Indonesia

Ketika perempuan menyuarakan hak mereka

Ursula Florene
Hak perempuan adalah hak asasi manusia. Hancurkan patriarki hingga ke akarnya.

MEMPERJUANGKAN HAK. Foto oleh DAVID MCNEW / AFP

JAKARTA, Indonesia — Ratusan ribu orang memadati Washington D. C. pada Sabtu, 21 Januari 2017. Bukan, mereka tidak ada di sana untuk menghadiri pengambilan sumpah Presiden Amerika ke-45, Donald J. Trump, yang justru berlangsung sehari sebelumnya.

Mereka ada di sana untuk protes. “Kepada para pemberontak, untuk penolakan kita para perempuan terhadap era tirani baru ini. Di mana bukan hanya perempuan yang berada dalam bahaya, tetapi semua orang yang termarjinalkan,” kata bintang pop Madonna, yang turut hadir pada aksi besar-besaran itu.

WOMEN'S MARCH GLOBAL. Foto oleh Robyn BECK / AFP

Ia hanyalah satu dari segelintir nama besar yang menyuarakan protes dan aspirasi mereka. Juga hanya satu dari banyak perempuan yang memberontak, dengan topi rajut kucing berwarna merah muda, dan spanduk provokatif.

Meski ide awalnya adalah untuk menolak pelantikan Trump, yang terkenal sebagai seorang pelaku pelecehan seksual, perjuangan para perempuan ini lebih dari itu. Mereka memperjuangkan hak-hak kesehatan yang diwacanakan hilang saat kabinet Trump berkuasa. Juga keamanan bagi warga LGBTQ, imigran, ataupun berkulit warna yang mendapat ancaman verbal semasa kampanye Trump.

WOMEN'S MARCH JAKARTA. Aktivis perempuan menuliskan aspirasi mereka di trotoar dalam rangka 'Women's March Global' pada Ahad, 22 Januari 2017 di Taman Semanggi. Foto dari Hollaback! Jakarta

Awalnya terkesan domestik, penolakan sebagian warga Amerika dengan presiden barunya. Namun aksi ini justru melebar. Tidak hanya di negara bagian Amerika lainnya, melainkan menyebar ke Eropa, hingga Indonesia.

Lawan pelecehan!

Angie Kilne, inisiator Women’s March di Jakarta, mengungkap alasannya turut beraksi meski tak terdampak langsung dari perbuatan Trump. “Menunjukkan solidaritas, dan mendiskusikan mengapa Women’s March Global berarti bagi kami. Setiap orang memiliki alasan berbeda, dengan satu benang merah untuk mengapa mereka berjuang untuk hak perempuan, dan yang lainnya,” kata dia kepada Rappler pada Senin, 23 Januari 2017.

Angie dan 25 orang lainnya berkumpul di Taman Semanggi pada saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (CFD), Ahad, 22 Januari 2017 lalu. Senada dengan para pendemo di Amerika, para peserta membawa spanduk, juga menuliskan aspirasi mereka di konblok dengan kapur warna-warni.

WOMEN'S MARCH JAKARTA. Foto oleh Hollaback! Jakarta

Slogan ‘lawan pelecehan’ mungkin yang paling banyak ditulis. Bagaimana tidak, survei Lentera Sintas Indonesia pada Juli 2016 lalu menuliskan, 46,7 persen dari hampir 13 ribu responden perempuan pernah mengalami kekerasan seksual.

Tak hanya di tempat tertutup, ruang terbuka seperti jalan raya seperti fasilitas umum juga rawan pelecehan. Perilaku tak senonoh seperti siulan, tatapan tak mengenakkan, maupun catcalling pasti pernah dialami hampir setiap wanita. Data survei menunjukkan, dari 25.123 responden, 58 persen pernah mengalami pelecehan dalam bentuk verbal.

Bagi kaum lelaki, terutama yang dibesarkan dalam budaya patriarki kental, perilaku ini mungkin tak masalah. Memanggil perempuan di jalanan bagi mereka identik dengan maskulinitas dan ajang pamer kekerenan, meski sesungguhnya kampungan.

Bagi kaum perempuan, panggilan dan sapaan tak diinginkan ini justru mengganggu. Karena mereka dianggap sebagai obyek yang bisa diperlakukan atau dipanggil-panggil seenaknya; dinilai fisiknya; hingga diganggu ruang privatnya.

BERSATU DEMI KEADILAN GENDER. Foto oleh Hollaback! Jakarta

Angie yang juga memulai situs bernama Hollaback! Jakarta, tak asing lagi dengan cerita pelecehan seksual di jalanan. “Fokus kami adalah untuk mengakhiri pelecehan seksual di tempat publik dan ruang bersama—ini adalah masalah yang tak hanya terjadi di Jakarta, juga di seluruh dunia,” kata dia.

Pelecehan di jalanan adalah bagian dari kekerasan seksual berbasis gender, dan merupakan satu masalah yang harus segera dituntaskan. Selain itu, masih ada pemerkosaan, perkawinan anak, perdagangan manusia, kesamaan gaji, hak kesehatan reproduksi, pendidikan, dan lain-lainnya.

HORMATI SESAMA. Foto oleh Hollaback! Jakarta

Perempuan maupun laki-laki adalah manusia, memiliki hak yang sama atas apapun. Kalaupun ada yang menilai satu lebih istimewa dari yang lain, sebenarnya itu adalah konstruksi sosial semata.

Mengutip spanduk yang diusung ratusan ribu perempuan pada Sabtu kemarin, marilah bersama-sama mengamini ‘hak perempuan adalah hak asasi manusia.’ Hancurkan patriarki hingga ke akarnya.—Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.