Tiga orang tewas akibat gempa bumi 6,9 SR di Pulau Jawa

Rappler.com
Korban tewas tertimbun tembok yang roboh akibat gempa

RUSAK. Kondisi ruangan hemodialisa RSUD Banyumas, Jawa Tengah, yang rusak diguncang gempa bumi magnitude 6,9 SR. Para pasien sempat dievakuasi ke pelataran parkir dan tidak ada korban jiwa. Foto oleh Idhad Zakaria/ANTARA

JAKARTA, Indonesia (UPDATED) – Korban tewas akibat gempa bumi yang mengguncang bagian selatan Pulau Jawa bertambah satu orang lagi. Setelah Dede Lutfi dan Aminah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengumumkan Fatimah (34 tahun) warga Kabupaten Bantul Yogyakarta juga meregang nyawa. 

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Fatimah tewas akibat panik dan terjatuh saat gempa terjadi. 

“Korban Fatimah meninggal dunia saat panik terjadi gempa, ia lari keluar rumah lalu terjatuh. Ia sempat dibawa ke RS Mitra Keluarga, tetapi meninggal dunia,” ujar Sutopo dalam keterangan tertulis yang diterima pada Sabtu, 16 Desember. 

Sementara, dua korban tewas lainnya diketahui bernama Dede Lutfi (62 tahun) warga Gunungsahari Kabupaten Ciamis dan Aminah (80 tahun) warga Sugihwaras, Kota Pekalongan. Selain korban tewas, gempa bumi itu juga mengakibatkan 7 orang terluka, 228 rumah rusak berat dan roboh, 152 rumah rusak sedang, 97 rumah rusak ringan dan 473 rumah yang belum diklasifikasikan rusak berat atau ringan.

Daerah yang terdampak gempa dan merusak terdapat di Kabupaten Pangandaran, Tasikmalaya, Ciamis, Kota Banjar, Garut, Cilacap, Kebumen, Kota Pekalongan, Banyumas, Brebes dan Banjarnegara.

“Hal ini karena pusat gempa berada di 6 kilometer arah tenggara kota Bantarkalong Kabupaten, maka daerah yang terdampak guncangan keras dan merusak adalah di Kabupaten Tasikmalaya, Pangandaran dan Ciamis di Provinsi Jawa Barat,” kata dia.

Saat ini, korban luka sudah dirujuk ke beberapa rumah sakit. Walaupun di area Banyumas, justru ada rumah sakit yang ikut terkena dampak gempa.

Bangunan RSUD Banyumas mengalami kerusakan di bagian plafon, tembok yang retak, kebocoran instalasi pipa gas oksigen dan lainnya.

“Sebanyak 70 pasien dari ruang rawat inap kini ditampung di dalam tenda BPBD Banyumas. Sementara, sisa pasien lainnya dirawat di RS PKU Muhammadiyah Gombong,” tutur dia.

Tidak ada tsunami

Sementara, warga yang sempat mengungsi ke area yang lebih tinggi karena khawatir akan terjadi tsunami sudah kembali ke rumahnya. Sebab, tidak ada tsunami yang terjadi di sepanjang pesisir selatan Jawa.

“Gempa susulan telah terjadi sebanyak tujuh kali dengan magnitude yang kecil. Tidak ada dampak merusak dari gempa susulan. Aktivitas masyarakat secara umum telah kembali normal,” kata dia.

Masyarakat, kata Sutopo, diimbau tetap tenang. Hingga saat ini, belum ada ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat memprediksi gempa secara pasti.

“Gempa bumi dapat terjadi setiap saat di daerah-daerah yang rawan gempa. Oleh karena itu, kewaspadaan dan kesiapsiagaan harus selalu ditingkatkan,” katanya.

Akibat gempa bumi itu, masyarakat yang bermukim di selatan Pulau Jawa panik dan sempat berhamburan keluar. Padahal, sebagian besar dari mereka sudah beristirahat. – Rappler.com