Gunung Agung: Cerita warga yang sediakan lahan penitipan sapi

Bram Setiawan
Gunung Agung: Cerita warga yang sediakan lahan penitipan sapi
"Lebih baik sapi dipelihara untuk bekal hidup, jaga-jaga di masa depan," kata I Ketut Dharmayasa, seorang warga yang sediakan lahan penitipan sapi bagi pengungsi Gunung Agung

 

KLUNGKUNG, Indonesia – I Ketut Dharmayasa, 41 tahun, menyapa pengungsi yang sedang menggotong batang pisang dan rumput. Jari telunjuknya menunjukkan  tempat yang banyak ditumbuhi ilalang. Pria yang akrab disapa Awi itu menyediakan lahan seluas 8 are untuk penitipan sapi bagi pengungsi Gunung Agung.

“Bantu orang biar enggak susah, daripada lahan kosong,” kata Awi, pada Jumat, 6 Oktober 2017.

Warga Banjar Lebah, Desa Besang Kawan, Klungkung itu menuturkan lebih senang lahan kosong itu digunakan untuk menampung ternak pengungsi. Sudah hampir dua pekan, sapi milik para pengungsi ditampung di sana.

Ketika Gunung Agung berstatus awas, Awi langsung berinisiatif untuk menampung ternak pengungsi.

Kendati ia memiliki latar belakang pendidikan di bidang pariwisata, Awi lebih nyaman menjadi wiraswasta. Awi bekerja sebagai pedagang kain endek di Pasar Klungkung. Waktu luang pada sore hari ia isi berjalan-jalan di lahan penampungan sapi.

Tidak ada persyaratan yang ditentukan Awi bagi pengungsi yang ingin menitipkan ternak. Semua ia lakukan secara sukarela. Awi merasa tidak tega melihat dan mendengar pengungsi jual murah sapi ketika panik harus meninggalkan rumah.

“Lebih baik sapi dipelihara untuk bekal hidup, jaga-jaga di masa depan,” ujarnya. “Kita enggak tahu kapan gunung meletus, berapa lama kan?”

Bukan hanya untuk menampung sapi. Ia juga memiliki lahan perkebunan bagi warga yang perlu nyakap (kerja bagi hasil). Awi memiliki dua lahan produktif yang bisa ditanami padi. Ada juga lahan kelapa dan cengkeh.

“Misalnya lama mengungsi pasti butuh kerja, silakan,” katanya.

Klian Banjar Lebah, I Nyoman Suardika, 60 tahun, mendukung niat warga yang menyediakan penampungan ternak. Suardika menyadari beberapa warga di kawasan rawan bencana Gunung Agung yang enggan mengungsi karena memikirkan ternak.

“Binatang ternak itu hiburan dan jiwa mereka,” tuturnya,

Menurut Suardika, ada beberapa warga di wilayahnya yang menyediakan penampungan sapi. Bahkan, warga juga mempersilakan pengungsi untuk potong rumput untuk pakan ternak.

I Made Rauh Wardana, 38 tahun, sedang melihat sapi yang ia titipkan di lahan milik Awi. Pengungsi asal Banjar Belatung, Desa Menanga, Karangasem itu menitipkan empat ekor sapi. Rauh sempat nekat tidak ingin mengungsi. “Kalau mau, ya mengungsi dekat saja, biar bisa sambil merawat sapi,” katanya. 

Namun ia berubah pikiran setelah mendapatkan informasi penyediaan lahan untuk penitipan sapi. “Sapi bekal hidup saya untuk jangka panjang. Maka saya mau titipkan saja, tidak dijual,” tuturnya. – Rappler.com

BACA JUGA:

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.