Bincang Mantan: Sampai kapan mau berpindah pekerjaan?

Ryan Songalia
Bincang Mantan: Sampai kapan mau berpindah pekerjaan?
Berhentilah ketika kamu sudah menemukan apa yang kamu cari. Jangan berhenti mencari karena merasa sudah tidak ada waktu apalagi karena komentar orang lain

JAKARTA, Indonesia —Kedua penulis kolom Bincang Mantan adalah antitesa pepatah yang mengatakan kalau sepasang bekas kekasih tidak bisa menjadi teman baik. Di kolom ini, Adelia dan Bisma akan berbagi pendapat mengenai hal-hal acak, mulai dari hubungan pria-wanita hingga (mungkin) masalah serius.

Bisma: Dunia nyata tidak sama dengan game online

Salah satu keputusan terberat yang pernah saya ambil adalah ketika saya harus memilih salah satu dari dua pekerjaan yang sangat menarik. Yang satu menurut saya kelihatan keren banget dan menjalaninya pun akan fun, sedangkan pilihan yang lain menawarkan saya banyak uang.

Pada perkembangannya akhirnya saya menjatuhkan pilihan ke pilihan pertama.

Alasannya? Simply karena saya suka sama pilihan pertama. Udahlah kelihatannya bagus, ngejalaninnya pun kayaknya akan seru. Sedangkan opsi kedua cuma menawarkan uang aja, kurang menarik, lagipula mana ada sih orang yang akhirnya milih untuk jadi merchant jika kita bisa jadi knight?

Betul sekali, keputusan terberat yang saya maksud terjadinya waktu karakter novice saya di game Ragnarok Online udah cukup level untuk milih job. Waktu itu saya galau banget (masalah terberat waktu kelas 6 SD selain ngapalin alamat museum pas ujian PLKJ).

Tapi ternyata jenis kegalauan itu berlanjut sampai sekarang ke saya, dan mungkin juga ke orang lain. Pilih pekerjaan yang kita suka atau yang gajinya besar?

Tapi dunia nyata enggak sesederhana game karena ketika sudah menentukan pekerjaan pun, anggaplah saya mau yang gajinya besar, maunya pekerjaan yang mana? Karena di dunia nyata pekerjaan dengan uang banyak bukan cuma “merchant” ada banyak bidang yang bisa ditekuni untuk dapat banyak uang.

Pencarian itulah yang akhirnya membuat kita tergoda untuk pindah-pindah dan coba-coba kerjaan. Pertanyaannya, sampai kapan?

Saya pribadi sebagai sarjana hukum sejauh ini baru punya tiga tempat kerja yang kebetulan semuanya di bidang hukum, dan sebetulnya sudah cukup untuk hidup. Tapi saya di usia 25 tahun, sampai sekarang masih terus mencari pekerjaan lain lho. Saya masih coba-coba nulis buku, dan jika ada kesempatan pindah pasti saya lakuin.

Mungkin orang akan berpikir atau berkomentar, “Ngapain sih cari cari kerjaan lain lagi? Sekarang kan udah mapan. Usia juga udah tidak muda lagi.”

Menurut saya tidak demikian. Tidak ada kata terlalu tua untuk mencari pekerjaan yang kamu suka. Peter Dinklage memutuskan jadi aktor di usia 29 setelah 6 tahun kerja kantoran. Vera Wang yang tadinya seorang atlet memulai jadi desainer di usia 40 tahun. J.K. Rowling aja baru berhasil terbitin Harry Potter di usia 32. Sekarang siapa yang tidak kenal mereka?

Jadi menurut saya kalau pertanyaannya adalah “Kapan harus stop mencari?” berhentilah ketika kamu sudah menemukan apa yang kamu cari. Jangan berhenti mencari karena merasa sudah tidak ada waktu apalagi karena komentar orang lain.

Jika sudah menikah pun, selama yakin bisa bertanggung jawab ke keluarga kamu dan merasa punya kapasitas untuk bisa lebih pas memutuskan, anggaplah, pengin jadi pelawak dan ninggalin dunia kedokteran, just do it.

Hidup ini bukan game online. Hidup ini cuma sekali. Kalau waktu kamu membuat keputusan untuk karakter game kamu dan ternyata kedepannya enggak suka, bisa tinggal ulang. Ke menu utama, klik “new game” dan mulai lagi semua dari awal dan permainan akan kembali menyenangkan.

Lain halnya dengan hidup, ketika kamu memutuskan sesuatu dan enggak suka, memang kamu mustahil untuk ulangin hidup ini dari awal. Tapi bukan berarti kamu harus pasrah juga jalanin kehidupan kedepannya dengan lakuin yang kamu tidak nyaman. Kamu bisa kok untuk memulai “new life”.

Dengan “new life” ini memang kamu tidak mengulang hidup dari awal. Usia terus bertambah, dan belum tentu sukses juga, tapi pilihannya tinggal jalanin hidup secara tidak nyaman, atau gambling untuk dapat kehidupan lain yang lebih nyaman kan? Kalau gagal paling tidak nyaman lagi hidup kamu. Enggak ada bedanya sebelum memulai “new life”.

