi. Mereka terus memacu perahu ke lautan seputaran Lho Nga. Tiba-tiba, terdengar tiga ledakan keras. 20 menit berselang, Zaidi, yang kini berusia 52 tahun, dan rekan-rekannya menyaksikan gelombang menjulang, laksana dinding. Dataran Aceh hilang dari pandangan. Gelombang melaju cepat menghantam pesisir.

“Puncak gelombang seperti peluru yang melaju sangat kencang. Waktu itu, saya pikir daerah Lhok Nga pasti habis diterjang gelombang. Saya belum tahu kalau gelombang itu adalah tsunami,” kenang Zaidi saat diwawancara di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Desa Lambung, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Minggu (16/11) petang, hampir 10 tahun sejak tsunami meluluhkan desanya.

Zaidi menyaksikan beberapa gelombang tinggi yang datang silih berganti, menerjang daratan. Perahu mereka berhasil melewati setiap gelombang. “Tapi, ada beberapa perahu yang digulung gelombang dan tak terlihat lagi,” tuturnya, dengan wajah menyiratkan kesedihan karena di dalam perahu yang hilang itu terdapat warga desanya.

Lho Nga adalah kecamatan di Kabupaten Aceh Besar, sekitar 20 kilometer dari pusat ibukota Banda Aceh. Di sini, terdapat pantai pasir putih Lampu’uk, yang setiap akhir pekan ramai dikunjungi warga. Ada juga beberapa pantai lain, seperti Pantai Kapok dan Taman Tepi Laut. Dekat pantai Lho Nga, berdiri megah pabrik semen milik PT Semen Andalas Indonesia (SAI).

Akibat tsunami, jejeran pohon cemara yang rimbun di sepanjang pantai tercerabut hingga ke akarnya. Kini, cemara kini telah tumbuh lagi. Di kawasan Lampu’uk, hanya Masjid Rahmatullah yang masih berdiri tegak, saat seluruh bangunan rata tanah disapu tsunami. Pabrik PT SAI juga hancur total. Kini, PT SAI telah beroperasi lagi dan berganti nama menjadi Lafarge Cement Indonesia. 

Sempat ingin bunuh diri

Masjid Baiturrahim mash berdiri tegak di antara reruntuhan perumahan di Meulaboh, Aceh. Foto oleh AFP.

Akhirnya, mereka memutuskan pulang. Dalam perjalanan ke Pelabuhan Ulee Lheue, mereka melihat kulkas, kasur, lemari, pakaian, dan benda-benda lain yang terapung di lautan. Mereka semakin dilanda kebingungan dan kekhawatiran. Dari kejauhan tak terlihat perkampungan nelayan yang padat. Hanya Masjid Baiturrahim dekat pantai Ulee Lheue, yang masih berdiri.

Sedangkan di Lambung, desa yang dipimpin Zaidi sejak 2001, dan desa-desa nelayan lain di Meuraxa, rata dengan tanah. Di Lambung, hanya sebuah rumah berlantai dua masih berdiri. Hingga kini rumah itu tetap dibiarkan, tak direhab, sebagai monumen. Di samping rumah, telah dibangun tempat bermain anak-anak, masjid desa, escape building, dan gedung olah raga.

Puing-puing dan tumpukan sampah tsunami di bibir kuala Ulee Lheue membuat perahu yang ditumpangi Zaidi dan rekan-rekannya tak bisa melintas. Mereka balik arah ke pelabuhan Lampulo – tak begitu jauh dari pusat kota Banda Aceh. Di sini, kondisinya tak jauh beda. Perahu mereka tak bisa melintas. Lalu sebuah perahu kecil lewat. Zaidi dan dua rekannya minta menumpang. Segera mereka masuk ke pelabuhan Lampulo.

Dengan berjalan kaki di antara sampah dan jejeran mayat di jalan, Zaidi dan seorang rekan sedesanya bertekad pulang ke rumah. Di halaman Masjid Raya Baiturrahman yang terletak di pusat kota Banda Aceh, mereka bertemu seorang warga Lambung. Ia bilang agar Zaidi tak pulang lagi ke desanya, yang berjarak sekitar tiga kilometer dari Masjid Raya Baiturrahmah, karena semuanya telah hancur, rata tanah.

