Menerka akhir drama perebutan kursi Jabar-1

Christian Simbolon
Pasangan Ridwan Kamil-Uu dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi mendominasi dan paling berpeluang keluar sebagai pemenang kontestasi Pilgub Jabar

DEBAT. Pasangan Ridwan Kamil-Uu memaparkan visi misi di bidang pendidikan di salah satu debat resmi KPU Jabar. Foto instagram @kpujabar

JAKARTA, Indonesia—Manuver politik mengejutkan dilancarkan Partai NasDem pada pertengahan Mei 2017. Tanpa banyak wara-wiri sebelumnya, NasDem mendeklarasikan dukungan terhadap Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (Kang Emil) untuk maju menjadi bakal calon Gubernur Jawa Barat pada Pilkada Serentak 2018. Padahal, pencoblosan baru setahun lagi. 

Ketua Umum NasDem Surya Paloh hadir langsung dalam deklarasi dukungan terhadap Kang Emil di Monumen Bandung Lautan Api, ketika itu. Surya menegaskan, sudah lama kepincut dengan performa Kang Emil dalam membangun Kota Kembang, julukan Bandung. 

Setelah melihat gerak-gerik ragam, tingkah, ucapan, akhirnya NasDem memilih Ridwan Kamil sebagai calon Gubernur Jawa Barat. Kita ingin membudayakan politik tanpa mahar di Pilgub ini,” ujar Surya. 

Di DPRD Jabar, NasDem hanya memiliki 5 kursi. Sedangkan syarat sah dukungan ialah 20 kursi di parlemen lokal. Lobi-lobi politik pun dijalankan. Tak butuh lama, langkah NasDem diikuti Hanura, PKB dan PPP. Pencalonan NasDem kala itu menjadi penanda dimulainya pertarungan sengit dan drama memperebutkan tiket menuju Jabar-1.  

Pada Oktober 2017, dukungan terhadap Kang Emil pun dideklarasikan oleh Golkar. Syaratnya, Kang Emil harus mengambil kader Golkar Daniel Muttaqien sebagai pasangannya. Tarik-menarik kepentingan mulai menyelimuti pencalonan Kang Emil. Terlebih, kader Golkar yang juga Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi juga mengincar tiket Cagub Jabar dari partai berlambang pohon beringin itu.  

Ridwan Kamil gamang. Tampaknya Kang Emil tak sreg dengan Daniel. Berulangkali diultimatum Golkar agar segera meminang Daniel, Kang Emil bergeming. Golkar pun berang. Usai Munaslub Golkar pada Desember 2017 yang mengestafetkan kursi ketua umum dari Setya Novanto ke Airlangga Hartarto, dukungan terhadap Kang Emil dicabut. 

“Saya mah santai dalam berpolitik. Jangan jadi politikus kalau kagetan atau baperan (bawa perasaan) karena setiap saat pasti ada breaking news yang disukai atau tidak disukai,” kata Kang Emil kepada wartawan di Pendopo Wali Kota Bandung perihal pencabutan dukungan Golkar.  

Tak lama, Kang Emil pun mendeklarasikan Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum sebagai pasangannya. Uu merupakan kader PPP dan sudah dua periode memimpin Tasikmalaya. Uu merupakan cucu dari Kyai Choer Affandi, ulama besar pendiri pesantren Miftahul Huda Manonjaya di Tasikmalaya. 

Pilihan terhadap Uu sempat ditolak PKB. Pasalnya, PKB juga sudah punya calon pendamping yang ingin dipasangkan dengan Ridwan Kamil. Namun demikian, PKB akhirnya mengalah. Pasangan Emil-Uu atau yang kini akrab disapa pasangan RINDU itu akhirnya resmi mencalonkan diri dengan mengantongi total 24 kursi. 

Nasib tak jauh berbeda juga dialami Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar. Saat namanya mulai digadang-gadang menjadi calon Gubernur Jabar, PKS dan Gerindra sempat menyatakan bakal mendukungnya. Sempat dipasangkan dengan wakil Bupati Bekasi Ahmad Syaikhu yang notabene merupakan kader PKS, pencalonan Deddy-Syaikhu dibatalkan sepihak oleh Gerindra. 

