Menggantungkan mimpi bebas macet pada kereta gantung

Yuli Saputra
Menggantungkan mimpi bebas macet pada kereta gantung

EPA

Kereta gantung yang hemat energi ini diharapkan bisa mengurangi kemacetan Kota Bandung tiap akhir pekan dan hari libur karena dipenuhi wisatawan

BANDUNG, Indonesia — Berusaha membebaskan kotanya dari kemacetan, Walikota Bandung Ridwan “Emil” Kamil berencana membangun moda transportasi baru: Skylift atau kereta gantung.  

“Diharapkan bisa mengurangi kemacetan sebesar 30 persen,” kata Emil menjawab pertanyaan Rappler di Bandung, belum lama ini. 

Rencana pembangunan kereta gantung, yang juga dikenal dengan istilah cable car ini, sebetulnya sempat digulirkan Walikota Bandung periode sebelumnya, Dada Rosada. Bahkan, Dada sempat meresmikan peletakan batu pertama di Kawasan Pasteur, 12 Juni 2014. 

Rutenya melintasi gerbang tol Pasteur menuju pool Cipaganti Travel dan berakhir di Mall Parisj van Java Jalan Sukajadi Bandung. Pihak swasta yang terlibat dalam proyek kereta gantung ini adalah PT Cipaganti dan Dopplemyr, yang berpengalaman dalam bidang cable car ini. 

Namun, proyek ini tak jelas juntrungannya seiring dengan dipenjaranya Dada karena tersangkut kasus korupsi.

Proyek kereta gantung ini dihidupkan kembali oleh Ridwan Kamil dengan konsep yang berbeda.

“Sama sebetulnya tapi beda rute, Kalau dulu kan dari mall ke mall. Saya bilang gak menyelesaikan masalah. Tapi dari terminal, stasiun jadi dipakai sebagai transportasi publik,” ujar Emil.

Selain itu, pihak yang terlibat pun diseleksi melalui proses lelang. Tidak lagi melibatkan pihak swasta yang telah dipilih saat proyek kereta gantung sebelumnya.

“Beda, kan mau dilelang, jadi ini open,” katanya.

Emil menceritakan, proyek kereta gantung yang direncanakannya saat ini telah selesai proses feasibility study dan akan dilanjutkan dengan proses lelang. Ia berharap proyek ini bisa diluncurkan pada 2016.

“Saya berharap tahun depan groundbreaking-nya jadi doakan saja lancar,” ujar Emil.

Mengatasi kemacetan akhir pekan dengan hemat energi

TRANSPORTASI ALTERNATIF. Walikota Bandung Ridwan Kamil bersepeda menginspeksi persiapan Konferensi Asia Afrika di Bandung, 23 April 2015. Foto oleh Bay Ismoyo/AFP

Sementara itu, pakar transportasi Ofyar Z Tamin mengatakan, pengadaan moda transportasi kereta gantung sebenarnya untuk mengatasi pergerakan kendaraan di setiap akhir pekan. Ini sebagai upaya mengurangi kemacetan yang terjadi setiap hari libur saat Kota Bandung dikunjungi wisatawan.

“Dominannya di daerah macet, menghubungkan antara tempat wisata kuliner, wisata heritage, dan wisata belanja,” kata Ofyar.

Moda transportasi ini, kata Ofyar memang pas untuk fasilitas wisata panorama. Apalagi kereta gantung ini cocok di daerah perbukitan seperti wilayah Bandung Utara.

“Misalnya rute Ledeng-Maribaya, bagus untuk wisata panoramic. Rutenya juga harus melalui hotel, jadi tidak mengganggu arus lalu lintas,” ujar Ofyar yang masuk dalam tim feasibility study proyek kereta gantung ini. 

Ofyar mengatakan proyek ini memiliki sejumlah kelebihan dan kemudahan dibandingkan dengan moda transportasi lain.

“Tidak perlu pembebasan lahan, (lahan) hanya untuk halte dan tiang-tiang yang dipasang sedemikian rupa. Lahan bisa menggunakan milik pemerintah, jadi tidak perlu keluarkan uang,” kata Ofyar.

Selain itu, moda transportasi ini juga hemat energi karena menggunakan sedikit tenaga listrik yang dihasilkan dinamo.

“Karena biasanya dipasang di daerah perbukitan, jadi saat menurun pergerakan kereta gantung justru dipakai untuk mengisi dinamo. Energi baru digunakan saat kereta gantung melintasi jalur yang menanjak,” jelasnya.

Namun sayangnya, masih terdapat sejumlah kendala untuk mewujudkan alat transportasi yang ramah lingkungan ini. Di antaranya, belum ada investor dan belum adanya payung hukum.

