5 tahun berlalu, nasib Rohingya di Medan masih terkatung-katung

Nurdin Hasan
Warga Rohingya mengungsi di Medan sejak 2010, menunggu ditempatkan ke negara ketiga. Tapi 5 tahun berlalu, tak satupun raih suaka politik.

Ratusan pengungsi Rohingya di Medan menunggu dalam ketidakpastian akan mendapatkan suaka politik di negara ketiga. Foto oleh Nurdin Hasan/Rappler

MEDAN, Indonesia – Muhammad Yunus, 37, berusaha keras menahan air mata saat menceritakan getirnya kehidupan yang dijalaninya. Matanya berkaca-kaca. Suaranya parau.

Dia sesekali menundukkan kepala, terdiam. Sejurus kemudian kembali lancar mengisahkan lika-liku kehidupan sejak ia terpaksa harus keluar dari Myanmar pada 1994 silam.

Yunus mengenang ayahnya yang meninggal dunia pada 2012. Dia tak bisa mengantar ayahnya ke peristirahatan terakhir. Sang ayah yang sedang sakit gagal mendapatkan perawatan medis karena adiknya tidak berani membawa ke rumah sakit.

Yunus mengaku ketika ayahnya meninggal dunia, ia sangat ingin pulang ke kampung halamannya di Maungdaw, sebuah kota yang dihuni mayoritas Muslim Rohingya di kawasan Rakhine, Myanmar. Tapi apa daya, dia tak memiliki uang.

Belum lagi kerusuhan sedang melanda kawasan Rakhine. Muslim Rohingya dibantai milisi Budha yang didukung pasukan keamanan pemerintah Myanmar. Ribuan warga minoritas Rohingya dilaporkan tewas dalam kekerasan yang terjadi tahun 2012.

(BACA: Cerita manusia perahu Rohingya terdampar di Aceh) 

Yunus adalah seorang pengungsi Rohingya di Medan, Sumatera Utara, sejak 2010. Bersama sekitar 270 pengungsi Rohingya, Yunus menanti penempatan di negara ketiga dari Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR). Tetapi hingga kini tidak ada seorang pun pegungsi Rohingya di Medan memperoleh suaka politik.

Para pengungsi Rohingya menempati empat “hotel” kelas melati di Medan. Keempat “hotel” tempat mereka tinggal dibiayai Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM). IOM juga memberi biaya hidup bagi setiap pengungsi Rohingya senilai Rp 1,25 jut per bulan. Sedangkan setiap anak mendapat dana Rp 500 ribu sebulan.

“Kami kadang sedih karena pengungsi dari Afghanistan, Somalia, Irak, dan beberapa negara lain telah mendapat resettlement setelah setahun atau dua tahun tinggal di Medan,” ujar Yunus saat ditemui Rappler, Sabtu pekan lalu, 6 Juni 2015.

“Ketika kami tanya kepada UNHCR, mereka bilang mereka terus bekerja untuk kami mendapat suaka di negara ketiga. Kami disuruh bersabar. Tetapi sampai kapan kami harus bersabar?”

Juru bicara IOM Indonesia Paul Dillon yang dikonfirmasi melalui telepon menyatakan pihaknya hanya memberikan bantuan logistik kepada pengungsi Rohingya di Medan. “Kami tidak melakukan proses resettlement karena itu wewenang UNCHR,” katanya.

Juru bicara UNHCR di Indonesia Mitra Salima Suryono, yang beberapa kali dihubungi Rappler untuk konfirmasi menyangkut lambannya proses resettlement bagi para pengungsi Rohingya di Medan, tak mengangkat telepon. Pesan singkat yang dikirim juga tidak dibalasnya.

Ingin mengadu nasib di Australia

Muhammad Yunus, seorang pengungsi Rohingya, sedang menceritakan pengalaman hidupnya ketika diwawancarai di sebuah cafe di Medan. Foto oleh Nurdin Hasan/Rappler

Yunus mengisahkan saat pertama kali melarikan diri dari kampung halamannya pada 1994, usianya baru 16 tahun. Ia terpaksa harus lari karena dicari pasukan keamanan Mynamar, untuk disuruh kerja paksa. Dia luntang-lantung dua tahun di Bangladesh.

Bila situasi di Maungdaw membaik, Yunus pulang kampung. Dia sering bolak balik Myanmar dan Bangladesh hingga tahun 2010. Ayahnya adalah seorang pengusaha, yang memiliki dua kapal nelayan dan dua toko pakaian. Hidup Yunus dan sembilan saudaranya terbilang mapan. Ia bisa menamatkan sekolah tingkat atas.

Kehidupan Yunus lambat laun berubah karena dia tidak bisa bekerja. Apalagi usaha ayahnya bangkrut sebab sering diteror kelompok milisi Budha yang didukung aparat keamanan Myanmar.

