Kilas balik 3 dekade organisasi LGBT Indonesia bersama Dede Oetomo

Kartika Ikawati
Kilas balik 3 dekade organisasi LGBT Indonesia bersama Dede Oetomo
Tanggal 1 Maret kemarin adalah hari solidaritas LGBTIQ nasional. Seperti apakah gerakan perjuangan para gay di Indonesia selama 3 dekade? Pegiat organisasi LGBT Dede Oetomo menuturkan pada Rappler cikal bakal dan perjalanan organisasi tersebut.
SURABAYA, Indonesia — Sejak tahun 2000, setiap tanggal 1 Maret diperingati sebagai Hari Solidaritas LGBTIQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Interseks, Queer) Nasional. Peringatan ini merujuk pada pendirian Lambda Indonesia sebagai organisasi gay terbuka pertama di Indonesia yang lahir pada 1 Maret 1982. 
Tapi tahukah anda, bagaimana awal mula organisasi itu berdiri?
Lambda Indonesia yang waktu itu memiliki sekretariat di Solo, bisa dianggap sebagai cikal bakal gerakan LGBTIQ Indonesia. Karena setelah Lambda Indonesia berdiri, mulai muncul organisasi LGBTIQ lainnya di berbagai kota lain seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan kota-kota lainnya.
Berawal dari sebuah surat 
Sejak awal, Lambda Indonesia sudah terbuka ke publik. Mereka mengirimkan siaran pers berupa surat pembaca ke berbagai media baik di Indonesia maupun di luar negeri. 
Dede Oetomo, salah satu pendiri organisasi, mengatakan, saat itu Lambda Indonesia mirip organisasi dunia maya yang ada saat ini. “Dulu belum ada Internet, jadi dulu kita kirim surat pakai kotak pos,” ujarnya pada Rappler Indonesia, Selasa, 3 Maret.
Walau sekretariat berada di Solo, anggota Lambda Indonesia tersebar di berbagai kota, termasuk Dede yang waktu itu berada di kota kelahirannya, Pasuruan, Jawa Timur. Sayangnya organisasi ini tak berumur panjang. Pada tahun 1986 Lambda Indonesia mengadakan pertemuan terakhirnya di Surabaya.

Tak ingin perjuangan Lambda Indonesia berakhir begitu saja, Dede pun mendirikan organisasi serupa. Tepat pada 1 Agustus 1987, GAYa Nusantara (GN) berdiri di Surabaya. Penulisan GAYa sengaja ditulis berbeda, untuk menunjukkan identitas “gay”. 

Tujuan pendirian GN tak jauh-jauh dari Lambda Indonesia. Selain memperjuangkan hak-hak LGBTIQ, organisasi ini juga sebagai wadah untuk para LGBTIQ berkomunikasi dan menjalin pertemanan.

Menjamur ke seluruh penjuru tanah air 

Selain di Surabaya, ada lagi organisasi yang terinspirasi dari pendirian Lambda Indonesia, yaitu Persaudaraan Gay Yogyakarta (PGY) yang berdiri pada tahun 1985. PGY ini kemudian sepakat untuk berubah menjadi IGS (Indonesian Gay Society) di tahun 1988. IGS inilah yang memunculkan ide awal untuk mendeklarasikan tanggal 1 Maret sebagai Hari Solidaritas Gay dan Lesbian Nasional. 

Seiring berjalannya waktu, sinergisitas perjuangan gay, lesbian, biseksual, dan transgender dirasa perlu dijadikan dalam satu tema besar dalam rangka pemenuhan hak dalam masyarakat, karena itu Hari Solidaritas Gay dan Lesbian Nasional diubah namanya menjadi Hari Solidaritas LGBTIQ Nasional. 

Peringatan ini pada dasarnya adalah sebuah momentum untuk membangun solidaritas dan menyegarkan kembali cita-cita para LGBTIQ untuk bersama-sama menyuarakan sebuah tuntutan. 

Menurut Dede, selama ini masih banyak komunitas LGBTIQ yang masih mengalami diskriminasi. Padahal sebagai manusia, LGBTIQ memiliki hak yang sama sebagaimana warga negara lainnya. Sayangnya komunitas LGBTIQ  sendiri masih jarang yang mengetahui peringatan ini, apalagi masyarakat awam.  

