Mengapa mereka bersusah payah ke Suriah?

Uni Lubis
Mengapa mereka bersusah payah ke Suriah?

MAST IRHAM

ISIS berhasil menjaring ribuan simpatisan. Ada yang ingin mendapatkan gaji lebih besar dibandingkan bekerja di negaranya. Ada pula yang bermotif jihad. Berapa yang ditawarkan ISIS?

 

Selama dua pekan ini kita dihebohkan oleh berita 16 warga Indonesia yang diduga menyeberang ke Suriah untuk bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (Islamic State of Iraq and Syria, ISIS). Belum lagi muncul kejelasan ihwal kepergian mereka, muncul berita baru lagi: sebanyak 16 orang Indonesia ditangkap di perbatasan Turki tatkala hendak menyeberang ke Suriah.

Penjelasan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Nasir Arrmanatha,  aparat setempat sudah mencurigai ke-16 WNI itu, sejak kedatangan mereka di Turki. Mereka ditangkap di Gaziantep, sebuah kota terletak 60 kilometer dari perbatasan Turki – Suriah. Mereka terdiri dari 11 anak, 4 perempuan, 1 pria. Kisah mereka bisa dibaca di sini 

Sabtu, 15 Maret 2015, Presiden Joko Widodo mengakui kemungkinan 16 orang tersebut bergabung dengan ISIS, namun belum memiliki informasi pasti yang mendukung dugaannya.

Lebih dari 500 warga Indonesia dipercaya telah bergabung dengan ISIS. Ribuan orang dari lebih dari 80 negara di seluruh dunia juga telah bergabung dengan ISIS dan gerakan radikal lainnya di Suriah dan Irak, kebanyakan datang melalui Turki.

Sulit diterima bagi akal sehat, bila kepergian ke-16 orang itu adalah untuk berjihad mengangkat senjata demi menegakkan ‘’daulah Islamiyah’’, mengingat sebagian besar masih anak.  Bahkan ada yang masih di bawah lima tahun. Alasan yang lebih masuk akal, tindakan mereka adalah demi ekonomi. 

Berapa gaji yang ditawarkan ISIS?

Foto ISIS dan benderanya/Rappler

Iming-iming yang ditawarkan ISIS  bagi mereka yang ingin bergabung memang menggiurkan untuk ukuran Indonesia. 

Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)  Inspektur Jenderal Arief Dharmawan mengatakan, faktor jihad atau ikut berperang bukan semata motif seseorang bergabung dengan ISIS. Dikutip Tempo.co, Minggu, 8 Maret, ia juga mengatakan faktor materi juga menjadi motif kuat seseorang bergabung dengan ISIS.

Arief mengatakan ISIS telah menguasai sejumlah kilang minyak yang berada di Suriah dan Irak. Walhasil, ISIS bisa menggunakan minyak sebagai modal aksi mereka. Bukan cuma tentara perang, ISIS bisa menggaji orang-orang yang bersedia bekerja untuk mereka.

Untuk pekerjaan tersebut, kata Arief, ISIS bisa memberikan gaji US$ 2.000-3.000 dolar per pekan atau setara Rp 25 – 39 juta dalam kurs saat ini. Hampir tiap bulan mereka bisa mengantongi duit US$ 8.000-12.000 dolar atau setara Rp 100 – 150 juta. 

“Iming-iming uang ini juga menarik orang-orang Australia, Belanda, dan negara Eropa lain bergabung dengan ISIS,” kata Arief.

Bila kedatangannya ke Suriah untuk menjadi insinyur yang mengurusi sumur minyak, duit yang ditawarkan memang menggiurkan. Tetapi jika yang dituju adalah menjadi prajurit tempur, duit yang didapat  jauh lebih sedikit.  Bahkan dibandingkan dengan penghasilan yang diterima buruh di Amerika, tawaran ISIS  sama sekali tidak menggiurkan. Upah minimum di Amerika nilainya jauh lebih tinggi ketimbang yang diterima prajurit ISIS.

Lembaga Pengamat Hak Azasi Manusia Suriah awal bulan ini mengumumkan hasil temuannya mengenai berapa gaji yang diterima para prajurit ISIS.

Para prajurit yang harus bertempur di medan laga itu mendapat upah US$ 400 per bulan —sekitar Rp 5,2 juta untuk kurs sekarang. Bila mereka beristri, mereka mendapat tunjangan $100 untuk tiap istri, plus $50 untuk tiap anak.  ISIS menyediakan rumah jika prajurit itu tak memiliki tempat tinggal. Bahan bakar minyak  juga tersedia gratis untuk mobil mereka, bisa diambil di stasiun bensin yang dikelola ISIS.

Bandingkan dengan pegawai restoran cepat saji  McDonald di Amerika Serikat, yang mendapat gaji $1.160 per bulan, hampir 3 kali lipat yang diterima para prajurit ISIS.  Gaji yang ditawarkan untuk berjuang di Suriah itu tidak menarik, bukan?

