Tiga pria bersenjata tewas dalam kontak tembak di Aceh

Nurdin Hasan
Lepas dari perjanjian damai yang pernah dibuat antara Pemerintah Indonesia dan GAM pada 2005, kelompok bersenjata tidak menghilang dari Aceh.

 Polisi menyelidiki penembakan di Banda Aceh, November 2009. Foto oleh Hotli Simanjuntak/EPA

BANDA ACEH, Indonesia — Tiga pria bersenjata tewas di tempat dalam kontak tembak dengan pasukan gabungan TNI dan Polri di Desa Gintong, Kabupaten Pidie, Aceh, Kamis dinihari, 21 Mei 2015.  

Tiga pria ini adalah bagian dari kelompok bersenjata yang sebagian besar kabur saat baku tembak. 

“Aparat TNI dan Polri masih melakukan penyisiran di seputaran lokasi kontak tembak karena diduga ada rekan mereka yang melarikan diri,” kata Kapolres Pidie Ajun Komisaris Besar Polisi Muhajir.

Dari para korban tewas, pasukan keamanan menyita sepucuk senjata otomatis laras panjang jenis AK-56 popor lipat dan lebih dari 100 butir amunisi AK dan peluru GLM.  Jenazah ketiganya — Ibrahim Yusuf, Subki, and Mae Pong — telah dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Tgk Chik di Tiro di Sigli, ibukota Kabupaten Pidie. 

Masyarakat laporkan kelompok bersenjata

Kehadiran kelompok bersenjata, yang diperkirakan terdiri dari 15 orang itu, pertama dilaporkan oleh masyarakat. Pasukan gabungan lalu menuju lokasi untuk menghadang kelompok bersenjata tersebut. 

“Begitu tiba di kawasan rawa-rawa persimpangan Desa Gintung, pasukan gabungan melakukan pengendapan di lokasi,” jelas sumber intelijen yang menolak disebutkan namanya.

Menjelang Kamis dinihari, kelompok bersenjata berkekuatan 15 pria melintasi jalan yang telah dikepung. Tiga pria di depan menggunakan senter sebagai penerang jalan sehingga terjadi baku tembak dengan pasukan TNI dan Polri selama hampir satu jam.

Dua mayat yang pertama ditemukan dini hari itu, sementara satu mayat lagi ditemukan Kamis pagi. 

Kelompok bersenjata yang tak kunjung lenyap

Hingga kini, belum diperoleh informasi detil tentang motif di balik muncul kelompok bersenjata itu.

Lepas dari perjanjian damai yang pernah dibuat antara Pemerintah Indonesia dan GAM pada 2005, kelompok bersenjata tidak menghilang dari Aceh. Selama ini, beberapa kasus kriminal bersenjata sering terjadi di Aceh bagian timur dan utara, tetapi belum pernah muncul di Kabupaten Pidie.

Ansyaad Mbai, pengamat terorisme, mengatakan bahwa meski GAM sudah tidak ada, masih ada kelompok bersenjata yang bergerak. 

“Mereka bergerak secara individu atau berkelompok kecil,” kata Ansyaad seperti dikutip CNN Indonesia, Selasa, 24 Maret.— Rappler.com