Kartini-Kartini muda Indonesia

Febriana Firdaus, Agung Putu Iskandar
Kartini-Kartini muda Indonesia

AFP

Kartini tidak mati. Dia menjelma menjadi perempuan-perempuan muda dengan tantangan yang berbeda. Siapa saja mereka?

 

JAKARTA, Indonesia —Tatapan mata perempuan itu menyapu ruang kelas sekolah dasar di hampir seluruh Indonesia. Foto Raden Ajeng Kartini terpampang di dinding kelas, mengingatkan siswa-siswi akan jasanya bagi Indonesia.

Karena perjuangannya untuk kaum wanita, setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini, seorang perempuan kelahiran Jepara yang karyanya berupa kumpulan surat dibukukan dalam judul Habis Gelap Terbitlah Terang mendunia.

Dalam surat-suratnya, Kartini meratapi buta huruf di kalangan perempuan karena tidak tersedianya peluang pendidikan bagi mereka. 

“Kami, gadis-gadis Jawa, tidak boleh memiliki cita-cita, karena kami hanya boleh mempunyai satu impian, dan itu adalah dipaksa menikah hari ini atau esok dengan pria yang dianggap patut oleh orangtua kami,” tulis Kartini dengan getir kepada seorang sahabat asal Belanda, Nyonya Rosa Manuela Abendanon-Mandri pada Agustus 1901.

Setelah Kartini meninggal pada 1904, perjuangannya untuk menyediakan pendidikan bagi perempuan dilanjutkan teman-teman Belandanya.

Tapi harapan yang ditanam Kartini tak pudar oleh waktu. Justru jerih payahnya baru bisa dirasakan saat ini, dengan lahirnya Kartini-Kartini muda yang cerdas dan pekerja keras.

Yang paling menonjol dari Kartini-Kartini muda ini adalah mereka berani menyatakan pendapatnya. Tak gentar meski harus menghadapi perusahaan raksasa, kesewenang-wenangan pemerintah, atau sekedar menunjukkan bahwa mereka bisa berprestasi di bidang tertentu. 

Siapa saja mereka? 

Alissa Wahid 

Alissa Wahid memperjuangkan kaum tertindas. Foto dari Facebook

Sepeninggal ayahnya, mantan Presiden Abdurahman “Gus Dur” Wahid, Alissa menyibukkan dirinya di bidang sosial dan pendidikan. Ia rajin turun ke lapangan. Pada 2011 misalnya, Ketua Jaringan Gus Durian ini mendatangkan guru formal ke sekolah di daerah Glagahrejo, Cangkringan, Sleman.

Pada saat itu, guru di Sekolah Dasar tersebut menolak mengajar karena terganjal masalah internal. “Permasalahan ini seperti dua gajah yang berkelahi. Guru tidak mau mengajar karena belum dapat instruksi dinas. Di sisi lain anak-anak terus datang ke sekolah,” kata Alissa waktu itu.

Selain aktif di bidang pendidikan, ia juga peduli pada isu toleransi beragama. Ia aktif mengikuti diskusi lintas agama bersama Gereja Kristen Indonesia (GKI), dan komunitas lainnya. 

Terakhir, dia sangat vokal terhadap kasus persoalan yang membelit warga Rembang terkait ekspansi PT Semen Indonesia di Jawa Tengah. Alissa mendesak pabrik semen raksasa tersebut untuk menghentikan kegiatan pembangunan pabrik semen di Rembang. Melalui media sosial dan jaringan Nahdlatul Ulama (NU), Alissa bergerak mendukung perjuangan ibu-ibu Rembang.

Seperti kata sahabatnya, cendekiawan Ulil Abshar Abdalla, Alissa adalah perwujudan dari Gus Dur muda. “Naluri Gus Dur sebagai sosok yg peduli pada manusia, terutama manusia yang ada pada posisi lemah, mengalami reinkarnasi pada sosok Alissa Wahid,” kata Ulil pada Rappler. 

Chelsea Islan 

Wajahnya menghiasi layar televisi lewat serial opera sabun berjudul Tetangga Masa Gitu. Di serial TV itu ia memerankan seorang perempuan yang menikah muda, bersama suaminya, menghadapi permasalahan rumah tangga dalam pernikahan di tahun pertamanya. 