Namun, ada pula yang ingin bergabung dengan ISIS  bukan karena motif ekonomi, melainkan karena jihad. 

Pada 24 Januari, jaringan televisi CNN memberitakan adanya seorang remaja berusia 19 tahun dari Colorado, Amerika Serikat, Shannon Maureen Conley, yang divonis 4 tahun penjara karena ingin bergabung dengan ISIS.

Shannon adalah seorang mualaf. Ia rajin membaca Al-Qur’an. Di ranah maya, ia berkenalan dengan seorang perempuan yang mengajaknya berjihad dengan bergabung menjadi istri prajurid ISIS. Rencana perjalanan Shannon ke Suriah terendus pihak keamanan Amerika, dan ia ditangkap. Shannon merupakan warga Amerika pertama yang divonis bersalah karena mendukung ISIS.

Merekrut pengikut lewat media sosial

Screenshot dari YouTube video pada 23 Juli 2014, menampilkan seorang WNI mengajak warga Indonesia bergabung dengan ISIS

Kehebatan ISIS dalam merekrut pengikut melalui dunia maya, terutama media sosial, menjadikan perang melawan radikalisme menjadi lebih sulit.  

Tiga remaja perempuan Inggris, Shamima Begum (15), Kadiza Sultana (16), dan Amira Abase (15), menyeberang ke Suriah untuk berjihad menjadi pengantin bagi para prajurit ISIS. 

Kita juga melihat, banyak pula pria dari negara barat yang ikut mengangkat senjata bersama ISIS, karena alasan keyakinan.   

Koran Inggris, The Independent, Sabtu 14 Maret, mengungkapkan sejak tahun lalu terdapat setidaknya 22 perempuan dan pria muda dari Inggris yang menyeberang ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Mereka berumur paling tua 20 tahun. 

“Kasus yang terakhir, 3 perempuan berusia belasan tahun menyeberang ke Suriah, menunjukkan betapa sulitnya mencegah radikalisme. Ada beragam motif yang membuat orang bergabung dengan ISIS,’’ kata Koordinator Nasional Senior untuk Kontra Terorisme Inggris Helen Ball kepada koran The Independent.

Siaran jaringan CNN pada 25 Februari menyebutkan lebih dari 20.000 warga asing bergabung dengan ISIS. Mereka berasal dari 90 negara. Sebanyak 3.400 di antaranya adalah orang barat yang bergabung dengan ISIS karena ingin bertempur.  Jaringan Al-Qaeda dalam 10 tahun merekrut 10.000 jihadis, separuh dari yang berhasil direkrut ISIS.

Direktur Nasional Intelijen Amerika Serikat James Clapper mengatakan sebanyak 180 warga Amerika mencoba terbang ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Belum diketahui berapa persisnya yang sudah sukses bergabung dan mengangkat senjata.

Pada akhir Februari 3 pria dari New York — Abdurasul Juraboev (24), Akhror Saidakhmetov (19), dan Abror Habibov (30) — ditangkap aparat keamanan. Mereka diduga berniat mengirim bahan-bahan bagi teroris di luar negeri. Salah satu percakapan mereka bahkan mendiskusikan kemungkinan membunuh Presiden Barack Obama.

Empat wanita dari Colorado juga ditangkap, karena ingin bergabung dengan ISIS. Tiga remaja Denver direkrut oleh ISIS lewat jaringan media sosial. Mereka dihentikan di Jerman dalam perjalanan menuju Suriah, dan dikirim kembali ke Amerika. 

Dari mana sumber dana ISIS?

Bagi ISIS, bergabungnya bala bantuan dari seluruh penjuru jagat adalah sebuah keuntungan. Kelompok yang berdiri pada 1999 itu, kini dipimpin oleh khalifah Abubakar Al Baghdadi.  Tambahan tenaga dari luar Suriah dan Irak  membuat ISIS  memiliki jaringan yang semakin luas. Namun pada saat yang sama, beban ekonomi yang harus disediakan juga bertambah.

Majalah The Economist awal tahun ini mengungkapkan data yang menunjukkan pada September 2014 ISIS memiliki 30.000 prajurit pria dan 15.000 perempuan.  Mereka semua terlatih. Di dalamnya terdapat 15.000 prajurit asing.

Berbeda dari Al Qaeda atau kelompok radikal lain, ISIS memiliki sumber duit yang cukup. Kekuatan modal inilah yang membuat ISIS bisa berkembang dengan cepat.  

Pada Maret 2013, misalnya, ISIS berekspansi ke Suriah, setelah sebelumnya hanya bergerak di Irak. Sejak itu, ISIS  beroperasi di dua negara sekaligus. Pada Juni 2013,  pasukan Al-Bagdadi berhasil mengambil alih Raqqa, kota di Suriah, dan pada Juni 2014, menguasai Mosul, kota terbesar kedua di Irak.