Setelah Lambda Indonesia bubar di tahun 1986, GAYa Nusantara mulai menjadi pelopor pergerakan LGBTIQ, tak hanya di Surabaya tapi juga di kota lain. Nama GAYa menjadi inspirasi untuk nama organisasi serupa. Ada GAYa Betawi di Jakarta, GAYa Priangan di Bandung, GAYa Delta di Sidoarjo, ada juga GAYa Celebes di Makassar.

Melayani konseling hingga pencegahan HIV & AIDS

Tidak seperti organisasi lainnya, GN tidak menghimpun anggota. GN memilih berbentuk yayasan yang menyediakakan berbagai layanan. Mulai dari penerbitan majalah bulanan, konseling, kampanye pencegahan HIV & AIDS, hingga kursus gender dan seksualitas. 

“Kita bikin kursus gender dan seksualitas untuk para public figure, para dosen, aktivis atau siapapun yang berminat untuk menyebarkan pengetahuan LGBTIQ kepada kelompoknya,” ujar Sardjono Sigit, salah satu pengurus GN.

Sayangnya kursus gender dan seksualitas yang diadakan GN bukan program rutin. Hingga saat ini program itu belum digelar lagi. “Kita masih ada kampanye, talk show bagi-bagi brosur apa itu LGBTIQ, kita berusaha semaksimal mungkin memberikan edukasi ke publik agar mereka tahu dan memahami sebetulnya LGBTIQ itu apa,” tambah Sigit.

Dede Oetomo menilai program-program yang dijalankan oleh GN saat ini cukup berkembang. GN menjadi pusat informasi masyarakat untuk mengenal lebih dalam tentang LGBTIQ. 

Rata-rata yang datang ke kantor GN di Jalan Mojo Kidul Surabaya adalah kalangan pelajar, mahasiswa, dosen dan aktivis. Menariknya baru-baru ini lembaga non-profit ini juga dikunjungi salah satu orang tua yang anaknya gay. “Konseling terakhir ini yang bikin saya senang, ada orang tua yang mengajak anaknya agar menjadi gay yang baik. Mereka ingin anaknya tidak sembunyi-sembunyi menjadi gay,” ungkap Dede.

Sebuah kebanggan sendiri bagi pria kelahiran 6 Desember 1953 ini melihat ada orang tua yang mau mengajak anaknya konsultasi di GN. Mengingat mayoritas orang tua dan keluarga pada umumnya enggan melihat anaknya menjadi LGBTIQ. 

Selain memfasilitasi pemberian informasi dan konseling di tingkat lokal, GN juga menjalin kerjasama dengan dunia internasional. GN menjadi anggota International Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender dan Intersex Association (ILGA), bekerja sama dengan UNDP PBB, dan beberapa organisasi internasional lainnya yang memiliki visi misi serupa.

Setelah berjuang 3 dekade, diskriminasi itu masih ada

Hampir 28 tahun GN berjuang membela hak-hak LGBTIQ di Surabaya dan daerah lainnya. Namun, masih ada saja diskriminasi yang diterima oleh kalangan minoritas tersebut. Menurut Dede, saat LGBTIQ tidak bisa terbuka (coming out) pada keluarga dan lingkungannya, itu sudah bisa digolongkan sebagai diskriminasi.

Ada juga diskriminasi dalam hal pekerjaan terutama bagi transgender atau waria. Selama ini pilihan pekerjaan waria di Surabaya sangat terbatas, mereka hanya bisa menghidupi diri dengan ngamen, salon dan mejeng (pekerja seks). (BACA: Vanessa tidak takut mati)  

Tak hanya waria saja yang mendapat diskriminasi di bidang pekerjaan, kalangan gay dan lesbian pun mengalami hal yang sama. Ada kasus seorang gay yang dikucilkan dan dikeluarkan dari tempat kerjanya karena coming out di lingkungan kerja. Sehingga mayoritas gay dan lesbian lebih memilih untuk tidak mengungkapkan identitasnya ke dunia pekerjaan. 

Ada juga diskriminasi dalam hal agama, transgender diusir dari masjid, dipaksa memakai celana, dan masih banyak lagi hal lainnya. Namun dari semua diskriminasi yang diterima, yang paling menakutkan datang dari kalangan keluarga. (BACA: Sebuah asa di pesantren waria Yogyakarta

Banyak keluarga yang tidak mau tahu, tidak mau belajar tentang kondisi yang dialami anaknya yang LGBTIQ.  Bahkan ada kasus seorang lesbian yang dipaksa saudaranya untuk berhubungan intim dengan laki-laki, dan memaksanya menjadi heteroseksual.

