Indonesia

Merengkuh perdamaian sejati, deritanya tiada akhir

Rahadian Rundjan
Lonceng Perdamaian berdentang setiap tanggal 21 September, mengingatkan umat manusia bahwa perdamaian adalah bagian dari kemanusiaan.

Hari Perdamaian Internasional

Tanggal 21 September adalah hari yang istimewa bagi kemanusiaan. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), yang secara konstruktif telah merancang dan menjaga perdamaian sejak berakhirnya Perang Dunia II, merasa bahwa idealisme terhadap perdamaian dunia harus diabadikan.

Karena itulah, setelah pertama kali digagas pada tahun 1981, untuk kemudian dikukuhkan kembali pada tahun 2001, Hari Perdamaian Internasional dirayakan setiap tanggal 21 September di seluruh dunia.

Mudah ditebak, pembentukan PBB sebagai ujung tombak perdamaian dunia lebih dilandasi atas dasar pertimbangan politik Sekutu (Amerika Serikat, Inggris, Tiongkok, dan Uni Soviet) untuk merekayasa stabilitas politik dunia pasca kekalahan Jerman dan Jepang dalam Perang Dunia II, daripada sebagai solusi untuk mengatasi trauma masyarakat dunia yang baru saja mengalami bencana perang berskala global yang menghancurkan.

Buktinya, sampai sekarang, perang masih terjadi di mana-mana, entah karena PBB tidak efektif, atau memang karena tabiat manusia yang memang tidak bisa diubah. Kata damai masih tabu bagi kita semua, bahkan di zaman ketika peradaban manusia sudah begitu maju.

Sains dan teknologi pun telah membuat keajaiban dalam banyak hal, namun masalah-masalah mendasar umat manusia masih tetap eksis.

“Tak ada keraguan tentang berkembangnya kemajuan material dan teknologi, namun entah bagaimana hal tersebut belum memadai mengingat kita masih belum berhasil menghadirkan perdamaian dan kebahagiaan atau menanggulangi penderitaan,” ujar Dalai Lama dalam ceramah yang berjudul A Human Approach to World Peace.

Ya, sejak dimulainya sejarah, manusia sudah saling marah, saling tidak setuju, saling hantam, bahkan membunuh satu sama lain. Hasrat untuk berkonflik memang dimiliki semua makhluk hidup, bedanya, manusia dapat merencanakan dan mengorganisir persiapan mereka untuk berperang dengan sesamanya.

Chris Hedge, jurnalis dan penulis berkebangsaan Amerika Serikat, menulis dalam ‘What Every Person Should Know About War’, The New York Times, 6 Juli 2003, bahwa di abad ke-20 saja, setidaknya 108 juta jiwa melayang akibat perang, terutama dalam Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan serangkaian perang proksi selama Perang Dingin.

Ditambah lagi, antara 150 juta sampai 1 milyar jiwa melayang akibat peperangan sepanjang sejarah umat manusia. Dalam 3.400 tahun sejarahnya, manusia baru benar-benar merasakan situasi damai selama 268 tahun saja atau sekitar 8% dari sejarah yang tercatat.

Perang dan damai bagaikan dua sisi koin yang tak terpisahkan, dan ia selalu hadir dalam narasi sejarah umat manusia. Memang, perdamaian bukan berarti melenyapkan konflik sepenuhnya. Bedanya, dalam suasana perdamaian, sebuah konflik dapat dipecahkan dengan rasa hormat dan konstruktif.

Apakah esensi perdamaian itu?

Menurut Charles Chatfield, sejarawan asal Amerika Serikat dalam “Concepts of Peace in History”, dimuat dalam  jurnal Peace and Chance, Juli 1986, setidaknya perdamaian memiliki tiga komponen, yakni tata kelola hukum yang berasosiasi dengan kata Latin pax; hubungan sosial etis dari kata Yunani elrene; dan rasa untuk berbuat baik yang mengalir dari keutuhan spiritual, yang disampaikan dari kata Ibrani shalom.

Sejarah mencatat beberapa masa kala kedamaian hadir dalam waktu yang relatif panjang dan ketiga komponen tersebut terlihat. Misalnya, Pax Romana, sebuah masa ketika orang-orang Romawi, yang selama 200 tahun telah memerangi bangsa asing atau satu sama lainnya, mulai hidup damai dan menanggalkan ambisi ekspansionis kekaisarannya.

Pax Romana berlangsung selama 206 tahun (27 SM – 180 M). Selain itu, ada pula Pax Mongolica (abad ke-14) ketika Kekaisaran Mongol mengontrol Asia dan sebagian Eropa, yang memungkinkan terjadinya perdagangan dan pertukaran gagasan antar benua yang intens, serta Pax Brittanica (1815-1914), kala Inggris dengan kuasa kolonialnya mampu  mendikte perimbangan politik Eropa dan dunia internasional untuk menekan konflik antar bangsa di dunia.

Namun, harus diketahui pula bahwa baik Pax Romana, Pax Mongolica, dan Pax Brittanica, semuanya bermula dari dan berakhir dengan peperangan. Ada sebuah istilah klasik bernada pesimis, bahwa perdamaian ada karena tidak adanya konflik, dan masa-masa damai hanyalah rehat sesaat sebelum manusia kembali berperang antar sesamanya.

Sayangnya, dalam banyak hal, pernyataan itu benar adanya.

Johan Galtung, sosiolog asal Norwegia yang juga pelopor studi perdamaian dan konflik membagi perdamaian ke dalam dua jenis, yakni perdamaian positif dan negatif.

Perdamaian positif terbentuk ketika rasa tenang dan stabilitas diisi oleh hadirnya keadilan, persamaan hak, toleransi, dan terbukanya kesempatan luas bagi mereka yang hidup dalam masa-masa stabil tersebut untuk memaksimalkan potensi kehidupan mereka. Dengan kata lain, perdamaian yang berlandaskan asas harmoni dan madani.

Sedangkan perdamaian negatif berlandaskan pada stabilitas yang semu. Masyarakat hidup aman dan nyaman karena benih-benih konflik dieliminasi, berikut daya kritis dan kreativitas masyarakatnya.

Di Indonesia, hal tersebut cukup familiar ditemukan pada masa Orde Baru. Ketentraman negara ditebus dengan hilangnya hak-hak kritis warga negaranya. Manajemen konflik yang buruk menyebabkan ledakan kemarahan dan kerusuhan masyarakat di penghujung akhir Orde Baru.

Momen 21 September adalah refleksi bagi kita, umat manusia untuk terus berupaya merengkuh perdamaian sejati, meskipun jalan ke sana masih jauh dan penuh derita. Setidaknya, mencari kedamaian dapat dimulai dari diri masing-masing. Dan seperti Albert Einstein katakan, kunci mencapai perdamaian adalah saling memahami.

Selamat Hari Perdamaian Internasional!

–Rappler.com