6 taman unik di Bandung yang bisa buat kamu tersenyum

Yuli Saputra
6 taman unik di Bandung yang bisa buat kamu tersenyum
Kota Bandung terkenal dengan wisata belanja dan kulinernya. Tapi tidak hanya itu, Bandung juga menawarkan sisi menarik lainnya, yakni sejumlah taman unik yang nyaman untuk dikunjungi.

BANDUNG, Indonesia —Walikota Bandung, Ridwan Kamil bertekad meningkatkan indeks kebahagiaan warganya. Emil, panggilan akrabnya, merasa khawatir dengan kesehatan jiwa warga Bandung seiring dengan munculnya berbagai persoalan di kotanya.

“Enam ratus ribu warga Bandung stress. Ini kombinasi dari persoalan ekonomi dan kesemerawutan kota,” katanya.

Salah satu solusinya, menurut Emil, adalah dengan memperbanyak ruang terbuka hijau.  Pemerintah Kota Bandung merencanakan akan membuat 30 taman tematik yang dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Kota Bandung dan Corporate Social Responsibility (CSR) sejumlah perusahaan swasta di Bandung.

”(Di Bandung) banyak taman tapi terbengkalai, sehingga untuk mengembalikan interaksi masyarakat ke ruang publik kita harus memperbaiki taman. Harapannya indeks kebahagiaan naik, karena kita sering tersenyum, bertegur sapa, mendengarkan music dan melihat pertunjukan,” harap Emil.

Saat ini, lebih dari 10 taman tematik sudah dibuat oleh Pemkot Bandung. Beberapa di antaranya menawarkan sesuatu yang berbeda. Unik! Rappler memilihkannya untuk anda.

Taman Musik Centrum

 Replika gitar di Taman Musik, Bandung, untuk mengenang para korban yang tewas dalam tragedi konser musik underground di Gedung Asia Africa Culture Center (AACC), 9 Februari 2008 silam. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler

Taman ini terletak di Jalan Belitung Bandung, dekat dengan Sekolah Menengah Umum Negeri 3 Bandung.  Taman yang diresmikan Maret Tahun lalu itu dibuat untuk merespon tingginya antusiasme bermusik di Bandung.

Apalagi Bandung dikenal sebagai kota tempat lahirnya para pemusik handal. Di taman itu disediakan panggung yang boleh digunakan oleh semua genre musik.

Panggung yang berada di tengah taman itu berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 6 meter. Di sekeliling taman seluas 4200 meter persegi itu juga disediakan tempat duduk bagi penonton yang bergaya amphitheatre.

Yang menarik, terdapat berbagai hiasan bertema musik. Ada replika gitar berukuran raksasa serta patung-patung berbahan logam yang sedang memainkan alat musik.

Fasilitas lainnya adalah wifi, lampu, listrik, tempat duduk, lapangan basket dan futsal. Semua fasilitas bisa dimanfaatkan secara gratis, termasuk bila ingin menggelar pertunjukan musik di sana, dengan catatan harus mendaftar terlebih dahulu dan mengurus izin keramaian ke kepolisian.

Output-nya adalah dengan adanya taman musik akan lahir band baru, talenta baru,” kata walikota.

Namun di taman ini, ada sudut untuk mengenang para korban yang tewas dalam tragedi konser musik underground di Gedung Asia Africa Culture Center (AACC), Jalan Braga Bandung, 9 Februari 2008 silam. 

Dalam kejadian itu, 11 orang tewas akibat kericuhan yang terjadi saat Konser Musik dalam rangka launching album perdana grup band metal Bandung “Beside” berjudul “Against Ourselves”.

Nama-nama mereka terpatri di masing-masing tiang yang mengelilingi  gitar  raksasa berukuran tinggi 8 meter dan lebar 3 meter. Monumen itu menjadi patung memori bagi peristiwa yang dikenal dengan sebutan Tragedi AACC. 

Taman Jomblo

Taman Pasupati di Jalan Tamansari, Bandung, disebut Taman Jomblo karena kubus-kubus yang berfungsi sebagai tempat duduk hanya cukup untuk satu orang. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler

Taman di Jalan Tamansari ini sebetulnya bernama Taman Pasupati, karena lokasinya berada tepat di bawah jalan layang Pasteur-Surapati (Pasupati). Walikota Bandung sendiri yang memberi sebutan Taman Jomblo.

Sebutan itu muncul karena di taman itu terdapat tempat duduk berbentuk kubus berukuran kecil warna-warni yang hanya muat untuk satu orang. Jomblo sendiri adalah istilah bagi seseorang yang masih sendiri atau belum punya pasangan.