Pemerintah sendiri belum berbuat banyak untuk para LGBTIQ di Indonesia. Padahal menurut Dede, jumlah LGBTIQ di setiap negara diperkirakan mencapai 10 persen dari total penduduk. 

“Sebenarnya saya sangat berharap banyak pada pemerintahan Jokowi, tapi nyatanya sampai sekarang Jokowi belum ngomong tuh soal LGBTIQ,” tutur Dede.

Jika dibandingkan dengan negara Asia lainnya, Indonesia mulai tertinggal dalam keterbukaan LGBTIQ. Misalnya saja Thailand yang dikenal sangat toleran terhadap homoseksualitas, India yang memiliki walikota transgender, Taiwan yang memperbolehkan LGBTIQ melaksanakan wajib militer, hingga Vietnam dan Nepal yang saat ini tengah meninjau untuk membuat undang-undang pernikahan sesama jenis. 

“Sebelum tahun 2020 beberapa negara Asia seperti Nepal, Taiwan, Thailand mungkin Vietnam dan Jepang akan melegalkan pernikahan sesama jenis. Mungkin akan duluan Jepang ya, karena ada satu kabupaten di Jepang mulai memperbolehkan warganya untuk mendaftarkan pernikahan sesama jenis,” kata Dede.

Menurut Dede problematika mendasar yang terjadi di Indonesia karena masyarakat tidak berani menghadapi kenyataan. Diskusi terkait kasus 1965 dibubarkan, transgender diusir dari masjid, bahkan konferensi ILGA yang diselenggarakan GN di Surabaya pada tahun 2010, batal digelar karena penolakan masyarakat

“Baru kali itu (Konferensi ILGA) kita didemo, sebelumnya kantor kita nggak pernah didemo. Ya gitu memang kecenderungan masyarakat. Jika ada gay, lesbian atau waria tinggal di sekitarnya sih mereka terima, tapi mereka cuek tidak mau tahu. Tapi ketika teman-teman LGBTIQ berkumpul mengadakan acara besar mereka merasa terganggu,” ujar Dede yang masih aktif mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga, Surabaya.

Perjuangan Terus Berlanjut

Perkembangan zaman yang semakin maju, membuat gerakan LGBTIQ semakin berkembang pesat. Internet dan sosial media menjadi sarana LGBTIQ untuk menyuarakan pendapatnya. 

Proses coming out para kalangan muda terutama kalangan gay pun lebih cepat, di usia SMA mereka mulai berani membuka diri. Walau tak serta-merta membuka diri kepada keluarga, biasanya mereka telah membuka diri di kalangan komunitasnya.

Tempat berkumpul, atau kalangan gay menyebutnya hotspot menjadi semakin banyak ditemukan di Surabaya. Tempat-tempat publik seperti daerah Pataya di Jalan Kangean, Taman Bungkul, Terminal Joyoboyo menjadi jujukan para gay untuk mencari teman baru. 

Ketika semakin banyak orang yang membuka diri, tentunya GN semakin gencar memperjuangkan para LGBTIQ. Apalagi tahun depan tepat 10 tahun perumusan The Yogyakarta Principles. Dokumen tersebut memperjuangkan penghapusan seluruh bentuk diskriminasi berdasarkan orientasi seksual dan identitas gender (SOGI).

“Jadi intinya dokumen itu menafsirkan instrumen hak asasi manusia internasional dengan kacamata SOGI. Misalnya hak untuk punya tempat tinggal, seseorang tidak boleh diusir dari rumahnya karena dia LGBTIQ.  Hak untuk hidup, seorang LGBTIQ tidak boleh dianiya karena identitasnya,” tutur Dede yang pernah menerima Felipe de Souza Award dari International Gay and Lesbian Human Rights Commision (IGLHRC) ini.

Menurut Dede pemahaman soal gender dan seksualitas bisa mulai diajarkan kepada anak sejak dini. Pendidikan seksualitas perlu dikembangkan secara menyeluruh. Mengingat Indonesia sebagai negara Muslim terbesar, GN juga mulai menggandeng beberapa organisasi Islam dan agama lainnya untuk mejadi jembatan penghubung bagi GN dan masyarakat. 

Harapan saya sih nggak muluk-muluk, saya ingin mencari cara bagaimana mendamaikan agama dengan seksualitas yang berbeda, walau bagaimanapun kita kan orang yang beragama,” pungkasnya. —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.