4 hal yang akan mewarnai dunia ekonomi dan bisnis tahun ini

Haryo Wisanggeni
4 hal yang akan mewarnai dunia ekonomi dan bisnis tahun ini

EPA

Dampak paket kebijakan ekonomi akan mulai terasa, tapi ketidapastian global berpotensi berlanjut

JAKARTA, Indonesia — Dinamika perekonomian Indonesia sepanjang 2015 dapat digambarkan dengan satu kata: ketidakpastian.

Siapa sangka Tiongkok akan mendevaluasi mata uangnya? Atau terjadi kebakaran hutan dan lahan yang merugikan kita hingga senilai nyaris 2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). 

Lalu bagaimana dengan 2016 ini? Berikut beberapa hal yang akan mewarnai dinamika ekonomi dan bisnis pada tahun ini, menurut Rappler: 

1. Dampak paket kebijakan ekonomi mulai terasa

Pada pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) hari pertama tahun ini, Senin, 4 Januari, Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengungkapkan optimismenya dalam menatap dinamika perekonomian pada 2016.

Mengikuti perjalanan secara detail satu tahun kemarin, saya optimis pada tahun 2016 kita akan lebih baik, jauh lebih baik” kata Jokowi. Benarkah demikian? 

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal sepakat bahwa memang terdapat potensi situasi perekonomian Indonesia pada 2016 akan lebih baik. Salah satunya karena paket kebijakan ekonomi yang diluncurkan pemeritah sepanjang 2015 akan mulai terasa dampaknya.

“Betul, itu (paket kebijakan ekonomi) akan mulai terasa dampaknya tahun ini,” kata Fithra kepada Rappler, Rabu, 6 Januari. 

(BACA: Pengamat: Paket ‘September 1’ belum akan berdampak nyata)

Di tengah situasi global maupun internal yang tak menguntungkan, pemerintah berinisiatif melahirkan delapan paket kebijakan ekonomi pada 2015. Ada pesan yang jelas dari semua paket ini: Pemerintah ingin menjaga kepercayaan pasar dan mendorong laju pertumbuhan ekonomi.

2. Benturan perkembangan teknologi dan regulasi

Dari kasus pelarangan ojek online (daring) oleh Kementerian Perhubungan—sebelum akhirnya kebijakan ini diralat—hingga persoalan hukum yang dialami layanan rental mobil berbasis aplikasi, Uber, ada satu benang merah yang jelas: Terdapat benturan antara regulasi yang ada dengan perkembangan bisnis berbasis teknologi yang lahir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

(BACA: Merangkul Uber dan Go-Jek, pemerintah butuh regulasi baru)

Padahal pertumbuhan pangsa pasar yang menjanjikan berpotensi akan mendorong lahirnya semakin banyak bisnis dengan model bisnis semacam ini. Dalam layanan ojek daring, hal ini terlihat nyata dengan lahirnya Grab Bike, Blu-Jek hingga LadyJek. 

Pemerintah, pelaku bisnis dan semua pemangku kepentingan yang terkait harus mempersiapkan diri dalam menghadapi situasi ini.

3. UMKM kita berjuang hadapi MEA

Siap tidak siap, suka tidak suka, proses integrasi ekonomi negara-negara ASEAN menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah dimulai pada penghujung 2015 lalu. 

(BACA: 5 hal yang perlu diketahui soal Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015)

Dampaknya akan mulai dirasakan oleh para pemangku kepentingan yang terkait pada 2016 ini, termasuk para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UKMK) yang menjadi tulang punggung perekonomian kita.

MEA akan membuka peluang, sekaligus ancaman. Peluang datang dari pasar yang membesar, dan kesempatan kolaborasi dalam proses pembuatan rantai pasokan dengan melibatkan lebih dari satu negara sebagai basis produksi untuk mendapatkan efisiensi tenaga kerja dan logistik. Ancaman akan datang jika UKM tidak siap dan pemerintah gagal mendukung dengan regulasi.

Kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia sendiri mencapai 58 persen. Bila mereka gagal memanfaatkan peluang yang lahir dari hadirnya MEA dan malah tergerus arus persaingan, perekonomian kita akan merugi. 

Perjuangan pemerintah bersama para pelaku UMKM dalam menghadapi MEA ini akan mewarnai 2016. 

4. Pengaruh Tiongkok, AS, dan harga minyak

Dalam lansekap global, pergerakan dua poros perekonomian dunia, Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang berlawanan arah pada 2015 memicu merebaknya ketidakpastian. Perekonomian Tiongkok melambat sementara Amerika Serikat mengalami pemulihan.

Hal ini diungkapkan Ekonom dan Rektor Universitas Paramadina Firmanzah kepada Rappler tahun lalu, dalam sebuah wawancara beberapa pekan setelah People Bank of China mendevaluasi Yuan dan membuatnya lebih adaptif dengan mekanisme pasar. 

Ketidakpastian membuat para investor membatasi pergerakan mereka dan cenderung menanamkan uangnya pada aset dengan faktor risiko lebih rendah. Di dalam negeri hal ini mendorong depresiasi kurs rupiah terhadap dolar AS. 

Data performa industri manufaktur yang dirilis di Tiongkok awal 2016 ini menunjukkan bahwa perlambatan ekonomi Negeri Tirai Bambu masih berlanjut. Sementara di Amerika Serikat, proses pemulihan masih terjadi meskipun untuk sejumlah indikator, laju kecepatannya ada di bawah ekspektasi pasar. 

Melihat situasi ini, ditambah potensi volatilitas harga minyak akibat konflik di Timur Tengah, besar kemungkinan ketidakpastian masih akan mewarnai perekonomian global pada 2016. — Rappler.com

BACA JUGA:

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.