Keluarga minta 16 WNI yang tertangkap di Turki dipulangkan

Arfi Ahmad
Keluarga merasa lega, karena 16 WNI berhasil ditangkap oleh polisi Turki saat hendak menyeberang ke Suriah. Motif untuk bergabung dengan ISIS masih belum jelas hingga saat ini.

Masjid Biru di Istanbul Turki. Saat ini, Turki menjadi daerah perbatasan paling strategis dengan Suriah, kawasan di mana Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) bermarkas. Foto oleh Rappler.

SOLO, Indonesia — Enam dari 16 warga negara Indonesia (WNI) yang ditangkap oleh polisi Turki lantaran hendak menyeberang ke Suriah berasal dari Solo, Jawa Tengah. Namun, pihak keluarga justru merasa lega dengan kabar penangkapan itu.

“Sebab keberadaan mereka menjadi jelas,” kata juru bicara keluarga dari Badan Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKBH) Universitas Muhammadiyah Surakarta Budi Kuswanto, saat mengemukakan alasan kelegaan itu, pada Rappler, Kamis, 12 Maret. 

Enam orang asal Solo yang ditangkap tersebut adalah Hafid Umar Babher dan Fauzi Umar yang merupakan keluarga kandung. Istri dari Hafid Umar, Soraiyah Cholid Abu Bakar, juga ikut dalam rombongan tersebut.

Selain membawa istri, Hafid Umar juga membawa 3 anaknya, yakni Hamzah Hafid Babher (6), Utsman Hafid Babher (3), dan Atikah Hafid Babher (2). Sedangkan Fauzi Umar tercatat masih berstatus lajang.

(BACA: 16 WNI di Turki tertangkap menyeberang ke Suriah

Menurut Budi, pemerintah harus menggupayakan agar 16 WNI tersebut bisa segera dipulangkan meskipun mereka ditangkap saat hendak menyeberang ke Suriah. “Mereka hanya melakukan pelanggaran izin tinggal yang bersifat administratif,” katanya.

Menurutnya, keluarga belum pernah menerima informasi resmi dari pemerintah terkait hilangnya 16 WNI di Turki itu. Mereka juga menyesalkan sikap dari penyelenggara perjalanan, Smailing Tour, yang terkesan lepas tangan.

Pedagang akik dan gorden

Kakak kandung dari Hafid Umar Babher dan Fauzi Umar, Muhammad Arif, mengatakan bahwa adik-adiknya selama ini memiliki aktivitas sebagai pedagang. “Hafid Umar selama ini berdagang kain gorden,” kata Arif. Beberapa waktu terakhir, bisnisnya semakin bertambah maju.

Sedangkan Fauzi justru tengah menekuni bisnis batu akik selama setahun terakhir. “Sekarang batu akik memang sedang menjadi tren dan harganya mahal,” katanya. Padahal Fauzi sudah lama mengoleksi batu akik yang dulunya berharga sangat murah.

(BACA: 16 WNI yang hijrah ke Turki)

Kondisi ekonomi yang sedang maju itu membuat keluarga tidak yakin jika Fauzi Umar dan Hafid Umar ikut bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Apalagi, mereka berdua tidak pernah mengikuti kegiatan yang bersifat radikal. “Kami dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah,” katanya.

Saat mendapat kabar bahwa keluarganya hilang, keluarga langsung mendapat pendampingan dari BKBH Universitas Muhammadiyah. Mereka juga menggunakan jaringan Muhammadiyah untuk mencari informasi terkait keberadaan keluarganya yang hilang.—Rappler.com