“Saya tak peduli. Saya ajak rekan sesama nelayan untuk melihat dengan mata sendiri kondisi desa. Kami terus berjalan,” katanya. 

“Begitu tiba di desa, saya sempat ingin bunuh diri karena semuanya telah hancur. Tetapi, saya juga berpikir bagaimana jika istri dan anak saya selamat. Saya juga melihat kawan saya sangat terpukul. Akhirnya kami memutuskan kembali ke kota dan malam itu menginap di jalan dalam keadaan gelap gulita.”

Sepekan mencari, akhirnya Zaidi menemukan putri sulungnya Sifa Ul Husna, 8 tahun, di Rumah Sakit TNI di Banda Aceh, dalam keadaan luka parah. Ia putuskan membawa Sifa ke Medan, ibukota Provinsi Sumatera Utara, guna mendapat perawatan intensif. Dua hari di Medan, Zaidi pulang ke Aceh. Sifa ditinggalkan bersama keluarganya di sana. Tiba di Banda Aceh, Zaidi bertemu Sekretaris Desa Lambung yang selamat dari tsunami.

Segera dia mengumpulkan warganya untuk bersatu di tempat pengungsian dan tidak berpencar-pencar lagi. Dua minggu kemudian, 55 warga yang selamat memutuskan pulang ke desanya. Mereka membangun barak pengungsian 20 x 8 meter dari kayu sisa sampah tsunami. Seiring waktu, warga lain pulang ke kampungnya dan tinggal bersama di pengungsian.

”Begitu tiba di desa, saya sempat ingin bunuh diri karena semuanya telah hancur. Tetapi, saya juga berpikir bagaimana jika istri dan anak saya selamat”

Dari 2.000 lebih warga Lambung, hanya 320 orang selamat. Sebagian dari mereka tak berada di desa ketika tsunami menghantam. Istri dan dua anak Zaidi turut menjadi korban. Sama seperti warga lain yang tewas, mayat mereka tak pernah ditemukan.

Mendobrak tradisi

Zaidi dan perangkat desa yang selamat dari bencana tsunami berbagi tugas. Yubahar Zaidi, seorang tokoh desa yang disegani, mendapat tugas menangani pengungsi. Saat tsunami menerjang, bekas anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) tersebut dalam perjalanan pulang dari Jakarta ke Banda Aceh. Istri, tiga anaknya, ibu kandung, mertua, adik kandungnya, dan dua pembantu rumahnya tewas. Mayat mereka tidak pernah ditemukan.

“Sebenarnya saya pulang tanggal 25 Desember. Karena masih ada urusan di Jakarta, saya tukar tiket pesawat dengan seorang kawan saya. Kawan saya itu juga hilang diterjang tsunami,” kata Yubahar, saat diwawancara di rumahnya yang terletak tepat di depan escape building yang dibangun Pemerintah Jepang, Minggu (16/11).

Yubahar kini telah menikah lagi dengan adik kandung mantan istrinya. Mereka telah dikarunia dua anak. Meski usianya telah 69 tahun dan perokok berat, Yubahar masih terlihat kuat dan sehat. Bicaranya tegas dan jelas. Ketika menjelaskan panjang lebar cara warga Lambung menata kembali desanya, Yubahar tak henti merokok, asapnya mengepul ke udara.

“Sebelum tsunami, Lambung suatu perkampungan sangat crowded dan kumuh. Jalan desa sempit. Hujan sedikit saja, langsung banjir karena tak ada got. Letak desa kami juga sangat rendah,” kata Yubahar, yang membuka kios di rumahnya.

Menurut dia, kekuatan perubahan Lambung karena kepemimpinan Keuchik (kepala desa) Zaidi yang tegas dan ingin menata desa jadi lebih baik dan teratur. “Dia hendak membuat Lambung seperti perkampungan real estate meski kami melawan hukum karena merombak total letak tanah dan kepemilikannya,” katanya.