Menurut Ketua DPD Gerindra Jabar Mulyadi, tanpa merinci alasan jelas, pihaknya merasa tidak yakin dengan pasangan Deddy-Syaikhu. “Makanya pasangan ini kita batalkan untuk Gerindra,” ujar Mulyadi, September silam. 

Deddy Mizwar tak patah arang. Pencarian tiket dukungan membawanya ke pintu Partai Demokrat. Di partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono itu, Deddy memang tercatat sebagai salah satu nama pendiri. Januari lalu, setelah mengantongi kartu keanggotaan parta berlambang mersi itu, Deddy resmi diusung Demokrat. Dedi Mulyadi dari Golkar didapuk sebagai pendamping. 

Adapun PKS dan Gerindra kemudian memantapkan hati mendukung Mayjen Purnawirawan TNI Sudrajat. Meskipun elektabilitasnya rendah di berbagai survei, Sudrajat ‘dipaksakan’ maju didampingi Ahmad Syaikhu. Konon faktor kedekatan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menjadi alasan mantan Dubes RI untuk Tiongkok itu diusung maju. Pasangan yang dikenal dengan sebutan pasangan ‘Asyik’ itu mengantongi 27 kursi di DPRD Jabar. 

Kejutan lainnya datang dari PDI-Perjuangan yang punya 20 kursi di DPRD Jabar. Sempat digadang-gadang bakal turut mengusung pasangan RINDU, PDIP memutuskan memajukan kadernya sendiri untuk posisi cagub. 

Di markas PDI-P di Lenteng Agung pada Minggu, 8 Januari, pasangan Tubagus (TB) Hasanuddin dan Anton Charliyan dideklarasikan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. TB merupakan pensiunan TNI yang sudah dua periode berkantor di gedung DPR sedangkan Anton tercatat masih menjabat sebagai Kapolda Jabar. 

“Pasangan paling menarik karena keduanya jenderal yang selama ini selalu diasosiasikan dengan pilar-pilar NKRI. Jam terbang keduanya tinggi, rekam jejaknya bagus,” kata Ketua DPP PDI-P Hendrawan Supratikno mengungkap alasan partainya memilih Hasanuddin-Charliyan atau pasangan ‘Hasanah’. 

Dengan tambahan pasangan Hasanah, total ada empat pasang kandidat yang bertarung di Pilgub Jabar. Sebagai lumbung suara dengan jumlah pemilih mencapai lebih dari 30 juta orang, maka dipastikan para kandidat bakal mati-matian berusaha menguasai Jabar. Tanggal 27 Juni mendatang, akhir drama rollercoaster Pilgub Jabar bakal ditentukan lewat kotak suara. 

Infografis Rappler Indonesia

Kekuatan pasangan ‘RINDU’ 

Pasangan ini mengungguli tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat lainnya, menurut sejumlah survei. Berdasarkan pemetaan NasDem, kantung suara RINDU berada di wilayah selatan Jabar dan Bandung Raya. Pasangan itu juga dianggap saling melengkapi dalam hal wilayah pemenangan, yang satu ‘menguasai’ kota, yang lainnya kuat di pedesaan. ‘Jabar Juara’, begitu mereka memilih jargon untuk pemenangan mereka.

Ridwan Kamil atau akrab disapa Kang Emil disebut-sebut memiliki basis kekuatan di kalangan perkotaan, terutama di Bandung Raya. Lima tahun lalu, ia menjadi Wali Kota Bandung, melalui dukungan dari kalangan aktivis lingkungan, seniman, dan anak muda. Mantan dosen ITB yang berusia 47 tahun itu, terkenal sebagai wali kota gaul yang aktif berinteraksi di media sosial. Akun Instagramnya @ridwankamil memiliki 8,1 juta followers, sedangkan akun bernama sama di Twitter memiliki 3,1 juta followers.

Sedangkan Uu diyakini “memegang” wilayah selatan Jawa Barat seperti Tasik, Ciamis, dan Garut. Lahir dari kalangan pesantren, pria 49 tahun ini sejak lama bergelut dalam dunia politik. Sebelum menjabat bupati selama dua periode hingga 2021, ia berada di lembaga dewan. Pada 2004-2009 ia menjadi Ketua DPRD Tasik. Sepanjang karier politiknya ia setia dengan dukungan dari PPP. 

