Dua ancaman utama laut: Penangkapan ikan berlebih dan sampah plastik

Rika Nova
Dua ancaman utama laut: Penangkapan ikan berlebih dan sampah plastik
Plastik yang dibuang di lautan dapat berakhir sebagai racun di dalam tubuh manusia

Bulan lalu, di perhelatan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Ellen MacArthur dengan tegas mengatakan populasi plastik di lautan akan jauh melebihi populasi ikan pada 2050. Sementara penelitian yang dilakukan 10 tahun sebelumnya menemukan bahwa, pada tahun yang sama, akan terjadi krisis stok ikan di seluruh dunia.

Laporan yang bertajuk The New Plastics Economy keluaran Ellen MacArthur Foundation menemukan saat ini ada 150 juta ton sampah di lautan. Artinya, 8 juta ton sampah mencapai lautan setiap tahun, atau sama dengan satu truk sampah dibuang ke laut setiap menitnya. 

Lebih mengerikan lagi, apabila pola konsumsi manusia tidak berubah, maka pada 2025 lautan akan berisi satu ton sampah untuk setiap tiga ton ikan. Hingga pada 2050, akhirnya berat sampah di lautan akan melebihi total populasi ikan.

Penemuan yang dipresentasikan di Industry Agenda WEF ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan 10 tahun lalu oleh kelompok peneliti internasional di bidang ekologi dan ekonomi. Penelitian yang dilakukan selama 4 tahun terhadap 7.800 biota laut tersebut menemukan bahwa stok ikan dan hidangan laut akan habis pada 2050 lantaran praktik penangkapan ikan berlebih.

Penangkapan ikan berlebih juga disebut-sebut akan menyabotase stabilitas laut, termasuk menurunkan kemampuan laut dalam mengatasi perubahan iklim.

Lebih dari itu, plastik yang dibuang di lautan dapat berakhir sebagai racun di dalam tubuh manusia. Kantong plastik yang dibuang ke lautan, terutama yang bersuhu hangat seperti di perairan nusantara, akan mudah melepaskan kandungan kimia beracun.

Selanjutnya, kimia beracun ini akan diserap atau dimakan oleh biota laut, termasuk ikan dan rumput laut yang menjadi bagian dari rantai makanan manusia. Pada akhirnya bahan kimia dalam sampah plastik akan meracuni manusia.

Dalam skenario lain, plastik dapat tertelan, atau ditelan karena tampak seperti makanan, oleh penyu, dugong, atau mamalia laut lain, hingga akhirnya mengancam kehidupan mereka. Pernah lihat video menyedihkan ini? 

Untuk mengatasi persoalan ini memang tidak mudah. Pertama, sulit sekali menelusuri sumber ikan yang ada di atas meja makan kita. Apalagi pada 2013, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutarjo menandatangani peraturan yang mengizinkan bongkar muat di tengah laut demi efisiensi biaya industri perikanan tangkap.

Meski pada tahun lalu Menteri Kelautan dan Perikanan saat ini, Susi Pudjiastuti, sudah melarang bongkar muat ikan di tengah laut dan mengubah kebijakan tersebut, namun bongkar muat tengah laut secara ilegal tetap terjadi. 

Bagaimana kita tahu ikan ini ditangkap di lautan Flores yang bersih segar atau dari laut teluk Jakarta yang hitam penuh sampah kalau nelayannya diam-diam menjual ke kapal besar di tengah lautan? Bagaimana kita tahu kalau ikan tersebut adalah ikan segar yang ditangkap dengan tali pancing atau hasil dari pukat harimau kalau tak ada catatan ketelusuran?

Kendala lain adalah saat ini industri plastik dan industri kemasan berada di bawah tekanan permintaan yang begitu besar, terutama permintaan yang berasal dari negara berkembang, Indonesia salah satunya.

Apalagi plastik yang menggunakan minyak bumi sebagai bahan baku utamanya sangat diuntungkan oleh harga minyak bumi yang terus merosot hingga di bawah US$ 30 per barrel (jauh lebih murah dari pada harga satu kali makan malam di restoran di bilangan SCBD Jakarta, atau cuma seharga dua gelas cocktail). 

Sementara untuk memproduksi bioplastik juga lebih mahal, dan daur ulang tidaklah benar-benar mendaur ulang. Kenyataannya, tidak semua jenis plastik dapat didaur ulang. Selain itu, plastik hasil daur ulang memiliki kualitas yang jauh lebih rendah dibandingkan kualitas sebelumnya. L

alu pada akhirnya, plastik-plastik ini dibuang atau dibakar juga. Padahal masyarakat (dan juga industri) telah terlanjur melihat plastik sebagai barang yang begitu murah dan praktis. 

