XChange

Myanmar kirim utusan ke Aceh, maukah pengungsi pulang?

Febriana Firdaus
Myanmar kirim utusan ke Aceh, maukah pengungsi pulang?

EPA

Pemerintah Myanmar setuju untuk memperkuat langkah mencegah bertambahnya jumlah imigran gelap ke Indonesia dan negara sekitarnya

JAKARTA, Indonesia — Pemerintah Myanmar akan mengirim utusan resminya ke kamp pengungsian para imigran Rohingya di Kuala Langsa dan Kuala Cangkoi Aceh. Ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Myanmar Wunna Maung Lwin pada Menteri Luar Negeri Retno Marsuki, Kamis, 21 Mei. 

“Pemerintah Myanmar akan segera memerintahkan Kedutaan Besarnya untuk segera melakukan kunjungan kekonsuleran ke tempat-tempat penampungan sementara para irregular migrants yang saat ini berada di Aceh,” tulis situs kementerian luar negeri

Kedua menteri secara khusus telah membahas imigran gelap yang membanjiri kawasan Asia Tenggara. Selain mengirim utusan, pemerintah Myanmar juga siap memperkuat langkah pencegahan bertambahnya jumlah imigran gelap ini. Myanmar juga setuju bekerja sama dengan negara-negara kawasan dalam memberantas perdagangan manusia. 

Pengungsi Rohingya ingin tinggal di Indonesia 

Mohammad Shorif, 18 tahun, pengungsi Rohingya di Kuala Cangkoi, Aceh, mengatakan ia ingin tinggal di Indonesia. Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

Mohammad Shorif, seorang pengungsi Rohingya mengaku lega karena ia dan 331 lainnya sudah berada di Kuala Cangkoi, Aceh. Meski ia harus tinggal di kamp yang sederhana dengan persediaan air terbatas. 

“Saya tidak mau ke Malaysia, saya mau tinggal di sini,” katanya pada Rappler pekan lalu. 

Pemuda berumur 18 tahun ini mengatakan, Aceh memberikan apa yang ia butuhkan. Ia bahkan punya rencana panjang untuk tinggal di Aceh, bersekolah, dan mengejar cita-citanya sebagai dokter. 

Shorif bukan satu-satunya yang menolak. Ada beberapa pengungsi lainnya yang mengatakan berharap terus tinggal di Aceh. 

Tapi Shorif dan teman-temannya harus bersabar. Meski pemerintah baru saja mengumumkan bahwa para pengungsi bisa tinggal sementara di Aceh selama setahun, mereka tak bisa tinggal leluasa di tanah rencong. 

Menurut juru bicara Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) Mitra Salima Suryono selama setahun tersebut, mereka tidak dapat melakukan kegiatan ekonomi atau mencari pekerjaan. Anak-anak mereka pun tak bisa sekolah.

“Bisa sekolah, tapi biasanya tak bisa dapat ijazah,” katanya.

Lalu, apakah utusan resmi Myanmar akan datang ke Indonesia untuk memberikan solusi atas nasib mereka? —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.