Wakil Presiden Jusuf Kalla luncurkan program Eco-Masjid

Uni Lubis
Program bertujuan membangun Gerakan Peduli Lingkungan dari Masjid

Wakil Presiden Jusuf Kalla saat peluncuran program Eco-Mesjid, Sabtu (11/11). Foto oleh MUI

JAKARTA, Indonesia – Di tengah berlangsungnya konperensi perubahan iklim COP 23 di Bonn Jerman, Dewan Masjid Indonesia meluncurkan program Eco-Masjid. Program masjid berkelanjutan ini diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla saat membuka muktamar DMI ke VII di Asrama Haji Pondok Gede, Sabtu, 11 November 2017.

“Program masjid ramah lingkungan atau eco-Masjid diharapkan dapat menjadikan masjid yang mempunyai kepedulian terhadap hubungan timbal balik antar makhluk hidup dan lingkungannya untuk penghidupan berkelanjutan kita semua,” kata Jusuf Kalla yang juga Ketua Dewan Masjid Indonesia.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Rappler, Wapres JK menyinggung krisis lingkungan hidup dengan berbagai manifestasinya, yang sejatinya adalah krisis moral, karena manusia memandang alam sebagai obyek untuk dimanfaatkan semata bukan sebagai obyek yang perlu dipelihara untuk kelangsungan kehidupan manusia. 

“Aktifitas manusia yang tidak ramah lingkungan tersebut, berdampak langsung pada lingkungan dan kehidupan manusia itu sendiri. Sumberdaya alam penting yang tak terbarukan, seperti air dan energi fosil semakin cepat terkuras,” ujar JK.

Dibahas pula tentang kelangkaan sumberdaya air dan energi merupakan ancaman eksistensi kehidupan masa depan manusia. Karena itu, konservasi dan pelestarian sumberdaya sebagai penunjang hidup harus menjadi prioritas dengan merubah perilaku ramah lingkungan yang di realisasikan dalam tindakan nyata. Penanganan krisis lingkungan yang bermuara pada krisis moral perlu ditangani dengan pendekatan moral. 

DMI memandang, Masjid merupakan salah satu sarana yang digunakan untuk pembinaan moral keagamaan. Masjid bukan hanya semata-mata dijadikan sebagai sarana ibadah ritual (mahdhah), melainkan  menjadi sarana dan sekaligus kekuatan dalam membangun dan menanamkan nilai-nilai kebaikan dan pembaharuan kehidupan umat, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. 

Eco-Masjid adalah program pengelolaan masjid yang berkelanjutan melalui aktivitas memelihara lingkungan hidup dan sumber daya alam yang bertujuan untuk meningkatkan afektifitas dakwah lisan dan aksi nyata secara terukur sebagai perwujudan Islam yang membawa rahmad bagi seluruh alam semesta. 

Program Eco-Masjid ini merupakah program dari Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup (PLH) dan Sumberdaya Alam  (SDA) Majelis Ulama Indonesia.

Ketua Lembaga PLH dan SDA MUI,  Hayu S. Prabowo mengatakan, memakmurkan masjid tidak bisa hanya dengan ceramah, perlu aksi nyata untuk membangun kemandirian umat dalam menghadapi ancaman kelangkaan air dan energi. 

“Hal ini dilakukan dengan orientasi pengelolaan masjid yang mandiri dan berkelanjutan pada aspek idarah (manajemen), imarah (kegiatan memakmurkan), dan riayah (pemeliharaan dan pengadaan fasilitas),” kata Hayu.

Sudah ada fatwa MUI

Hayu mengatakan, pada tanggal 19 Februari 2016 Majelis Ulama Indonesia dan Dewan Masjid Indonesia telah memprakarsai program Eco-Masjid yang diluncurkan di Masjid dan pondok pesantren Azzikra Sentul, Bogor. 

“Beberapa tindak lanjut telah dilakukan terutama dalam hal mendukung fungsi utama masjid sebagai tempat ibadah, khususnya dalam peningkatan akses air dan sanitasi sebagai sarana bersuci (thaharah) untuk sahnya ibadah serta merupakan kebutuhan masyarakat paling mendasar yang saat ini dirasakan keadaannya semakin kritis,” ujar Hayu.

Untuk mendukung peningkatan akses air dan sanitasi ini untuk masyarakat, MUI  melalui Musyawarah Nasional MUI di Surabaya tahun 2015 telah membahas dan menetapkan Fatwa MUI no. 001/MUNAS-IX/MUI/2015 Tentang Pendayagunaan Harta Zakat, Infaq, Sedekah & Wakaf Untuk Pembangunan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Bagi Masyarakat.

“Diharapkan dana sosial keagamaan ini dapat membantu umat dalam pemenuhan kebutuhan dana untuk pembangunan akses air bersih dan sanitasi bagi masyarakat, terutama masyarakat miskin. Termasuk didalamnya dapat termasuk sarana pemenuhan tenaga listrik dalam penyediaan akses air dan sanitasi tersebut,” kata Hayu.

Program eco-Masjid ini akan ditingkatkan ke tingkat nasional melalui suatu perlombaan berbuat kebaikan fastabiqul khairaat khususnya berlomba dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui masjid. MUI dan DMI menganggap program ini merupakan upaya meningkatkan kapasitas dan penguatan kelembagaan masjid menuju tatakelola yang bersih, suci dan sehat, juga ramah lingkungan dari tingkat kabupaten hingga tingkat pusat.– Rappler.com