LINI MASA: Perkembangan terbaru letusan Gunung Agung

Rappler.com
LINI MASA: Perkembangan terbaru letusan Gunung Agung
Status Gunung Agung dinaikkan menjadi awas pada Senin pagi

JAKARTA, Indonesia — Gunung Agung yang berdiri di Karangasem, Bali, kembali meletus. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunung Agung dari yang semula siaga (level 3) menjadi awas (level 4). 

Keputusan itu diambil pada Senin pagi, 27 November, pukul 06:00 WITA. Demi keselamatan, masyarakat yang berada dalam radius 8 kilometer dari kawah Gunung Agung diminta untuk mengungsi. 

Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai pun ditutup mulai Senin, 27 November pukul 07:00 WITA. Penutupan direncanakan berlangsung hingga Selasa, 28 November pukul 07:00 WITA.

Seperti apa perkembangan terbaru dari letusan Gunung Agung? Berikut kami sajikan informasi terbaru mengenai letusan Gunung Agung di laman ini:

Kamis, 30 November 2017

Bandara Lombok kembali ditutup

Bandara Internasional Lombok di Praya, Kabupaten Lombok Tengah, kembali ditutup pada Kamis pukul 10.37 WITA sampai dengan pukul 24.00 Wita atau Jumat (1/12) pukul 06.00 WITA.

“Keputusan ini berdasarkan Notam B9033/17 dampak erupsi Gunung Agung,” kata General Manager PT Angkasa Pura I Lombok Internasional Airport (LIA) I Gusti Ngurah Ardita.

Kepala Stasiun Meteorologi Bandara Internasional Lombok Oral Sem Wilar menjelaskan penutupan sementara bandara dilakukan karena sebaran abu vulkanik Gunung Agung yang mengarah ke timur tenggara Pulau Lombok. “Kalau arah angin ke selatan barat, bandara Bali yang tutup,” katanya.

Sebelum ditutup, Bandara Internasional Lombok sempat melayani sejumlah penerbangan dari dan menuju Lombok sejak pukul 06.00 WITA. Maskapai Lion Air dan Batik mengoperasikan pesawatnya.

Rabu, 29 November 2017

Penutupan Bandara Ngurah Rai kembali diperpanjang

Sejumlah warga negara asing mencari informasi di Terminal Internasional Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Senin (27/11). FOTO oleh ANTARA/Fikri Yusuf

Penutupan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali diperpanjang hingga Kamis 30 November 2017 pukul 07.00 WITA karena sebaran abu Gunung Agung masih menutupi wilayah udara bandara. 

“Kami evaluasi atas perkembangan situasi penyebaran abu gunung dan arah angin setiap enam jam,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Arie Ahsanurrohim, Rabu 29 November 2017.

Arie mengatakan perpanjangan penutupan operasional bandara selama 24 jam ke depan telah melalui rapat evaluasi dampak erupsi Gunung Agung yang melibatkan seluruh pemangku kebijakan atau otoritas berwenang.

Rapat digelar setiap pukul 01.00 WITA untuk mengevaluasi operasional bandara berdasarkan laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), BMKG, Vulcanic Ash Advisory Center (VAAC) di Darwin Australia, laporan pilot dan hasil pengujian di bandara. 

Arie menjelaskan berdasarkan pengamatan meteorologi dari VAAC, semburan abu gunung telah mencapai sekitar 25 ribu kaki bergerak ke arah selatan-barat daya dengan kecepatan 15 knots dan masih mengarah ke Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Prakiraan arah angin, lanjut Arie, dari BMKG pada ketinggian atau level mencapai sekitar 3.000 meter arah barat laut-timur, ketinggian 5000 meter barat laut-timur laut dan ketinggian 24.000 utara-timur laut.

“Dari laporan pilot pada ketinggian 2.000 hingga 4.000 kaki masih ditemui adanya abu di ruang udara dengan arah angin ke barat daya,” ucapnya

Selasa, 28 November 2017 

Gunung Agung memasuki fase kritis

Kepala Bidang Mitigasi PVMBG I Gede Suantika mengatakan Gunung Agung kini tengah memasuki fase kritis, karena gunung itu telah mengalami gempa tremor terus menerus (overscale) antara pukul 13:30 WITA hingga 14:00 WITA.