“Belum ada peraturannya, sedang disiapkan,” kata Ofyar. Termasuk yang sedang disiapkan adalah masalah keamanan, sistem pengoperasiannya, sampai ke masalah jarak antara stasiun.

“Kita pakai (kereta gantung) produksi Austria yang sudah reliability, sudah terjamin, dan sudah kita coba. Kita lihat juga sudah terpasang di beberapa tempat,” kata Ofyar.

Macet parah

Menurut Ofyar, penyediaan moda transportasi alternatif di Kota Bandung sudah sangat mendesak karena tingkat kemacetan yang semakin parah.

“Sangat parah (kemacetannya). Ini kesalahan pemerintah yang tidak membatasi jumlah kendaraan pribadi,” katanya sambil menambahkan Kota Bandung menduduki peringkat ketiga kota wisata termacet setelah Bali dan Yogyakarta.

Kota berpenduduk 2,5 juta jiwa ini memang dibelit oleh persoalan kemacetan yang parah tiap harinya. Puncak kemacetan terjadi saat akhir pekan, saat wisatawan mengunjungi kota ini. 

Kepolisian Resort Kota Besar (Polrestabes) sampai harus menurunkan sekitar 500 personilnya untuk mengatur arus kendaraan di setiap titik rawan macet setiap akhir pekan.

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan yang dikeluarkan akhir 2014, Bandung memiliki angka volume capacity ratio (VCR) 0,85 dengan rata-rata kecepatan 14,3 kilometer per jam. VCR adalah perbandingan antara jumlah kendaraan dengan daya tampung jalan. 

Emil sudah berusaha mengatasinya dengan berbagai cara, seperti penyediaan bus Damri gratis bagi pelajar, kampanye naik sepeda dan Bandung Tour on The Bus yang disediakan pemerintah untuk melayani wisatawan keliling Bandung. 

 

Ditanggapi Pesimis

Rencana Pemkot Bandung membangun kereta gantung ditanggapi pesimis oleh sejumlah warga Bandung. Mereka mempertanyakan manfaat dari keberadaan skylift itu.

“Kalau tujuannya untuk transportasi massal menurutku belum bisa deh. Kan tetap kali yah jangkauannya terbatas. Paling jauh berapa kilometer yang bisa dicapai,” ujar Wilda Nurlianti, warga Arcamanik, Bandung.

Namun Wilda setuju jika kereta gantung disediakan sebagai transportasi wisata.

“Misal, Dago ke Braga, masih oke itu. Biarpun sebenarnya kalau duitnya ada, mending buat benahin transportasi massal yang ada. Biar orang Bandung makin berasa memiliki Bandungnya dengan kemudahan transportasi. Gak cuma manjain wisatawan aja,” kata Wilda.

Di sisi lain, Wilda sendiri mengaku ragu terhadap warga Bandung yang menurutnya kurang bisa memelihara fasilitas umum, seperti yang sering terjadi selama ini.

“Mental orang kita nih juga musti dibenerin dulu. RK (Ridwan Kamil) banyak bikin program visioner, tapi warganya masih banyak yang kacrut. Orang kita masih banyak yang belum siap maju. Mau Bandung keren tapi attitude-nya masih kamseupay,” ujar ibu dua orang putri ini.

Senada dengan Wilda, Surya Lesmana juga meragukan komitmen warga Bandung untuk menjaga fasilitas umum, termasuk jika ada kereta gantung.

”Masalah terbesar di kita adalah masalah maintenance. Kebayang kabel kereta gantung karatan atau ada yang motong untuk dikilo (dijual),” kata bapak berusia 40 tahun itu.

Surya setuju keberadaan kereta gantung bisa jadi alternatif untuk mengatasi kemacetan di Kota Bandung, namun dia berpendapat saat ini belum diperlukan. 

“Prioritas utama lebih baik memperbaiki angkutan publik, baik kendaraan maupun sarana penunjangnya. Misalnya, angkot ditertibkan dengan tempat pemberhentian yang sudah ditentukan dan jadwal kedatangan serta keberangkatan sudah diatur,” kata Surya. 

Warga Santosa, Bandung, Rosa Wahyuni, juga mengatakan bahwa kereta gantung bukanlah kebutuhan yang mendesak. 

“Aku mah setuju tapi untuk jangka panjang aja alias planning selanjutnya. kalau sekarang mah lebih setuju perbaikan jalan-jalan yang merata karena banyak jalan yang masih rusak. Termasuk juga memberikan penyuluhan khusus kepada sopir-sopir angkot yang masih banyak melakukan pelanggaran,” kata Rosa — Rappler.com 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.