Apa yang perlu kamu tahu soal penculikan aktivis 1998

Febriana Firdaus
Apa yang perlu kamu tahu soal penculikan aktivis 1998
24 aktivis dan mahasiswa diculik pada 1998, sebagian dari mereka kembali, sebagian lagi hilang. Satu ditemukan meninggal.

JAKARTA, Indonesia — Penulis masih duduk di bangku sekolah SMP di Jember, Jawa Timur, saat kerusuhan Mei 1998 terjadi. Ketika itu, penulis hanya bisa menyaksikan hiruk pikuk kondisi di ibu kota dan beberapa kota besar lainnya melalui layar televisi.

Salah satu berita yang sampai ke kota-kota kecil di Indonesia, selain harga sembako yang meroket, adalah terkait penculikan aktivis. Meski demikian, informasi tersebut masih samar-samar, mengingat hanya beberapa stasiun televisi lokal saja yang mengudara.

Setelah duduk di bangku kuliah, penulis baru mengetahui nama-nama aktivis dan mahasiswa yang diculik.

Sebagian dari pembaca Rappler Indonesia mungkin mengalami hal yang sama, terutama mereka yang tinggal di luar Jakarta. 

Bagi kamu yang tak mendapat banyak informasi tentang peristiwa penculikan 1998, Rappler merangkum informasi mengenai kejadian tersebut dalam sebuah infografis di bawah ini:

Nama-nama aktivis yang diculik, antara lain: 

  1. Aan Rusdiyanto (kembali)
  2. Andi Arief (kembali)
  3. Desmond Junaedi Mahesa (kembali)
  4. Faisol Reza (kembali)
  5. Haryanto Taslam (kembali)
  6. Mugiyanto (kembali)
  7. Nezar Patria (kembali) 
  8. Pius Lustrilanang (kembali)
  9. Raharja Waluya Jati (kembali)
  10. Dedy Umar Hamdun (hilang)
  11. Herman Hendrawan (hilang)
  12. Hendra Hambali (hilang)
  13. Ismail (hilang)
  14. M Yusuf (hilang)
  15. Noval Al Katiri (hilang)
  16. Petrus Bima Anugrah (hilang)
  17. Sony (hilang)
  18. Suyat (hilang)
  19. Ucok Munandar Siahaan (hilang)
  20. Yadin Muhidin (hilang)
  21. Yani Afri (hilang)
  22. Wiji Thukul (hilang) 
  23. Abdul Naser (hilang) 
  24. Leonardus Nugroho (ditemukan meninggal dengan luka tembakan) 

 Pembentukan Dewan Kehormatan dianggap tak mampu memenuhi rasa keadilan aktivis yang diculik beserta keluarganya.

Setelah itu, Komite Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) turun tangan untuk melakukan penyelidikan. 

—Rappler.com

BACA JUGA:

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.