Meski demikian, di taman itu juga terdapat tempat duduk yang panjang melengkung untuk diduduki banyak orang.

Selain berfungsi sebagai tempat duduk, keberadaan kubus-kubus bisa digunakan sebagai tempat memajang karya seni bila digelar ajang pameran di tempat itu.  

Taman tersebut seringkali dijadikan tempat nongkrong oleh anak muda yang bersekolah atau berdomisili tak jauh dari taman. Mereka memanfaatkan fasilitas wifi gratis yang memang tersedia di semua taman tematik di Kota Bandung. 

Sejumlah anak muda tampak juga memanfaatkan fasilitas bermain skate board yang terletak di belakang Taman Jomblo. Skate Park ini menjadi lokasi favorit untuk para pemain skate board di Bandung. Arena papan luncur ini memiliki fasilitas yang lengkap dan berskala internasional. 

Taman Film

Taman Film Bandung di Jalan Kebon Bibit Bandung dilengkapi fasilitas videotron dan tempat duduk bergaya terasering pesawahan serta dilapisi rumput sintetis cantik. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler

Masih di kolong Jalan Layang Pasupati, tak jauh dari Taman Jomblo, terletak Taman Film Bandung. Taman ini dibangun khusus untuk warga Bandung menonton film. Luasnya mencapai 1.300 meter persegi dan mampu menampung penonton hingga 500 orang.

Pemerintah Kota Bandung yang dibantu CSR perusahaan swasta telah menyediakan sebuah layar videotron raksasa berukuran 4×8 meter yang dilengkapi dengan teknologi soundsystem berkualitas baik plus daya listrik sebesar 33.000 watt. 

Fasilitas gratis ini dilengkapi tempat duduk dari beton bergaya terasering pesawahan. Penonton juga bisa duduk lesehan di rumput sintetis cantik yang warnanya hijau tua dan muda.

Jadi warga bisa betah menonton film berlama-lama. Tapi tentu saja bukan hanya film, taman ini juga bisa dijadikan tempat untuk menggelar nonton bareng berbagai tontonan.

Seperti saat laga final tim kesayangan warga Bandung Persib Bandung versus Persipura Jayapura, Jumat 7 November 2014 lalu. Taman Film dipenuhi bobotoh yang menyemangati jagoannya.

Sejumlah stasiun televisi turut memanfaatkan fasilitas Taman Film untuk menggelar acara nonton bareng program unggulannya. 

“Adanya taman ini nge-bantu banget bagi stasiun televisi untuk menggelar nonton bareng, sekaligus mempromosikan program kami,” kata Rikrik (34), seorang teknisi TV swasta yang ditemui saat mempersiapkan acara nonton bareng, Senin, 9 Maret 2015.

Namun taman ini tidak hanya dikunjungi saat ada acara nonton film saja. Setiap harinya, tempat itu ramai dikunjungi warga yang membawa anaknya bermain atau sekadar menikmati kenyamanan rumput sintetis yang beratapkan jalan layang. Bahkan, ada yang menjadikannya sebagai tempat untuk tidur siang.

Keberadaan taman di kolong jalan layang,  menurut Ridwan Kamil, adalah sebagai cara untuk memanfaatkan lahan tak terpakai yang biasanya malah menjadi tempat kumuh atau bahkan lokasi  kejahatan. Sebelum berubah menjadi taman, kolong jalan layang Pasupati merupakan tempat yang gelap, sepi, dan menakutkan.

“Saya ingin mengubah tempat-tempat negatif menjadi tempat duduk dan ngumpul,” kata Emil.

Taman  Superhero

Superman, Batman, dan Gundala beraksi di Taman Superhero di Jalan Anggrek Bandung. Taman ini pun menjadi tempat favorit anak-anak untuk berfoto. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler

Nah, taman yang ini pasti disukai anak-anak. Di taman yang berlokasi di Jalan Anggrek ini, ada patung superhero atau pahlawan berukuran besar yang berasal dari dalam dan luar negeri. Ada Superman, Batman, Spiderman, Gundala Putra Petir, dan Gatot Kaca yang terbuat dari limbah besi.

Tak heran, jika taman seluas 600 meter persegi ini ramai dikunjungi anak-anak. Mereka berfoto di depan patung dan bergaya seperti tokoh favoritnya.

Pengunjungnya tidak hanya warga Bandung, tapi ada juga dari luar Kota Bandung, seperti Jakarta, dan Garut. Tak pelak lagi, Taman Superhero menjadi tujuan wisata baru di kota kembang ini.

Selain patung superhero, di taman ini disediakan pula arena bermain anak, seperti ayunan, jungkat-jungkit, dan tiang panjat yang akan membuat anak betah berlama-lama di sana.

