Demonstrasi memperingati Sumpah Pemuda di Makassar berakhir ricuh

Syarifah Fitriani
Enam unit kendaraan motor milik personil kepolisian dibakar oleh mahasiswa. Sementara, 2 unit motor lainnya mengalami kerusakan berat

DEMONSTRASI RICUH. Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa berakhir ricuh. Sebanyak 6 unit motor milik anggota polisi dibakar oleh mahasiswa yang berdemonstrasi. Foto oleh Syarifah Fitriani/Rappler

MAKASSAR, Indonesia – Sebagian mahasiswa di Makassar merayakan hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober dengan berunjuk rasa. Para mahasiswa berunjuk rasa di depan kampus masing-masing tetapi berujung bentrok dengan personil kepolisian yang menjaga demonstrasi.

Bentrok terjadi sekitar pukul 16:00 WITA di salah satu titik lokasi unjuk rasa di Jalan Alauddin, Makassar. Mereka terlihat saling dorong sehingga memicu bentrokan di antara kedua pihak.

Semula, beberapa mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) hanya berorasi di depan kampusnya. Mereka menuntut Presiden Joko “Jokowi” Widodo dan Jusuf Kalla untuk menepati semua janji sesuai dengan program Nawacita.

Tetapi, mereka menutup jalan dengan menahan truk yang melintas di Jalan Alauddin dan memalang mobil di salah satu ruas jalan. Akibat aksi itu, sepanjang Jalan Alauddin mengalami kemacetan parah.

Pihak kepolisian yang melakukan pengamanan berusaha membujuk agar mahasiswa tidak memblokir jalan. Tetapi permintaan itu tidak diacuhkan oleh mahasiswa.

Usai terjadi aksi dorong, mahasiswa kemudian melemparkan batu. Sementara, personil kepolisian mengejar mahasiswa yang mulai bertindak anarkis. Para mahasiswa semakin emosi ketika melihat beberapa temannya diangkut ke mobil Sat Sabhara oleh aparat kepolisian.

Mereka kemudian membalas tindakan tersebut dengan membakar beberapa motor dinas patroli milik kepolisian yang semula digunakan untuk mengawal jalannya aksi demo. Total, ada 6 unit motor yang dibakar oleh mahasiswa. Puing-puingnya bertebaran di lokasi bentrokan.

Selain dibakar, 2 unit motor patroli lainnya mengalami kerusakan berat akibat bentrokan yang sengit di antara kedua pihak. Untuk meredam aksi anarkis mahasiswa, personil kepolisian sempat menembakan gas air mata sebagai tanda peringatan.

Pembakaran motor dinilai biasa

Pasca bentrok antara mahasiswa dan personil kepolisian mereda, Kapolda Sulsel, Irjen Pol Anton Charliyan turun langsung memantau lokasi unjuk rasa. Didampingi Wakapolda Sulsel, Brigjen Gatot Eddy Pramono, Anton menilai kericuhan yang berujung pada pembakaran 6 unit motor anggota kepolisian adalah sesuatu yang biasa.

Anton menjelaskan pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak kampus untuk menarik mahasiswanya.

“Dalam situasi seperti ini, adalah hal yang biasa kalau ada pembakaran motor. Namun, sangat disayangkan jika ada kendaraan milik negara yang dibakar,” ujar Anton kepada media.

Dia menegaskan akan melakukan penyelidikan untuk mencari tahu dalang pembakaran 6 unit motor milik personil kepolisian. Sementara, Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Rusdi Hartono yang juga berada di lokasi mencoba untuk meredam emosi anggotanya. Dia bahkan sempat menegur anggotanya yang terpancing dengan aksi mahasiswa.

Total, ada sekitar 1.305 personnel kepolisian yang diturunkan untuk mengamankan peringatan Sumpah Pemuda di Makassar. Mereka khawatir terjadi aksi demonstrasi yang berakhir ricuh, salah satunya di sepanjang Jalan Sultan Alauddin.

“Kami sudah menarik anggota kami dan berharap tidak ada yang terprovokasi dengan kejadian tadi,” kata Rusdi. – Rappler.com