Desa Lambung di Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, kini tampak tertata rapi. Desa yang sebelum tsunami merupakan desa kumuh telah menjadi desa percontohan karena berhasil ditata rapi dan bersih. Foto diabadikan pada 16 November 2014.  Foto oleh Nurdin Hasan/Rappler

Zaidi mengisahkan keinginannya untuk mengubah desa bukan tanpa tantangan. Saat idenya disampaikan pada warga, banyak yang memprotes. Apalagi desa-desa sekitar telah mulai dibangun rumah bantuan, sementara Lambung masih bermusyawarah.

“Musyawarah berlangsung beberapa bulan. Saya undang semua warga yang selamat datang ke rapat-rapat desa melalui radio dan koran,” kata Zaidi. “Yang paling lama adalah memindahkan 109 kuburan. Sebelum tsunami, kuburan terletak berpencar-pencar. Malah ada kuburan di belakang rumah warga.

“Saya pertama sekali memindahkan kuburan orang tua saja. Dalam adat orang Aceh, hal itu dianggap sesuatu yang tabu. Sempat terjadi perdebatan sengit saat rapat, tapi saya tetap sudah komit untuk menata desa modern.”

“Setelah selesai pembuatan peta desa yang baru dengan tata letak lebih baik, saya bagi tanah dengan tetap mempertimbangkan kepemilikan sebelum tsunami. Kepada warga yang dulu miskin, kami memberi tanah seluas 150 meter persegi. Kalau dulu dia orang kaya, luasnya lebih dari itu. Warga juga rela tanahnya diambil untuk jalan-jalan desa dan pembuatan got,” jelasnya.

Setelah seluruh warga sepakat, pembangunan rumah tak segera dimulai. Beberapa warga desa tetangga “sempat mencibir karena ide saya dianggap gila sebab menolak tawaran beberapa NGO yang datang ingin membangun rumah.”

Tahap pertama dibangun adalah jalan dan got desa. Saat itu, Jepang menawarkan escape building berlantai tiga di Lambung. Pembangunannya dikerjakan bersamaan dengan pembangunan jalan dan got. Jalan utama desa dibangun dua jalur yang lebar delapan meter. Sedangkan, lorong-lorong desa lebarnya tiga meter. “Kalau sekarang ada lorong bengkok, itulah masalah dari warga yang dulu menolak,” kata Zaidi.

Memang terjadi perubahan karena bisa jadi rumahnya dulu di sini, sekarang pindah ke lokasi lain. “Tetapi, yang terpenting adalah desa saya sekarang tak lagi kumuh dan tertata rapi,” kata Zaidi yang baru saja pulang dari Jepang untuk menjelaskan kepada warga korban bencana tsunami Jepang bagaimana cara dia merombak desa. Dia dan beberapa kepala desa asal Aceh diundang Pemerintah Jepang selama tiga pekan.

“Malah awalnya BPN [Badan Pertanahan Nasional] sempat tak berani mengeluarkan sertifikat tanah karena saya telah merombak total desa kami. Tapi, setelah dijelaskan bahwa ini kesepakatan seluruh warga, baru mereka mengeluarkan sertifikat.”

Akhirnya setelah jalan dan got selesai, langkah berikutnya yang ditempuh menimbun desa hingga 1,5 meter. Pembangunan rumah dimulai pada 2007, yang letaknya lebih tinggi dari jalan. Jumlah rumah yang dibangun 320 unit, sesuai dengan jumlah kepala keluarga.

Kini, Lambung tertata rapi. Di tengah jalan dua jalur telah ditanami pohon yang tinggi sudah semeter. Rumah-rumah warga telah punya halaman berdiri teratur. Beberapa rumah sudah diperluas oleh pemiliknya. Setiap sore, anak-anak yang sebagian besar terlahir setelah tsunami bermain di escape building dan taman desa. Mereka terlihat begitu ceria.

Zaidi juga telah menikah lagi. Tapi, pasangan ini belum dikarunia anak. Setiap sore, ia sering menghabiskan waktu di TPI Lambung. Dia tak lagi melaut karena telah punya sebuah perahu yang dikelola warganya.

Putrinya, Sifa, yang selamat dari bencana tsunami kini kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Zaidi mengaku tak pernah bertanya kepada Sifa bagaimana dia selamat dari terjangan tsunami. Sifa pun tidak pernah bercerita pada ayahnya. – Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.