Pasangan ini juga mengadopsi sistem crowd funding sebagai salah satu sumber pendanaan kampanye mereka, melalui opsi ‘Udunan Warga’ di situs mereka jabarjuara.id. Sistem ini belum terlalu populer dalam perpolitikan Indonesia. 

Ridwan-Uu memiliki visi: Jabar Juara Lahir Batin. Sedangkan misi mereka, antara lain menghadirkan manusia yang beriman, bertaqwa, serta mendorong peran tempat ibadah sebagai sentra keilmuan dan interaksi sosial; melahirkan manusia yang bahagia, berkualitas, dan produktif; serta mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik. 

Infografis Rappler Indonesia

Kekuatan pasangan ‘Duo DM’ 

Baik Dedi Mizwar maupun Dedi Mulyadi berstatus sebagai petahana. Hal itu menjadi keuntungan bagi Duo DM. Keduanya juga memahami kontur politik Jabar bahkan hingga ke pelosok. Sebagai Wakil Gubernur Jabar, Deddy Mizwar rutin berkunjung ke daerah-daerah pelosok di Jabar. Begitu pula Dedi Mulyadi dengan statusnya sebagai Ketua DPD Golkar.  

Dari hitung-hitungan di atas kertas, pasangan Duo DM juga bisa disebut unggul. Pasangan itu mengantongi 29 kursi dari gabungan kursi Demokrat dan Golkar. Hanya saja butuh upaya ekstra keras untuk mengonversinya ke dalam suara aktual pada hari pencoblosan nanti.  

Kekuatan lainnya ialah kekayaan pribadi keduanya. Menurut Center for Budget Analysis (CBA), kekayaan duet Deddy-Dedi ini mencapai sekitar Rp 42 miliar atau tiga kali lipat lebih besar ketimbang pasangan RINDU yang hanya sekitar Rp 11 miliar. Dengan kekayaan sebesar itu, urusan logistik dan kampanye bakal lebih mudah bagi mereka. 

Di Pilgub Jabar, kedua pasangan itu mengusung sejumlah misi untuk membangun Jabar lebih baik. Pertama, mewujudkan tata kelola birokrasi yang bersih. Kedua, mewujudkan sumber daya manusia berkualitas. Ketiga, meningkatkan iklim investasi yang berkeadilan. Keempat, menata kehidupan masyarakat Jabar agar lebih demokratis dan mandiri.

Infografis Rappler Indonesia

Kekuatan pasangan ‘Asyik’ 

Pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) bisa dikata paling minim sorotan. Terlebih, Sudrajat telah lama tenggelam dari ingatan publik selepas mengemban tugas sebagai Duta Besar RI untuk Tiongkok. Begitu pula nama Syaikhu yang cenderung hanya populer di kawasan Bekasi dan sekitarnya. 

Namun demikian, salah satu keunggulan dari pasangan itu ialah mesin parpol yang mengusung mereka. Jabar kerap disebut sebagai basis massa PKS karena militansi kader-kadernya. Di dua Pilgub Jabar sebelumnya, duet Gerindra dan PKS juga sukses mendudukan kader PKS Ahmad Heryawan (Aher) di kursi Jabar-1. Padahal, Aher pada Pilgub Jabar 2008 dan 2013 sama sekali tidak diunggulkan. 

Di Pilgub Jabar, pasangan Asyik memiliki sejumlah misi. Pertama, membangun masyarakat yang agamis, sehat, unggul, gotong royong dan harmonis. Kedua, meningkatkan kesejahteraan. Ketiga, membangun infrastruktur. Keempat, membangun tata kelola pemerintahan yang profesional. 

Infografis Rappler Indonesia

Kekuatan Pasangan ‘Hasanah’ 

Mayjen (Purn) Tubagus Hasanuddin dan Irjen Anton Charliyan menjadi pasangan bungsu dalam pertarungan politik di Jabar, yang didaftarkan pada hari terakhir masa pendaftaran calon. PDIP yang—setelah melalui drama politik—urung mengusung Ridwan Kamil, secara mengejutkan mengajukan pasangan ini dan tidak berkoalisi dengan partai mana pun.

