Gema Ramadan dari rumah para pencari taubat

Aditya Pradana Putra
Gema Ramadan dari rumah para pencari taubat
Lapas Ambarawa Semarang menjadi rumah bagi warga binaan sekaligus santri Ponpes Darut Ta’ibin

SEMARANG, Indonesia — Alunan merdu ayat suci Al-Qur’an terdengar sayup saat memasuki halaman Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. 

Suara tersebut semakin kencang ketika memasuki tembok besar Lapas yang menempati bangunan cagar budaya Benteng Willem I peninggalan kolonial Belanda. 

Sejumlah warga binaan Lapas menantikan waktu dimulainya salat wajib berjamaah di Masjid Darut Ta'ibin. Foto oleh Aditya Pradana Putra/Antara

Rupanya lantunan tadarus tersebut berasal dari para santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darut Ta’ibin. Bukan sembarang pesantren, pesantren yang berdiri sejak 2014 tersebut seluruh santrinya adalah warga binaan Lapas. 

Tadarus Al-Qur'an menjadi kegiatan yang digalakkan selama bulan suci Ramadan di Ponpes Darut Ta'ibin. Foto oleh Aditya Pradana Putra/Antara

Sesuai namanya, Darut Ta’ibin yang memiliki arti rumah bagi para pencari taubat, Ponpes ini menjadi wadah bagi warga binaan setempat, khususnya yang beragama Islam, untuk meningkatkan keimanan mereka sehingga terehabilitasi menjadi manusia yang lebih baik usai menjalani masa hukuman. 

Membaca Al-Qur'an menjadi kegiatan yang digalakkan selama bulan suci Ramadan di Ponpes Darut Ta'ibin. Foto oleh Aditya Pradana Putra/Antara

Terlebih di bulan suci Ramadan ini, sejumlah kegiatan keagamaan semakin digencarkan di Ponpes ini, seperti tadarus Al-Qur’an, salat berjamaah baik salat wajib maupun salat sunnah, dan ceramah yang juga dilakukan secara bergantian oleh warga binaan sendiri setiap usai salat wajib berjamaah. 

Menurut keterangan dari pihak kegiatan Ponpes, pada Ramadan ini tidak pernah sepi dan selalu diikuti dengan antusias oleh warga binaan. 

Seorang pengurus Ponpes memukul beduk sebagai tanda masuknya waktu salat wajib di Masjid Darut Ta'ibin. Foto oleh Aditya Pradana Putra/Antara

Slamet, salah satu santri, mengaku awalnya dirinya tidak bisa membaca Al-Qur’an, bahkan bacaan salat pun tidak semuanya dia hafal. Kini setelah menjalani kegiataan Ponpes dirinya bisa membaca Al-Qur’an, berharap dapat mengamalkan nilai-nilai ajaran Islam dalam Al-Qur’an kelak saat keluar dari Lapas. 

Sejumlah warga binaan Lapas berduyun-duyun mengikuti kegiatan Ramadan di Ponpes Darut Ta'ibin. Foto oleh Aditya Pradana Putra/Antara

Seperti Slamet, harapan tersebut juga ada pada santri-santri lainnya yang berpacu memperbaiki diri di rumah pencari taubat, Ponpes Darut Ta’ibin. —Antara/Rappler.com