Pada 2010, Yunus memutuskan pergi ke Australia. Dia naik perahu bersama pengungsi Rohingya ke Thailand dari Bangladesh. Selanjutnya menyeberang ke Malaysia. Yunus hanya sebulan di Malaysia.

(Pengungsi Rohingya dan impian bertemu keluarga di Malaysia)

Setelah membayar agen perjalanan ilegal di Malaysia, Yunus dan sejumlah pengungsi Rohingya naik perahu ke Tanjung Balai, Sumatera Utara. DIa ditangkap petugas imigrasi Medan yang menahannya selama 9 bulan di Belawan. Kemudian, petugas IOM membawanya ke hotel Padang Bulan di Medan.

Kisah Yunus yang hendak mengadu nasib ke Australia hampir sama dialami sebagian besar pengungsi Rohingya di Medan. Mereka berangkat dari Malaysia dengan perahu. Ketika transit di Indonesia, mereka ditangkap petugas imigrasi dan ditahan beberapa bulan sampai akhirnya dijemput IOM untuk ditempatkan di hotel.

Muhammad Khan (39 tahun) beserta istrinya Marwani (37) dan tiga anak mereka terpaksa keluar dari Malaysia karena anak-anaknya tidak bisa bersekolah di negeri jiran itu. Mereka ingin mengadu nasib ke Australia, pada 2013. Naas, mereka dan pengungsi Rohingya lain ditangkap oleh petugas imigrasi saat transit di Sumatera Utara. Beberapa bulan setelah berada di Medan, istrinya melahirkan putri kembar.

“Anak saya yang tertua sering bertanya sebenarnya kami ini warga negara apa. Dia juga sering bilang kenapa harus dilahirkan ke dunia ini kalau tak harapan masa depan karena tidak jelas kewarganegaraan,” tutur Khan, yang mengaku istrinya merupakan seorang warga Indonesis asal Aceh yang dinikahinya di Malaysia tahun 2000.

“Kalau anak saya bertanya begitu, saya hanya bisa bilang bersabar dan berdoa sebab UNHCR sedang berusaha mendapatkan negara ketiga. Kadang kalau malam hari saya dan istri saya sering menangis bila memikirkan masa depan anak-anak saya,” ucap Khan.

Tidak diperkenankan bekerja

Puluhan anak-anak Rohingya lahir di Medan, karena mereka telah berada di ibukota Provinsi Sumatera Utara itu antara dua hingga lima tahun. Foto oleh Nurdin Hasan/Rappler

Khan mengaku istrinya tak mendapatkan biaya hidup dari IOM karena merupakan warga negara Indonesia. Selain dia, ada dua pengungsi Rohingya juga beristrikan warga Indonesia. Mereka setia menemani suaminya serba kekurangan tinggal di Medan.

Para pengungsi Rohingya di Medan hanya boleh keluar di seputaran ibukota provinsi Sumatera Utara. Mereka dilarang keluar kota Medan. Pengungsi Rohingya juga tidak diperkenankan bekerja sehingga sehari-hari hanya duduk termenung di hotel sambil berharap suatu hari mendapatkan keajaiban suaka politik di negara ketiga.

(IN PHOTOS: Potret pilu anak Rohingya di Aceh)

“Burung saja punya sangkar, tapi kami warga suku Rohingya tidak boleh membangun rumah,” ujar Nur Alam (39). Dia tinggal di Medan bersama istrinya dan lima anaknya sejak empat tahun silam. Dua anaknya lahir di Medan.

Nur pergi dari Rakhine yang dihuni mayoritas Muslim pada 1997 setelah tanahnya diambil pemerintah. Dia merantau ke Malaysia untuk bekerja secara ilegal sebagai buruh bangunan selama 14 tahun di negara jiran itu.

Saat putra pertamanya telah berusia tujuh tahun, Nur ingin memasukkan ke sekolah di Malaysia. Tetapi tidak ada sekolah yang bersedia menerima anaknya karena status Nur sebagai pengungsi.

Akhirnya Nur mau membawa istri dan ketiga anak mereka ke Australia. Ia membayar agen perjalanan ilegal 28.000 Ringgit Malaysia untuk ongkos keluarganya. Perjalanan ke Australia melalui Sumatera Utara ditempuh dengan sebuah boat. Tetapi, Nur dan 13 pengungsi Rohingya ditangkap petugas Imigrasi di Medan setelah dibiarkan tanpa tujuan oleh para penyeludup manusia.

Ketika ditanya bagaimana nasib hampir 1.000 pengungsi Rohingya yang terdampar di Aceh dalam tiga gelombang Mei lalu, Yunus menjawab, “Mungkin nasib mereka akan sama seperti kami.”

“Kami sebenarnya sangat ingin menjenguk saudara-saudara kami yang diselamatkan nelayan Aceh, tapi kami tidak boleh pergi ke sana. Saya sangat sedih karena dunia ini seolah begitu sempit bagi orang Rohingya,” ujarnya. —Rappler.com