Bincang Mantan: Pentingnya menyeimbangkan kehidupan pribadi dan pekerjaan

Bincang Mantan: Pentingnya menyeimbangkan kehidupan pribadi dan pekerjaan
Work/life balance tidak semata-mata tentang berapa jam yang kamu habiskan di kantor versus waktu yang kamu punya untuk main-main

JAKARTA, Indonesia — Kedua penulis kolom baru Rappler, Bincang Mantan, adalah antitesa pepatah yang mengatakan kalau sepasang bekas kekasih tidak bisa menjadi teman baik. Di kolom ini, Adelia dan Bisma akan berbagi pendapat mengenai hal-hal acak, mulai dari hubungan pria-wanita hingga (mungkin) masalah serius.

Adelia: Work/life balance bukan sekadar mitos

Saya akan mulai dengan nyontek cuitan di Twitter: “Anak muda sekarang refreshing terus, kapan nabungnya?” // “Mending duitnya buat refreshing daripada nabung cuma buat bayar rumah sakit.”

I personally highly value work life balance. Berawal dari pengalaman buruk punya pekerjaan dan bos yang enggak kira-kira demanding-nya, kirim Whatsapp dini hari, hobi nyuruh yang aneh-aneh, dan bikin mood jelek terus-terusan sampai kebawa ke rumah, saya jadi belajar that there’s no amount of money that can buy your wellness and sanity.

Ketidakwarasan karena pekerjaan akhirnya cuma bisa dilampiaskan ke belanja besar-besaran sebagai justifikasi “I deserve this after what I’ve been through to get this money”. Tapi ya, akhirnya saya sadar kalau hidup harusnya enggak cuma untuk mencapai ketenangan finansial (atau beli tas-tas lucu), dan banyak hal yang bisa bikin bahagia tanpa perlu mengorbankan kewarasan atau mengeluarkan uang banyak. Yes, it’s nice to have money, after all it’s nicer to cry in a benz than in a bus, but in the end, money can’t replace the simplest joys in life.

“Iya, ngomong doang sih gampang, sis. Ngelakuinnya gimana?”

Work/life balance bukan sekadar mitos kok, tapi ini tergantung dari bagaimana kamu mengartikannya.

Work/life balance tidak semata-mata tentang berapa jam yang kamu habiskan di kantor versus waktu yang kamu punya untuk main-main kok. Buat saya, it’s simply about being able to prioritize based on what you value most.

Tidak semua yang buka laptop saat ngumpul hidupnya tertekan, dan tidak semua orang yang harus nginap di kantor stres. I did this when I was a journalist, but that was one of the happiest time of my adulthood – simply because I loved what I was doing and my work did make me proud. Kerja kan enggak melulu tentang uang, ada personal growth, ada aktualisasi diri, dan ada kesenangan pribadi yang muncul.

Saya belajar dari teman-teman saya kalau ternyata work/life balance bisa tercapai asalkan kita bisa tahu apa dan siapa saja yang terpenting dalam hidup, dan bagaimana selalu mengutamakan mereka. It’s not always have to do with having dinner at home or have a week off to lay on a secluded beach, it’s more about doing what bring you joy and bring your loved ones joy.

Selain prioritas, yang terpenting adalah untuk mensyukuri hal-hal kecil dan sederhana, karena kebahagiaan enggak harus perlu banyak usaha. Daripada sibuk menyempatkan date night dengan pasangan seminggu sekali untuk catch up, saya lebih senang tidur sejam lebih terlambat untuk sekedar ngobrol atau online shopping bareng. Daripada menabung susah-susah untuk liburan bersama keluarga (yang bikin kamu harus kerja ekstra keras demi dapat uang lembur), saya lebih suka menyempatkan nginap di rumah orang tua untuk sekedar bisa ngobrol di depan televisi sambil menertawakan Andre-Sule.

Don’t take the simple joys for granted and more importantly, don’t take yourself for granted, because really, money and your top notch career can’t replace your sanity, wellness, and happiness.

Bisma : Kerjalah untuk hidup, jangan hidup untuk kerja

Saya suka sedih melihat teman-teman saya yang hidupnya cuma untuk bekerja. Pernah pada suatu bulan Ramadan, waktu saya lagi sahur dan buka Path, timeline saya dipenuhi post teman-teman yang masih di kantor berkutat dengan pekerjaannya. Sedangkan saya, sudah nyaman sama keluarga sama-sama di meja makan.

