Kalah proyek KA Cepat, investasi Jepang di Indonesia jalan terus

Uni Lubis
Kalah proyek KA Cepat, investasi Jepang di Indonesia jalan terus
Investasi Jepang ke Indonesia pada 2015 mencapai 2,9 miliar dolar AS, yang berarti naik dibanding tahun sebelumnya

 

JAKARTA, Indonesia – Kalah di proyek prestisius Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung sempat membuat Jepang agak kesal terhadap pemerintah Indonesia. Itu terungkap dari keterangan pers Menteri Transportasi Jepang, Akihiro Ota. 

“Jepang akan meninjau kembali semua hubungan bisnis dengan Indonesia, terutama di bidang pertanahan, infrastruktur, dan transportasi,” kata Ota dalam sebuah jumpa pers di kantornya, di Tokyo, pada 2 Februari.

Tapi, bagi Jepang, kepentingan investasi di Indonesia sudah terlalu banyak dan penting untuk hanya terganggu gara-gara proyek KA Cepat.

Menteri Perindustrian RI Saleh Husin mengatakan bahwa investasi Jepang ke Indonesia terus tumbuh seiring kepercayaan pelaku usaha asal Negeri Sakura itu pada iklim bisnis dan industri. 

Penanaman modal Jepang banyak mengalir ke industri manufaktur dan jasa yang turut menciptakan lapangan kerja.

 “Kami mengapresiasi kontribusi Jepang dalam mengembangkan industri di Indonesia. Apalagi, aliran modal itu juga mengarah ke industri yang meningkatkan nilai tambah, antara lain komponen baja untuk otomotif, makanan, minuman, hingga petrokimia,” kata Saleh setelah menerima Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Yazuaki Tanuzaki, di kantor Kementerian Perindustrian, pada Kamis, 3 Maret.

Hingga saat ini, Jepang merupakan investor terbesar di sektor otomotif di Indonesia. Pemerintah Indonesia mengundang investor Jepang agar memperkuat posisinya dengan meningkatkan kontribusinya terhadap pembangunan industri kendaraan bermotor.

“Selain terus memproduksi kendaraan global yang berorientasi ekspor, juga dengan memperkuat struktur industri otomotif melalui investasi di sektor hulu bahan baku dan suku cadang dan mulai secara bertahap melakukan kegiatan research and development di Indonesia yang melibatkan sumber daya manusia lokal,” kata Saleh.

Dubes Tanizaki mengatakan pemerintah Jepang berharap kemitraan kedua negara, baik pemerintah maupun pelaku usaha, terus berjalan. Menurutnya, investasi Jepang ke Indonesia pada 2015 mencapai 2,9 miliar dolar Amerika Serikat yang berarti naik dibanding tahun sebelumnya.

“Investasi berdasar komitmen juga menggembirakan. Pada 2015 nilainya 8 miliar dolar AS dan ini meningkat 95 persen dibanding 2014. Saya berharap angka ini menjadi realisasi investasi,” kata Tanizaki.

Menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), selama lima tahun terakhir investasi Jepang di Indonesia mencapai 12,1 miliar dolar AS, di mana 90 persennya bergerak di bidang manufaktur. 

Pada 2014 sendiri, nilai investasi Jepang mencapai 2,7 miliar dolar AS atau turun sebanyak 2 miliar dolar AS dari 4,7 miliar dolar AS pada 2013.

Dalam bidang pembangunan infrastruktur, Tanizaki mengatakan pemerintah Jepang mendukung upaya ini lantaran bakal mendongkrak pertumbuhan ekonomi, memangkas biaya logistik, memeratakan pengembangan industri, dan mendorong investasi.

Di bidang infrastruktur listrik, Jepang mendapat jatah kerjasama dalam public private partnerships (PPP) untuk proyek PLTU di Batang, Jawa Tengah. PLTU Batang adalah proyek listrik terbesar di kawasan negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN). 

Proyek listrik dengan kapasitas 2 x 1.000 MW dan bernilai Rp 54 triliun ini sempat tertunda empat tahun. Presiden Joko “Jokowi” Widodo meninjau dimulainya proyek ini pada akhir Agustus 2015.–Rappler.com

BACA JUGA:

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.