“Fenomena ini baru pertama kali terjadi dan kondisi ini menunjukkan Gunung Agung memasuki fase kritis,” kata I Gede Suantika, Selasa 28 November 2017. Ia mengatakan, amplitudo gempa overscale ini melebihi 23 mm atau dikatakan mencapai titik maksimal.

Sementara ketinggian asap dari kawah Gunung Agung ini tercatat masih berwarna kelabu kehitaman dengan ketinggian 4.000 meter dari atas kawah. Oleh karena itu Gede Suandika meminta masyarakat yang berada di Pos Pantau yang berada pada radius 12 km menjauhi tempat tersebut.

“Gempa tremor terus menerus itu ditangkap dari seismograf yang kami pasang pada 11 titik yang terpasang di dekat Gunung Agung,” ujarnya.

Penutupan Bandara Ngurah Rai diperpanjang

Corporate Secretary PT Angkasa Pura I Israwadi mengatakan penutupan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai akan diperpanjang hingga 24 jam ke depan atau hingga Rabu, 29 November 2017, pukul 06.00 WITA, 

“Karena mempertimbangkan ruang udara bandara yang masih tertutup oleh sebaran abu vulkanik Gunung Agung,” kata Israwadi melalui keterangan tertulis pada Selasa pagi, 28 November 2017.

Israwadi mengatakan keputusan memperpanjang penutupan Bandara I Gusti Ngurah Rai berdasarkan hasil Rapat Kordinasi Erupsi Gunung Agung yang digelar pada Selasa dinihari. Rapat diikuti oleh Otoritas Bandara Wilayah IV, Airlines, Ground Handling, Airnav Indonesia serta BMKG.

Dalam rapat tersebut diungkapkan hasil pengamatan dari Volcanic Ash Advisory Centre Darwin, bahwa semburan debu vulkanik Gunung Agung telah mencapai ketinggian 30.000 kaki dan bergerak ke arah selatan-barat daya dengan kecepatan 5-10 knots. 

“Demi menjaga keselamatan penerbangan meskipun hasil paper test yang dilakukan hingga pukul 00.00 WITA hasilnya NIL Vulcanic Ash di bandara,” kata Israwadi.

Bandara Internasional Lombok kembali beroperasi 

Sementara Bandara Internasional Lombok Praya kembali beroperasi normal setelah sempat ditutup sementara pada Senin, 27 November 2017 pukul 19.50 WITA. 

Bandara Internasional Lombok Praya dibuka kembali karena menurut hasil pemantauan BMKG abu vulkanik Gunung Agung tidak lagi mengarah ke Bandara Internasional Lombok Praya.

“Berdasarkan rapat kordinasi serta pengamatan yang dilakukan oleh seluruh komunitas bandara disepakati Bandara Internasional Lombok untuk beroperasi kembali sejak pukul 06.00 WITA,” ujar Israwadi.

Maskapai Lion Group dan Silk Air pun menyatakan kesiapan mereka untuk kembali beroperasi setelah sempat menunda penerbangan mereka.

Senin, 27 November 2017

Bandara Ngurah Rai ditutup, 455 penerbangan dibatalkan

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Bandara I Gusti Ngurah Rai Arie Ahsanurrohim mengatakan sebanyak 455 jadwal penerbangan dibatalkan menyusul ditutupnya Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai selama 24 jam, mulai Senin pagi hingga Selasa pagi 

“Ratusan penerbangan yang batal tersebut diperkirakan membawa sekitar 59 ribu orang,” kata Arie Ahsanurrohim di Denpasar, Senin 27 November 2017. 

Arie mengatakan, 455 jadwal penerbangan yang dibatalkan tersebut termasuk penerbangan internasional, dengan rincian 97 kedatangan dan 99 keberangkatan. Sedangkan untuk jadwal penerbangan domestik tercatat untuk kedatangan mencapai 124 penerbangan dan 125 keberangkatan dalam negeri. 

Bandara Ngurah Rai ditutup, tujuh penerbangan dialihkan

Seiring dengan peningkatan aktivitas Gunung Agung, otoritas setempat akhirnya menutup Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai mulai Senin, 27 November pukul 07:00 WITA. Penutupan direncanakan berlangsung hingga Selasa, 28 November pukul 07:00 WITA.

Menurut Direktur Operasi AirNav Indonesia, Wisnu Darjono, pihaknya telah menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) nomor A4242/17 yang memberikan informasi kepada semua pemangku kepentingan penerbangan mengenai kondisi terkini di bandara.