Bagi orang tua, sambil menunggui anaknya, bisa berjalan di hamparan bebatuan koral yang berfungsi sebagai tempat pijat refleksi kaki. Cara menunggu yang menyehatkan.

Untuk membuat taman ini, Pemerintah Kota Bandung telah menganggarkan dana sebesar Rp. 200 juta. Rencananya, fasilitas taman akan dilengkapi dengan lapangan voli pantai, perpustakaan, dan toilet umum.

Taman Foto

Taman Foto yang terletak di Jalan Taman Cempaka, Bandung, diihiasi monumen "C" dari kata Camera dan dilengkapi puluhan pigura warna-warni untuk memajang foto. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler

Tiang panjat yang biasa menjadi tempat bermain anak itu memiliki bentuk yang unik. Bentuknya seperti sebuah kamera foto berukuran besar. Kamera raksasa itu berada di sebuah taman yang bernama Taman Foto.

Taman itu dikenal juga dengan sebutan Taman Cempaka karena berada di persimpangan Jalan Anggrek dan Jalan Taman Cempaka. 

Taman tersebut memang diperuntukan untuk aktivitas fotografi. Selain sebagai tempat berfoto, taman ini akan berfungsi sebagai tempat kumpul komunitas fotografer dan pameran foto.

Di taman yang memiliki luas hingga 500 meter persegi itu, terdapat pula puluhan pigura warna-warni tempat memajang hasil jepretan fotografer. Ada pula monumen berbentuk huruf “C” yang diambil dari kata Camera.

Taman ini cocok dijadikan sebagai tempat berkumpul dan dilengkapi dengan bangku-bangku yang nyaman. Menggelar tikar untuk piknik juga bisa dilakukan di area taman berumput yang cukup luas itu.

Jangan lupa, ada fasilitas wifi gratis yang bisa dimanfaatkan untuk mengunduh, mengunggah, atau mengirimkan foto. Selain itu, pepohonan yang tumbuh rindang menambah kesejukan udara di sekitarnya.

Pet Park

Pet Park terletak di Jalan Cilaki, Bandung, warga Bandung bisa membawa hewan peliharaannya untuk berjalan-jalan di taman ini. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler

Sesuai namanya, taman ini memang diperuntukkan bagi warga yang memiliki hewan peliharaan. Pembuatan taman ini didasari banyaknya keluhan warga yang merasa terganggu dengan orang yang membawa binatang ke taman. Karenanya, Pemkot Bandung menyediakan taman khusus hewan yang bisa dikunjungi penyayang binatang jenis apapun.

Di taman seluas 1.000 meter persegi ini, terdapat walking track untuk membawa hewan peliharaan berjalan-jalan kira-kira sepanjang 300 meter. Ada pula kandang dan fasilitas ketangkasan hewan.

Tempat ini cocok juga sebagai tempat para berkumpul komunitas pencinta hewan, apalagi disediakan bangku-bangku yang enak untuk kongkow. 

Para pemilik hewan pemeliharaan merasa terbantu dengan adanya Pet Park. Selama ini, mereka merasa kesulitan membawa hewan peliharaanya untuk berjalan-jalan.

Seperti yang dirasakan, Riki, yang membawa dua anjing Pitbull perliharaannya berjalan-jalan Seninsore itu. Riki dibantu asistennya hampir setiap hari membawa anjing bernama Zeus dan Alin ke Pet Park.

“Bagus. Saya merasa terbantu. Selain buat sosialisasi anjing, juga bisa saling kenal sama pemiliknya,” kata pria berusia 30 tahun itu. 

Untuk membuat taman ini, Pemkot Bandung menyediakan dana sebesar Rp. 190 juta. Pembangunan taman itu sempat diprotes warga sekitar, namun berhasil diselesaikan lewat musyawarah.

Pet Park berada dalam satu kawasan dengan Taman Pustaka Bunga Kandaga Puspa dan Taman Lansia, yakni Kawasan Cilaki.  

Bagi warga Bandung, keberadaan taman-taman tematik itu memberikan alternatif tempat untuk dikunjungi di akhir pekan atau di waktu senggang. Tidak lagi mall atau pusat keramaian lainnya.

Selain murah meriah dan menghibur, taman juga tempat yang menyehatkan untuk dikunjungi. Kita bisa menghirup udara segar, berkejar-kejaran dan bermain bola bersama anak-anak, juga tertawa lepas!

Apakah taman-taman ini berhasil mendongkrak indeks kebahagiaan warga Bandung? Mungkin saja. —Rappler.com

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.