Menata kota: Belajar, jangan meniru

Elisa Sutanudjaja
Perencana kota harus berhenti studi banding. Mulailah belajar lewat diskusi, dan jangan hanya meniru yang tampak indah di kota-kota lain.

Tampak pusat kota Jakarta di malam hari. Foto oleh Winry Armawan/Wikimedia Commons

Sejak tanggal 9 Juni 2015 hingga tiga hari ke depan, ada 2 acara internasional terkait dengan perkotaan dan infrastruktur di Jakarta. 

Yang pertama adalah New Cities Summit 2015, ini adalah kali keempat, setelah New York, Sao Paolo, dan Dallas. Acara ini diselenggarakan oleh New Cities Foundation yang berkedudukan di Paris, bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Di saat bersamaan, ada Indonesia Green Infrastructure Summit (IGIS) 2015, kerjasama antara Kamar Dagang Indonesia (Kadin) dan Bank Dunia. 

Jika New Cities Summit berbicara mengenai kota-kota dunia, termasuk Jakarta, sementara IGIS berfokus pada infrastruktur, pembangunan, dan investasi. Sayangnya, kedua acara terjadi di saat bersamaan, padahal isu keduanya dapat saling melengkapi. 

Untuk tahun ini saya harus memilih dari keduanya, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada New Cities Summit. 

Tahun lalu kebetulan saya sudah pernah menghadiri IGIS dan kurang lebih saya bisa meraba apa yang mereka tawarkan tahun ini tidak jauh berbeda daripada tahun sebelumnya, yaitu penekanan pada investasi infrastruktur. Tentu ada isu menarik, bagaimana caranya mewujudkan tambahan 35.000 megawatt energi sesuai dengan target pemerintah, namun tetap memperhatikan isu lingkungan. 

IGIS seperti biasa diwarnai oleh pembicara dari segenap kementerian, mulai dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat hingga Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

Mengapa saya memilih New Cities Summit, terlebih karena saya cukup penasaran dengan New Cities Foundation terlebih karena organisasi tersebut baru berusia 5 tahun namun sudah memiliki acara kelas dunia. Misi New Cities Foundation adalah membantu membentuk masa depan perkotaan lebih baik, dengan cara menghasilkan dan menyebarkan ide dan solusi melalui ragam acara, riset, dan proyek inovasi perkotaan. 

Sesungguhnya kota-kota di Indonesia memiliki keunikan dan tidak bisa serta merta meniru apa yang terjadi pada kota-kota lain.

Berbeda dengan IGIS yang lebih merupakan perwujudan kebijakan top-down dan peran kuat negara baik dalam pembiayaan dan inovasi, maka New Cities Summit berfokus pada kemampuan kota yang mampu melebihi peran negara. Jakarta pun cukup mengambil peranan dalam acara tersebut. Setidaknya ada 6 pembicara dari Pemprov DKI Jakarta, dari wakil gubernur hingga kepala UPT Jakarta Smart City. 

Dengan deretan pembicara dalam New Cities Summit, saya menduga akan dipenuhi presentasi yang mampu membuat peserta lokal terinspirasi hingga tergiur. Namun, acara semacam New Cities Summit adalah deretan presentasi yang perlu ditonton dengan memperhatikan berbagai konteks dan kondisi tertentu. 

Sebelum kita menyaksikan presentasi dari Paris, New York, Singapura, dan Seoul, perlu tanamkan dalam alam bawah sadar kita bahwa itu adalah kota dari negara maju, atau menurut definisi Saskia Sassen adalah Kota Global

Kota Global adalah pusat aglomerasi ekonomi global. Kota Global biasanya terletak di belahan bumi Utara dan sudah tentu dari negara maju. 

Masalah infrastruktur dasar, seperti transportasi, air bersih, hingga sanitasi tidak menjadi isu bagi kota-kota seperti itu. Dan ketika mereka berbicara soal city branding, maka upaya yang dilakukan adalah total, dan tidak hanya berhenti sampai membuat logo dan situs. 

Solusi-solusi yang ditampilkan terkadang terlihat demikian mudah, seakan tanpa kesulitan berarti. Sehingga solusi-solusi yang ditawarkan bisa menggoda pengambil keputusan yang kebetulan hadir untuk menerapkan hal serupa di kota masing-masing. Namun paradigma demikian adalah hal yang berbahaya bagi keberlangsungan hidup kota masing-masing. 