Hidup ini cuma sekali dan hidup kamu adalah milik kamu. Jangan pernah biarkan tekanan standar sosial atau komentar pedas dari orang lain membuat kamu terpaksa jalani hidup yang tidak menarik ya. Misalnya hidup kamu boring memang mereka mau tanggung jawab? Paling mereka nyinyir lagi kenapa kamu enggak coba sesuatu yang baru kan? Terus aja gitu.

Adelia: Jangan asal lompat sana-sini!

Umur segini memang lagi bingung-bingungnya masalah karier. Ibarat kita lagi di persimpangan jalan, mau terusin sesuatu yang sudah kita tahu, atau mau pindah lajur dan mencoba sesuatu yang baru? Belum lagi ditambah “tekanan” dari lingkungan sekitar yang sepertinya sukses-sukses semua ya? Ada teman yang karier keartisannya menanjak, ada yang Instagram Story-nya dinas ke sana-ke mari terus, ada yang tas Prada dan Birkin-nya ganti-ganti warna terus. Lah kok saya (kita?) segini-gini saja?

Lalu kamu berpikir untuk ganti karier, mungkin di industri lain kamu bisa dapat lebih banyak uang dan bisa merasa puas dengan hidup. Tapi kamu juga takut kalau ternyata pindah karier tidak semudah itu  dan mungkin kamu tidak qualified untuk pekerjaan di luar bidang yang kamu geluti selama ini.

Tenang, kamu enggak sendiri, kok.

Kalau orang tua kita di umur pertengahan-menuju akhir-dua puluhan sudah settle dengan pekerjaannya (biasanya di bank atau PNS), generasi kita cenderung masih terbuka untuk coba-coba. Saya pernah baca, hal ini dikarenakan millennial tidak lagi mencari financial stability melainkan self-fullfillment. Makanya, enggak akan berhenti sampai betul-betul ketemu pekerjaan “jodoh”nya.

Kalau mau mengibaratkan karir sebagai “jodoh”, untuk kali ini saya tidak percaya pada keabsolutan monogami. Buat saya, tidak ada salahnya untuk berganti-ganti “pasangan” selama itu membuatmu bahagia (dan tetap kenyang). Buat apa toh bertahan pada “pasangan” kalau tiap hari cuma bikin lupa makan, darah tinggi, dan ingin marah?

Saya pernah dengar ini di sebuah video di Facebook: “It’s great if you have a dream that you want to spend your life chasing it, but it’s also okay to not have one. Instead, find micro-dreams to achieve in a particular set of time. They will change over time, and it’s okay, you change over time as well. That way, you’ll have something to chase every time and you won’t feel vacant because there’s always the next best thing to chase.”

Enggak ada salahnya untuk mencoba hal baru, berapapun umurmu. Iya, memang menakutkan untuk masuk ke wilayah baru, apalagi kalau kamu harus mulai dari bawah. Tapi, kalau tidak mengerikan, di mana serunya? Kata sahabat saya sih, the moment you stop challenging yourself is the moment you’ll stop growing.

Tapi jangan asal pindah-pindah begitu saja. Jangan hanya karena bosan, kamu keluar pekerjaanmu dan ikut-ikutan buka start-up tanpa visi dan rencana yang jelas. Yes, take the risk, but it has to be a calculated risk. Kenekatan saja tidak cukup, kamu harus perhitungkan kemampuanmu, ketertarikanmu, dan banyak hal lainnya. Misalnya, kalau mau buka start-up, apakah ide, business model, dan pasarnya valid? Kalau kamu mau jadi pengacara, apakah kamu sanggup dan mampu kuliah 4 tahun lagi? Kalau kamu mau jadi penulis, apakah kamu harus meninggalkan pekerjaan sekarang, atau bisa disambi? Kalau rencanamu gagal, apakah kamu cukup jago untuk bisa kembali ke profesimu yang dulu?

Kalau kamu sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, monggo, silahkan. Tapi kalau kamu belum tahu mau ke mana atau mulai dari mana, tidak apa-apa juga. Take your time. Ambil waktu untuk berkontemplasi, mungkin kamu bisa liburan di pulau sepi, mencoba berbagai pekerjaan freelance, atau datang ke seminar-seminar menarik. Tak ada salahnya juga kamu bertahan sebentar lagi di pekerjaan saat ini selagi kamu mencari opsi-opsi baru. Lagipula, kan tagihan kartu kredit harus ada yang bayar.

Cari tahu apa yang benar-benar kamu suka dan kamu inginkan dalam hidup. Cari tahu apa yang bisa membuatmu kerja keras namun tetap bahagia. Nanti juga kamu ketemu jawabannya. Just take your time. Tidak usah buru-buru, tidak ada yang mengejarmu kok.

—Rappler.com 

Bisma Aditya saat ini bekerja sebagai corporate lawyer di salah satu perusahaan multinasional. Adelia Putri adalah mantan jurnalis Rappler dan saat ini bekerja sebagai konsultan public relations dan penulis lepas.

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.