Di beberapa survei, pasangan ini berada di posisi paling bontot. Namun demikian, mengingat pasangan tersebut diusung PDI-Perjuangan yang memiliki 20 kursi di DPRD, menurut Direktur Eksekutif SMRC, Djayadi Hanan, pasangan tersebut memiliki keunggulan dari segi soliditas konstituen. Lazimnya, konstituen PDIP patuh mengikuti arahan dari ‘pusat’.

Pada masa kampanye, ratusan ribu relawan mereka diterjunkan door to door memperkenalkan mereka melalui selebaran atau foto. Pola kampanye tersebut bisa mendekatkan paslon dengan pemilih. Penunjukan Komjen Mochamad Iriawan sebagai penjabat Gubernur Jabar pada 18 Juni juga bisa kerap disebut menjadi nilai plus bagi pasangan ini.

Pasangan ini menawarkan tujuh program unggulan mereka yaitu boga gawe (punya pekerjaan) berupa pembukaan lapangan kerja untuk akan memangkas pengangguran; Jabar sebeuh (Jabar kenyang) melalui penyediaan pangan murah, imah rempeg (rumah layak) lewat program kredit rumah 1%, sakola gratis (sekolah gratis), Jabar cageur (Jabar sehat) melalui pelayanan kesehatan gratis, turkamling yakni pembangunan dan penataan infrastruktur, keamanan dan lingkungan, dan molotot.com yakni sebuah situs yang akan mengawasi kinerja pemerintahan mereka agar tetap amanah.

Infografis Rappler Indonesia

Panas dan sulit diprediksi

Sebulan menjelang pencoblosan suara, pasangan RINDU masih kerap unggul di papan survei berbagai lembaga. Termasuk di antaranya dalam survei Indo Barometer yang dirilis di Jakarta, pekan lalu. Survei Indo Barometer menempatkan elektabilitas pasangan Rindu sebesar 36,9% atau terpaut 6,8% dari pasangan Duo DM yang mengantongi 30,1%. 

Namun demikian, menurut Direktur Eksekutif Indobarometer M Qodari, Pilgub Jabar tergolong sulit diprediksi hasilnya jika hanya mengacu pada papan survei. Pasalnya, elektabilitas pasangan RINDU tercatat mengalami penurunan. Pada survei serupa yang digelar Januari 2018, elektabilitas RINDU sempat mencapai 44,8%. 

“Ibarat pertandingan Portugal-Spanyol (di Piala Dunia 2018 yang berakhir imbang 3-3), Pilgub Jabar ini panas dan masih sulit diprediksi. Tetapi, dua paslon bakal mendominasi, pasangan Ridwan Kamil-Uu dan pasangan Deddy-Dedi. Kalau melihat hasil survei, sulit yang lain menyaingi,” ujar Qodari saat memaparkan hasil survei. 

Pendapat serupa diutarakan pengamat politik Hanta Yuda. Menurut dia, sulit bagi PKS dan Gerindra mengulang sejarah dengan memenangi Pilgub Jabar meskipun memiliki mesin politik yang andal. Pasalnya, mesin tersebut tidak didukung oleh tokoh yang mumpuni. 

“Harus objektif saya katakan tidak begitu kuat menjual. Pak Sudrajat muncul belakangan. Beda ceritanya kalau misalnya figur yang populer. Kita lihat Ahmad Heryawan yang didukung mesin PKS pada 5 tahun lalu berpasangan dengan Deddy Mizwar yang populer. Bisa saling melengkapi,” ujarnya. 

Lebih jauh, Hanta mengatakan, meskipun pemilih nonrasional mencapai 30%, politisasi suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) sulit digunakan di Jabar. Pasalnya, pasangan yang diasosiasikan dengan umat Islam di Jabar tak hanya pasangan Sudrajat dan Ahmad Syaikhu saja.  

“Deddy Mizwar juga dipersepsikan cukup bagian dari kelompok itu. Katakanlah kelompok Islam. Selain itu, ada Ridwan Kamil juga dan seterusnya. Jadi masyarakatnya itu tidak terbelah. Kalau dia terbelah seperti Jakarta itu berpotensi, sementara di Jawa Barat ternyata tidak,” kata Hanta.

—Rappler.com