Museum Guggenheim Bilbao. Foto oleh EPA

Dalam bidang arsitektur dan ekonomi kota, mungkin akrab dengan istilah “Bilbao Effect” yang mengambil referensi kota Bilbao pasca melakukan revitalisasi kota besar-besaran di berbagai bidang, seperti transportasi, perhotelan, hingga pusat kebudayaan. Namun kerap kali pengambil keputusan melihat “Bilbao Effect” hanya melihat Museum Guggenheim Bilbao yang berbentuk spektakular pada masanya. 

Pasca kesuksesan Bilbao yang berhasil memutarbalikkan kota miskin menjadi kota terkenal, membuat kota-kota lain berlomba-lomba membangun museum spektakular lainnya. Dalam prosesnya kerap melupakan hal yang penting, yaitu keaslian hingga kesiapan kota tersebut.

Bilbao Effect tak hanya melanda kota-kota dunia, tapi juga mulai mewabah kota-kota Indonesia. Ada keinginan akan sesuatu yang instan, membangun suatu bangunan berskala besar karya arsitek dunia, dengan harapan akan mendatangkan turis serta pelan-pelan menarik investasi demi memperbaiki infrastruktur yang ada. Ini sesungguhnya mimpi di siang bolong. 

Taman Pasupati di Jalan Tamansari, Bandung, disebut Taman Jomblo karena kubus-kubus yang berfungsi sebagai tempat duduk hanya cukup untuk satu orang. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler

Sesungguhnya kota-kota di Indonesia memiliki keunikan dan tidak bisa serta merta meniru apa yang terjadi pada kota-kota lain. Saya masih belum bisa melupakan insiden Bandung dengan gembok cinta serta tulisan Love di Taman Jomblo, yang dalam waktu 3 hari setelah dibuka akhirnya ditutup oleh pemerintah yang mengusungnya. 

Taman tersebut akhirnya ditutup setelah kritik keras dari banyak pihak, yang merasa cukup malu bahwa tulisan Love tersebut adalah tiruan sangat buruk dari instalasi Robert Indiana. Dan kita tentu ingat bahwa gembok-gembok cinta pun adalah tiruan dari kegiatan menggembok di salah satu Jembatan Paris, yang bahkan sekarang ditinggalkan oleh pemerintah kota Paris. 

LOVE Park di JFK Plaza, Philadelphia, AS. Foto dari visitphilly.com

Acara seperti New Cities Summit adalah acara yang sangat baik untuk belajar secara cepat, dengan melihat contoh-contoh yang ada, untuk akhirnya membangun dialog. Namun belajar itu tidak sama dengan meniru. Kota yang unik, memiliki masalah, potensi hingga karakteristik berbeda dengan yang lain. Permasalahan kota tidak bisa diselesaikan dengan resep obat generik yang berasal dari best practices

Meniru dengan babi buta adalah sesuatu yang cukup memalukan dalam dunia desain. Tidak terlupakan saat acara Konferensi Asia Afrika di Bandung silam, ketika tiba-tiba Jalan Otista Bandung mendadak dihiasi oleh instalasi payung merah, biru, kuning. Dan ternyata instalasi payung itu adalah tiruan murahan dari instalasi payung di Agueda, Portugal. 

Instalasi payung Umbrella Sky Project di Agueda, Portugal, pada 2014. Foto oleh EPA

Ivo Taveras menciptakan instalasi tersebut untuk memberikan stimulasi terhadap pengalaman ruang melalui sensasi warna yang muncul. Agueda yang jauh berada di atas garis khatulistiwa tentu menawarkan sensasi ruang dan warna yang berbeda dengan Bandung yang di kisaran khatulistiwa.

Maka mulailah belajar lewat diskusi. Dan berhentilah meniru atau kepingin menerapkan semua yang nampak indah di presentasi atau kota-kota lain. 

Dan bagi kepala daerah ataupun perencana kota di dalam pemerintah, saran saya adalah berhenti studi banding. Lebih baik lihat potensi diri, berdiskusi dengan segenap masyarakat, pahami dan gali potensi lokal, buka kerja sama dengan warga. 

Karena pada akhirnya wargalah yang menempati kota, bukan orang-orang dari Agueda, Paris, ataupun Philadelphia. —Rappler.com

Elisa Sutanudjaja adalah seorang Eisenhower fellow, editor Kata Fakta Jakarta, dan co-founder rujak.org. Ia juga pengupaya sosial, pewarta ‘open data’, dan warga kota Jakarta. Follow Twitter-nya di @elisa_jkt.

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.