Atau cerita lain lagi, saya sering tuh janjian sama teman untuk hangout waktu after office hours atau pas weekend. Tapi di waktu yang jelas-jelas bukan jam kerja itu pun kadang mereka bawa laptop untuk nyicil pekerjaan atau dikejar deadline.

Memang sih itu sudah tuntutan pekerjaan mereka, dan mungkin mereka dibayar mahal untuk itu.

Saya juga bukan yang muluk-muluk amat untuk kerja cuma 8 jam sehari sih, karena kadang waktu segitu memang enggak cukup. Kadang kerja sampai 12 jam oke lah, tapi ya enggak setiap hari juga. Masa iya dari 24 jam waktu sehari, setengahnya atau lebih setiap hari kita pakai untuk kerja? Bahkan weekend juga?

Kalau saya, saya enggak akan mau dibayar berapapun juga untuk “menjual” hidup saya kayak gitu. Dunia ini terlalu luas dan ada terlalu banyak manusia dengan cerita dan karakter unik yang bisa kamu temukan di luar sana, kalau aja kamu mau beranjak dari kerjaan kamu.

Mungkin gaji saya enggak sebesar orang-orang yang kerjanya siang malam itu, tapi saya bisa lho setiap hari jam 6 sore udah main sama keponakan sambil nemenin ibu saya nonton televisi. Kalau ada ajakan hangout pun saya nyaris enggak mungkin menolak dengan alasan pekerjaan. Selain itu saya masih bisa menyalurkan hobi main piano dan masak saya, bisa main game, bisa nulis artikel semacam ini, nulis cerpen, atau bahkan tidur jam 7 malam biar puas. Pokoknya banyak banget hal yang bisa saya lakukan kalau aja saya tidak seharian mengurusi pekerjaan, dan gaji saya tetap cukup untuk hidup.

Nah, sekarang saya pasti terdengar seperti tipe orang yang selalu bicara “hidup itu jalanin aja, yang penting hidup tenang” kan? Tipe orang yang tidak ada ambisinya.

Big no!! karena saya adalah orang yang super ambisius dan punya berbagai target. Justru dengan saya membatasi waktu bekerja saya, saya bisa melakukan hal-hal yang nantinya membawa saya ke cita-cita saya tersebut.

Sebagai contoh, di luar kantor saya yang sekarang, saya tergabung juga sebagai konsultan hukum di kantor hukum yang dikelola oleh saya dan beberapa teman saya. Selain itu saya juga adalah salah satu pendiri organisasi non-profit yang memberikan pendidikan hukum kepada masyarakat luas, dan saya udah diundang kemana-mana sekarang. Saya yakin kegiatan ini akan membawa saya mencapai berbagai ambisi saya suatu hari nanti.

Nah, waktu yang saya pake untuk ngurusin kegiatan itu adalah after office hours atau weekend. Enggak mungkin saya bisa ngerjain ini itu kalo kerjaan saya cuma berkutat dengan pekerjaan.

Tuhan memberi waktu kita 24 jam sehari itu pastilah dengan perhitungan yang tidak main-main. Waktu 24 jam pastilah cukup buat kita bisa bekerja, punya kehidupan sosial, istirahat, berwisata, dan untuk mengejar ambisi kita. Tinggal kita aja pintar-pintar atur waktu itu.

Kita manusia dengan kecerdasan luar biasa, tidak diciptakan Tuhan cuma untuk bekerja membantu orang lain untuk menggapai ambisinya sampai kita lupa bahwa kita juga punya hidup dan ambisi. Sayangnya banyak orang yang lupa dengan hal ini karena ada iming-iming gaji yang besar.

Bayangin deh ketika kita udah di usia pensiun, kira-kira mana yang lebih membahagiakan untuk dikenang, “Saya berhasil jadi CEO di perusahaan multinasional milik orang lain karena kerja siang malam” atau “Saya melewati hidup saya dengan keluarga dan teman, menjalani berbagai minat saya, dan menggapai ambisi saya sendiri”.

Iya, banyak uang memang menggoda, tapi coba deh sejenak diam dan renungkan.

Is it really worth it?

—Rappler.com

Adelia adalah mantan reporter Rappler yang kini berprofesi sebagai konsultan public relations, sementara Bisma adalah seorang konsultan hukum di Jakarta. Keduanya bisa ditemukan dan diajak bicara di @adeliaputri dan @bismaaditya.

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.