Indonesia

Surat terbuka pakar Islam dunia untuk ISIS

Uni Lubis
Surat terbuka pakar Islam dunia untuk ISIS
Lebih dari 100 ulama dan pemimpin Islam dunia mengecam tindakan brutal ISIS. Polisi menetapkan 5 orang perekrut ISIS dari Indonesia sebagai tersangka.

Tak banyak yang tahu, bahwa pada September 2014, 126 ulama dan cendekiawan, pemimpin organisasi Islam dari berbagai dunia mengirim surat kepada pemimpin ISIS. Surat terbuka itu ditujukan kepada Dr Ibrahim Awwad Al-Badri, alias Abu Bakr Al Baghdadi, yang dianggap pengikutnya sebagai pemimpin Islamic State of Iraqi and Syam/Syria (ISIS), atau Negara Islam Irak dan Suriah. 

Surat ditulis dalam Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, didahului dengan kalimat pujian kepada Allah SWT dan kutipan Surat Al Asr, ayat 1-3. Ayat ini berisi penjelasan tentang kerugian yang akan menimpa orang-orang yang tidak memanfaatkan waktu dengan baik.

Ketua majelis ulama Islam di berbagai negara ikut meneken surat terbuka itu. Inti suratnya menjelaskan secara panjang lebar, ayat per ayat di dalam Al Qur’an soal tindakan kekerasan dan pembunuhan yang dilakukan ISIS dan pengikutnya, mengatasnamakan Islam.   

Di antara mereka yang menandatangani adalah  Kepala Mahkamah Tertinggi Urusan Islam Nigeria Sultan Muhammad Sa’ad Abubakar, Imam Besar Mesir Sheikh Shawqi Allam,  Pemimpin Pusat Studi Islam Internasional Malaysia Osman Bakr dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhamadiyah yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) M. Dien Syamsuddin.

Surat terbuka kepada pemimpin ISIS dan pengikutnya membahas 24 poin. Mulai dari bagaimana ISIS menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dalam tindakannya, pentingnya memahami bahasa secara benar agar tidak salah interpretasi dan bagaimana menyikapi perbedaan pendapat dalam memahami dan menjalani Islam.

Surat tersebut juga membahas tentang pembunuhan mereka yang tidak bersalah; makna, tujuan, dan alasan melakukan jihad; pelibatan anak-anak dalam perang yang dilakukan ISIS; perbudakan; mutilasi sampai perusakan terhadap situs bersejarah Islam termasuk niat ISIS merusak makam Nabi Muhammad SAW dan para sahabat.

 

Surat dikirimkan setelah penculikan jurnalis

Jurnalis di Indonesia berunjuk rasa menentang pembunuhan jurnalis oleh militan ISIS, 5 September 2014. Foto oleh Mast Irham/EPA

Surat terbuka kepada ISIS dikirim pada 19 September 2014, tak lama setelah tindakan brutal ISIS memenggal kepala jurnalis James Wright “Jim” Foley. Foley adalah jurnalis AS yang juga reporter video yang meliput perang sipil di Suriah. Dia diketahui hilang diculik pada Oktober 2012.  

Pada 19 Agustus 2014, Al-Furqan, media yang terafiliasi dengan ISIS merilis video proses eksekusi Foley. Pada November 2014, Peter Kassig, pekerja kemanusiaan dari AS juga diculik dan dibunuh ISIS ketika tengah membagikan makanan dan bantuan bagi pengungsi perang sipil di Suriah.  

Rentetan aksi kejam ISIS yang melakukan pembunuhan dengan cara memenggal, lantas memproduksi video eksekusi itu untuk disebarluaskan melalui media sosial, bisa dibaca di tautan ini.  Baik Foley maupun Kassig dieksekusi oleh “Jihadi John”, yang belakangan diketahui sebagai warga Inggris yang bergabung dengan ISIS.

Apa isi suratnya?

Dalam poin ke-7 surat terbuka itu dibahas kritikan pengirim surat kepada Al Bagdadi dan pengikutnya terkait dengan pembunuhan emissaries. Emissaries adalah utusan yang dikirim sebuah kelompok ke kelompok atau masyarakat lain dengan tujuan mulia, termasuk membantu proses rekonsiliasi atau menyampaikan pesan. 

Surat terbuka ini mengutip Ibnu Masoud, sahabat Rasul, yang mengatakan, “the Sunnah continues that emissaries are never killed”. Penyampai pesan, mereka yang membantu tugas mulia tidak boleh dibunuh. Jurnalis, jika mereka menjalankan tugas secara jujur dan tidak merangkap sebagai mata-mata perang, adalah penyampai pesan kebenaran kepada publik luas. Karena itu tidak boleh dibunuh.

