Dikira Jakmania, pria Bandung dikeroyok oknum bobotoh

Yuli Saputra
Dikira Jakmania, pria Bandung dikeroyok oknum bobotoh
Rico saat ini masih tak sadarkan diri dan mengalami gegar otak

BANDUNG, Indonesia – Malang benar nasib Ricko Andrean. Pria berusia 22 tahun itu kini tergeletak tak sadarkan diri di Rumah Sakit Santo Yusuf Kota Bandung sejak akhir pekan lalu.

Ricko menjadi korban pengeroyokan oknum bobotoh (sebutan untuk suporter Persib Bandung) ketika digelar pertandingan Persib Bandung kontra Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api pada Sabtu, 22 Juli. Ia dikeroyok karena disangka The Jakmania. Padahal, Ricko adalah warga Bandung yang berasal dari Cicadas.

Saat dijenguk oleh Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, Ricko masih belum siuman. Dokter masih melakukan observasi selama tiga hari untuk menentukan cara pengobatan yang tepat.

“Setelah 3×24 jam baru akan ketahuan treatment apa yang paling maksimal untuk penyembuhannya. Sampai hari ini (pasien) belum sadar,” ujar Ridwan usai menjenguk Ricko di rumah sakit pada Senin, 24 Juli.

Pria yang akrab disapa Kang Emil itu akan membantu pengobatan Ricko yang telah yatim piatu. Emil mengaku prihatin dan menyesalkan kejadian tersebut. Menurutnya, peristiwa itu terjadi akibat pelampiasan emosi yang berlebihan dan tidak pada tempatnya.

“Ini menunjukkan contoh pelampisan emosi yang tidak pada tempatnya. Sangat berlebihan. Berkali-kali saya mengingatkan, sepak bola itu tentang persatuan, sepak bola itu tentang sportivitas, sepak bola itu tentang nilai-nilai kemanusiaan, tentang fair play. Tidak ada sedikit pun pembenaran untuk provokasi, pelampiasan emosi maupun bully-bully yang terjadi selama ini,” kata Emil mengecam peristiwa tersebut.

Ia kemudian meminta kepada para pelaku untuk bertanggung jawab dan dengan jantan datang meminta maaf kepada Ricko. Ia juga menekankan kepada pelaku agar tidak lagi melakukan kekerasan kepada siapa pun.

“Saya minta pertanggung jawaban morilnya untuk meminta maaf kepada Ricko dan jangan pernah mengulanginya kepada siapa pun, baik urusan supporter dan lain-lain karena melanggar kemanusiaan,” kata dia menegaskan.

Emil pun meminta kepada panitia pelaksana pertandingan untuk memperbaiki sistem pengamanannya. Ia berpendapat selama ini ada celah pengamanan di antara penonton.

“Ini jadi pelajaran untuk panpel berikutnya. Tolong jangan underestimate terhadap keamanan. Evaluasinya harus ada pengamanan pagar betis di titik-titik keamanan, di kursi-kursi tengah. Mungkin kalau itu ada, bisa dihindari kejadian sesama penonton di lokasi yang dekat,” kata dia.

Tunggu sanksi

Sementara, PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi menyerahkan peristiwa kericuhan yang terjadi pada pertandingan Sabtu kemarin kepada Komisi Disiplin PSSI. Chief Operating Officer (COO) PT LIB Tigor Shalomboboy mengatakan PT LIB hanya menyerahkan laporan kepada Komdis PSSI dan menunggu laporan dari PSSI mengenai sanksi yang akan dijatuhkan.

Ia mengindikasikan jika Persib dalam posisi terancam karena sudah beberapa hukuman yang diberikan kepada tim Pangeran biru itu.

“Saya tidak mau membuat pertandingan itu seolah heboh karena kerusuhan. Hal seperti ini bisa terjadi di mana saja. Apa pun itu, ada pelanggaran disiplin dan mungkin intimidasi. Kami tetap akan memproses seperti pertandingan lainnya, bukan semata-mata karena ini adalah Persib kontra Persija. Kita tunggu saja putusan Komdis,” kata Tigor pada hari ini.

Komisi Disiplin PSSI biasa menggelar sidang pada hari Kamis setiap pekan. Bisa saja kericuhan pertandingan antara Persib Bandung melawan Persija Jakarta akan dibahas dalam sidang pekan ini. – Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.