“Alasan penutupan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai yakni karena abu vulkanik Gunung Agung telah menutup ruang udara di atas Denpasar sehingga dikarenakan alasan keselamatan, ruang udara itu tidak dapat digunakan. Akhirnya, operasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Denpasar ditutup sementara,” ujar Wisnu melalui keterangan tertulis pada Senin, 27 November.

Ia mengatakan peristiwa ini berpengaruh kepada penerbangan internasional dan domestik. Total sejauh ini ada tujuh penerbangan menuju Bali yang terdampak.

Gunung Agung berstatus awas

 PVBMG akhirnya menaikkan kembali status Gunung Agung dari yang semula siaga (level 3) menjadi awas (level 4). Keputusan itu diambil mulai Senin, 27 November pukul 06:00 WITA.

Status awas adalah status tertinggi dalam bencana gunung api. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan status Gunung Agung dinaikkan seiring dengan aktivitasnya yang terus meningkat.

“Tingkat erupsi gunung api Agung sekarang meningkat dari fase freatik ke magmatik. Hal itu teramati sejak adanya sinar api di puncak malam hari pada 25 November pukul 21:00 WITA,” ujar Sutopo melalui keterangan tertulis pada Senin, 27 November.

Erupsi fase magmatik itu, kata dia, disertai kepulan abu tebal terus menerus dan telah mencapai ketinggian 2.000-3.400 meter dari puncak. Kepulan abu yang terus menerus kadang disertai erupsi eksplosif dan suara dentuman lemah yang terdengar hingga jarak 12 kilometer dari puncak.

“Sinar api kemudian semakin sering teramati di malam hari berikutnya. Ini menandakan, potensi letusan yang lebih besar akan segera terjadi,” tutur dia.

Minggu, 26 November 2017

Bandara Internasional Lombok ditutup

Kementerian Perhubungan menutup Bandara Internasional Lombok, Nusa Tenggara Barat, menyusul meletusnya Gunung Agung di Bali pada Minggu pagi, 26 November 2017.

“Sampai batas waktu yang akan ditentukan kemudian,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Agus Santoso dalam jumpa pers di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Minggu 26 November 2017.

Agus mengatakan keputusan ini diambil berdasarkan pengamatan abu vulkanik Gunung Agung Bali yang bergerak ke arah Tenggara dan tampak secara visual di rute penerbangan.

“Memang di landasan Bandara Lombok tidak terjadi abu vulkanik, tetapi jalan jalannya pesawat menuju Lombok ini sudah banyak terutup oleh adanya abu vulkanik ini di sekelilingnya, sehingga pendaratannya dari segala penjuru pun saat ini sudah tidak memungkinkan,” katanya.

Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Gede Suantika memperkirakan erupsi berupa asap dan abu ini bisa berlangsung selama 1 bulan.

“Kalau mengacu pada pengalaman tahun 1963 itu, kondisi seperti ini bisa selama satu bulan,” kata Suantika.

PVMBG terapkan zona merah 

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan level peringatan penerbangan menjadi merah menyusul erupsi Gunung Agung.

Semburan abu vulkanik Gunung Agung dikabarkan mencapai 6.142 meter di atas permukaan laut. 

“Kalau ketinggian kolom abu sudah lebih dari 6000 meter di atas permukaan laut, bukan di atas puncak maka VONA jadi `red`,” kata Kepala PVMBG Kasbani di Karangasem, Bali, Minggu.

Vulcano Observatory Notice to Aviation (VONA) menyebutkan abu vulkanik bergerak ke timur-tenggara mengikuti arah angin. 

Meski berstatus “merah”, namun  Bandara Ngurah Rai masih beroperasi normal untuk penerbangan namun dengan tetap memantau sebaran abu vulkanik.

Gunung Agung erupsi

Gunung Agung di Bali kembali meletus pada Minggu pagi, 26 November 2017. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan erupsi terjadi dua kali pada Minggu pagi.

Erupsi pertama terjadi 05:05 WITA. Sekitar 40 menit kemudian terjadi erupsi kedua dengan ketinggian semburan mencapai 3.000 meter dari puncak kawah.

(Foto: Dahsyatnya letusan Gunung Agung)

Masyarakat diminta meninggalkan desa-desa di radius enam hingga 7,5 kilometer (km) dari gunung sesuai rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Ribuan masker juga telah dibagikan.

 —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.