Penutup surat terbuka itu mengingatkan bahwa Bagdadi dan pengikutnya telah mengubah Islam menjadi agama yang penuh dengan kekejaman, tindakan brutal, penyiksaan dan pembunuhan.  

“Ini kesalahan besar, dan merupakan bentuk serangan kepada Islam, kepada muslim dan kepada seluruh dunia,” demikian tulisan di surat itu. Para ulama, cendekiawan yang menulis surat mengingatkan ISIS dengan menggunakan sejumlah ayat dan hadis, bahwa Islam adalah agama yang membawa damai.

 

ISIS tidak berkembang pada negara yang stabil dan aman 

Surat terbuka ulama dan pemimpin organisasi Islam sedunia itu saya baca di bagian lampiran dari buku berjudul  “Dinamika Baru Jejaring Teror di Indonesia, dan Keterkaitannya dengan Gerakan Radikalisme Transnasional”.  

Buku yang kaya dengan data sejarah serta peta gerakan radikal ini ditulis oleh Ansyaad Mbai, mantan kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Buku ini dibagikan saat acara Seminar Internasional Terrorism and ISIS, Indonesia Response, yang diadakan oleh Hendropriyono Strategic Consulting, 23 Maret 2015.  

Hendropriyono adalam mantan kepala Badan Intelijen Negara (BIN) di era presiden Megawati Sukarnoputri.  Sejumlah tokoh pemimpin lembaga negara dan menteri, juga Megawati hadir dalam seminar itu.

Penulis dan ulama terkemuka dari Yordania, Sheikh Ali Al-Halabi, juga menjadi pembicara di seminar yang digelar di Aula Jakarta International Expo, Kemayoran. Seminar ini dibuka Wakil Presiden M. Jusuf Kalla.  Sheikh Al-Halabi menyesalkan tindakan ISIS yang melibatkan anak dalam tindakan mereka.  

“Penting untuk mencegah tersebarluasnya ideologi yang dianut ISIS,” kata dia. 

Menurut salah satu penandatangan surat terbuka kepada ISIS ini, ideologi ISIS sulit berkembang di Yordania karena negara itu relatif stabil dan aman. Kalla mengingatkan ISIS mendapat pengikut dan berkembang subur di negara yang dalam keadaan rentan, tidak stabil, misalnya di Suriah dan Irak pasca Saddam Hussein. Al-Qaeda merajalela di Afghanistan.  

Kita bisa membaca surat terbuka itu di tautan ini.  

Melihat perkembangan ISIS di tanah air

Dalam sebulan terakhir pemberitaan terkait bahaya ISIS banyak diliput media nasional.  Pemerintah membuka data 514 warga negara Indonesia bergabung dengan ISIS, 3 diantaranya disebut tewas.  Pekan lalu kepolisian Kalimantan Barat mengungkap seorang mahasiswa asal Pontianak diduga bergabung dengan ISIS. Muhammad Alfian Nurzi, nama pemuda berusia 23 tahun itu ketika dikontak orang tuanya belum lama ini mengaku berada di Mosul, Irak. 

Melalui akun Path, Alfian menyatakan bahwa informasi mengenai dirinya masih sepihak.  “Sekarang yang baik jadi jahat, yang jahat jadi baik. Ngaku Islam tapi ngatain mujahid teroris. Kami yang berjuang dengan nyawa demi tegaknya syariat malah difitnah macam-macam,” tulis Alfian, Jumat 20 Maret, sebagaimana dikutip oleh tempo.co.

Menurut informasi dari teman-temannya, Alfian diduga bergabung dengan ISIS Desember 2014.  Mulanya, juru foto pernikahan dan pra pernikahan itu berkomunikasi dengan perekrut melalui media sosial.

ISIS diketahui memiliki puluhan ribu akun media sosial.  Twitter telah menutup 18.000 akun yang diduga menyebarkan ajaran ISIS. Setiap hari ISIS memasok sekitar 90.000-an konten ke media sosial. Memerangi gerakan radikal di media sosial menjadi isu global saat ini

Motivasi mereka yang bergabung dengan ISIS, baik dengan pergi ke Suriah maupun Irak, adalah gaji dan fasilitas perbaikan ekonomi, juga ideologi.

Pada 27 Maret, Mabes Polri melalui kepala bagian penerangan umum Rikwanto mengumumkan pihaknya telah menetapkan  5 perekrut ISIS dari Indonesia sebagai tersangka

Polisi tengah memeriksa 3 lainnya yang ditangkap di Malang.  Di Indonesia, sedikitnya 10 kota menjadi lokasi WNI yang bergabung dengan ISIS. — Rappler.com

 

Uni Lubis adalah mantan pemimpin redaksi ANTV. Follow Twitter-nya @unilubis dan baca blog pribadinya di unilubis.com.

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.