Setelah mengambil alih Mosul, ISIS mengumumkan kekhalifahan. Sejak itu, gelombang bala bantuan dari luar yang merasa cocok dengan ideologi dengan ISIS semakin mengalir dari luar negeri. 

Alwi Shihab dalam diskusi mengenai Middle East Turmoil, ISIS and Its Impact in Indonesia yang diselenggarakan Perkumpulan Alumni Eisenhower Fellowship pada 5 Maret mengatakan kelebihan ISIS dibandingkan Al-Qaeda dan gerakan radikal lain adalah, tujuan perjuangannya jelas: mendirikan negara khalifah berdasarkan syariat Islam.  Tujuan yang fokus dan mudah menjaring pengikut.

Bahayanya pun lebih besar ISIS ketimbang organisasi yang mengusung gerakan-gerakan radikal sebelumnya.  

“Disiplin organisasi di ISIS lebih longgar, masing-masing bisa mengambil keputusan sendiri.  Termasuk menculik dan membunuh orang yang tidak bersalah,” kata Abdul Rahman Ayub di acara yang sama.  

Tahun 2000-an Ayub pernah menjadi deputi pemimpin Jamaah Islamiyah di Australia, setelah sebelumnya berjuang bersama Al-Qaeda yang dipimpin Osama Bin Laden di Afghanistan.

Banyaknya orang yang ingin bergabung dengan ISIS mendatangkan konsekuensi. Mereka semua membutuhkan makan, tempat tinggal, dan senjata.

Minyak diperkirakan menjadi sumber utama pemasukan. Media dari Baghdad IraqiNews.com pada Januari lalu memuat iklan yang mencari tenaga untuk mengelola sumur minyak di Irak dan Suriah. Gajinya setahun $ 225.000. Posisi yang ditawarkan adalah manajer kilang.

Belakangan diketahui, sumur dan kilang yang akan dikelola adalah milik ISIS. Meski demikian, berita di IraqiNews.com itu mendapat respon luar biasa. Banyak yang menanyakan tunjangan lain serta fasilitas yang ditawarkan. 

Banyak spekulasi yang mencoba menghitung kekayaan ISIS. Koran The Guardian dari Inggris mengutip perwira intelijen Amerika yang memperkirakan aset ISIS  berkisar $ 875 juta – $2 miliar.

ISIS menguasai setidaknya 12 ladang minyak di Irak dan Suriah, dan menjual hasilnya lewat pasar gelap sejak Juni 2014. Setiap hari, dari sumur minyak di  Suriah dihasilkan 44.000 barel minyak, dan dari ladang di Irak dihasilkan 4.000 barel. Duit bersih yang didapat diperkirakan mencapai $ 1– 2 juta per hari.

ISIS memanfaatkan para pejabat perminyakan zaman mantan Presiden Irak Saddam Hussein untuk menjual minyak produksinya.  Minyak itu diselundupkan melalui perbatasan Suriah-Turki, dijual ke industri atau langsung ke rakyat yang membutuhkan dengan harga murah.

Sumber duit lain yang  cukup menggiurkan bagi ISIS  adalah tebusan para sandera. Pada 2012, Kementerian Keuangan Amerika Serikat memperkirakan, Al Qaeda dan afiliasinya mengumpulkan $ 120 juta dari duit tebusan selama 8 tahun.

Pada 2014 koran New York Times memuat hasil liputannya, bahwa sejak 2008 Al Qaeda dan konco-konconya menerima duit tebusan sebesar $ 125 juta, termasuk $ 66 juta pada 2013 saja. Sebuah perusahaan Swedia dilaporkan membayar $70.000 untuk menyelamatkan pegawainya yang diculik ISIS.

Meski secara resmi setiap pemerintah menolak barter duit dengan sandera, praktiknya tidak sesederhana itu.  Pemerintah Perancis diam-diam punya kebijakan untuk bernegosiasi dengan penculik, demi menyelamatkan warganya.  ISIS  menculik Nicolas Henin, Pierre Torres, Edouard Elias dan Didier François, di Suriah, 2013. Mereka dibebaskan pada April 2014. Diperkirakan pembebasan itu terjadi karena adanya tebusan yang dibayarkan.

Penculikan sandera, atau penyelundupan minyak, itu adalah bahasa yang digunakan Perserikatan Bangsa Bangsa, dan pemerintahan yang tak suka perilaku kelompok radikal pimpinan Abubakar Al-Baghdadi itu.  

Namun dengan kepiawaiannya, ISIS  bisa mengemas tindakannya itu dengan bahasa agama, yang membuat ribuan orang dari berbagai penjuru dunia rela bersusah payah menempuh perjalanan hingga Suriah. 

Sebagian dari mereka berasal dari Indonesia. —Rappler.com

Uni Lubis adalah mantan pemimpin redaksi ANTV. Follow Twitter-nya @unilubis dan baca blog pribadinya di unilubis.com.

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.