Lalu, apa yang dapat kita lakukan selain marah-marah di status Facebook dan mengunggah foto penuh inspirasi di Instagram?

Jawabannya klasik, tapi tetap berguna sepanjang masa: Bawa kantong belanja, kotak makan, dan botol minum sendiri. Setiap hari.

Pada awalnya orang lain akan menganggap aneh, dan menilai kamu orang yang ribet. Namun, seperti kata Mahatma Gandhi: First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then you win.

Pekerja menyiapkan ikan sebelum lelang di Tempat Pelelangan Ikan Karangsong, Indramayu, Jawa Barat, pada 22 Januari 2016. Foto oleh Dedhez Anggara/Antara

Setelah melakukan hal tersebut bertahun-tahun, saya akhirnya berhasil memengaruhi ibu untuk membawa tas belanja sendiri setiap kali ke pasar tradisional, membuat pacar membawa botol minum ke mana-mana, dan sekarang pantry kantor juga memiliki sudut kotak bekal kosong yang dapat digunakan untuk membeli makan siang.

Bayangkan kalau saya tidak membawa tempat makan sendiri, dan jajan tiga kali sehari untuk sarapan, makan siang, dan makan malam, artinya ada tiga sampah kantong plastik dalam sehari. Itu baru kantong plastiknya saja, belum termasuk tempat makanan yang biasanya berbahan Styrofoam.

Maka enam sampah yang tidak dapat diurai sampai ratusan tahun dalam sehari, atau sama dengan 1.080 sampah dalam satu tahun, belum termasuk kantong plastik belanja bulanan dan kantong plastik dari toko pakaian. 

Lalu kalau di rumah ada lima anggota keluarga, maka keluarga saya menyumbang paling tidak 5.400 sampah dalam setahun. Lalu sampah-sampah ini akan tetap ada hingga ibu saya punya cucu, dan cicit, dan cicitnya punya cicit lagi, bahkan hingga ratusan tahun sejak cicit terakhirnya lahir.

Lalu, bagaimana dengan perikanan yang merusak? Salah satu hal paling mudah yang dapat saya lakukan adalah menghindari pembelian spesies ikan dengan status terancam, misalnya tuna sirip biru. Selain itu saya juga menghindari membeli ikan dalam kaleng. 

Saya lebih percaya ikan yang megap-megap kehabisan nafas di pasar tradisional. Meski ngeri melihat ikan menjemput ajal, namun hal tersebut menunjukan ikan tersebut tidak ditangkap oleh kapal besar yang menggunakan jaring raksasa bertenagakan manusia yang diperbudak di lautan. 

Ikan yang ditangkap oleh kapal besar di tengah laut biasanya dijual dalam keadaan beku, dan tentu saja sudah tidak megap-megap lagi. Ikan beku yang akhirnya masuk ke kaleng atau ke toko-toko besar, bisa saja usia kematiannya sudah mencapai satu minggu, atau bahkan tiga bulan ketika mencapai kotak-kotak kaca di supermarket besar. 

Lagi pula, kalau membeli dari abang-abang pasar tradisional, artinya kita sedang memperkuat fundamental ekonomi Indonesia yang katanya ditopang oleh sektor informal.

Setelah satu dekade terakhir saya membawa kantong plastik dan kotak makan sendiri, teluk Jakarta mungkin tetap hitam dan kotor, Bantar Gebang juga masih menampung jutaan ton sampah Jakarta setiap tahunnya, dan kapal ikan raksasa masih mengeruk laut Arafura. Namun, menjadi bagian dari solusi, sekecil apapun, membuat saya bangga, se-liliput apapun pencapaiannya.

Karena satu-satunya hal paling mudah lagi nyata yang dapat kita lakukan untuk melindungi lautan dan hidangan laut di meja makan adalah dengan mengurangi penggunaan kantong plastik dan botol sekali pakai, mengurangi konsumsi barang yang menggunakan kemasan plastik, serta berhati-hati memilih ikan. 

Seperti kata iklan layanan pemerintah tahun 1990an: Kalau bukan kita, siapa lagi? —Rappler.com

Rika Novayanti adalah mantan wartawan ekonomi di Bisnis Indonesia. Ia kemudian bergabung dengan Greenpeace Indonesia. Rika tertarik dengan masalah lingkungan dan perempuan. Follow Twitter-nya di @RikaNova atau kunjungi blognya di www.rikanova.com.

BACA JUGA:

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.