Lalu Chelsea mulai menjajal dunia film. Totalitas aktingnya bisa dilihat di film Mimpi Sejuta Dolar Merry Riyana. Ia bermain sebagai Merry Riyana, seorang motivator ternama keturunan Thionghoa, yang harus merantau ke Singapura, akibat kekacauan politik dan krisis ekonomi pada Mei 1998. 

Namun karir Chelsea yang sedang menanjak itu, tiba-tiba dihantam dengan badai skandal video pribadinya baru-baru ini. Seorang oknum yang tak bertanggung jawab telah merekam aktivitas Chelsea di toilet dan menyebarkannya di Internet. 

Chelsea pun menghilang dari peredaran untuk sekian lama. Tak nampak kabar dari dirinya. Hingga pada 2 Maret lalu, ia muncul di sebuah diskusi tentang kekerasan anak yang digelar di Semanggi, Jakarta. 

Bersama ibunya, Samantha Barbara, ia mengonfirmasi video tersebut. “Chelsea sungguh jadi korban. Empat tahun setelah kejadian itu Chelsea menolak jadi korban. Justru Chelsea mengisi dengan kegiatan yang positif. Berita di media tidak mematahkan impian Chelsea,” kata Samantha kepada awak media dengan Chelsea berada di sampingnya.

Hanya selang sebulan, Chelsea benar-benar bangkit lewat sebuah karya apik Garin Nugroho berjudul Tjokroaminoto. Ia berperan sebagai Stella, seorang anak Indo yang ingin menjadi Hindia dan setelah ia mendengar nama Indonesia, dia ingin menjadi orang pribumi. 

Dalam adegan tersebut, Chelsea berkali-kali bertanya pada Tjokro: “Siapakah aku?“

Sutradara muda Fajar Nugroho alias Nugros melihat sosok Chelsea lebih kuat dari berbagai peran yang ia mainkan. “Aku pikir, sejak awal dia memang punya karakter yang kuat. Dia mencintai peran sejak dini, karena sudah main teater sejak awal,” kata Nugros pada Rappler. 

“Dia tahu apa yang diinginkan dan kerja keras untuk meraihnya. Dan dengan dukungan orang tuanya, serta rendah hati, aku pikir ia akan menjadi aktor yang luar biasa,” sambung Nugros. 

Nugros mengatakan Chelsea adalah idola positif untuk generasi seusianya. “Seorang kartini modern.” 

Erwiana Sulistyaningsih 

Ia bukan seorang anak presiden, ia bukan artis berbakat, melainkan seorang pembantu rumah tangga di negeri orang. Tapi pada tahun 2014, ia menggemparkan dunia dengan kasusnya melawan majikannya di Hong Kong. 

Erwiana berjuang di pengadilan Hongkong setelah melaporkan kekerasan oleh majikannya beberapa tahun lalu.

Majalah Time mencatat Erwiana dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia pada tahun 2014 berkat perjuangan melawan ketidakadilan terhadap majikannya terhadap buruh migran.

Kondisi tubuh Erwiana saat disiksa majikannya sungguh mengenaskan. Tubuhnya penuh luka bakar dan memar. Ia sulit melihat dan berjalan. 

(BACA: IN PHOTOS: Erwiana’s journey from tortured maid to right activist

“Namun Erwiana tak lantas menyerah, ia tak bisa dibungkam. Perempuan itu berteriak melawan perempuan yang kini menghadapi tuduhan telah melukai dan menyiksanya,” kata Somaly Mam, salah satu penyemangat Erwiana, seperti dikutip dari Majalah Time. 

Tak hanya itu, dengan bantuan keluarga dan komunitasnya, Erwiana memperjuangkan regulasi perlindungan untuk para tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. 

“Hanya perempuan pemberani seperti dia — yang berani berbicara untuk mereka yang tak bersuara — yang akan menciptakan perubahan yang abadi.”

Bukan hanya Mam yang terpaku akan keberanian Erwiana. Sahabat Erwiana, Xyza Cruz Bacani, seorang warga Filipina yang juga bekerja di Hongkong, tahu benar akan potensi perempuan muda tersebut.  

“Dia perempuan yang tangguh, pejuang. Setelah semua yang dia alami, dia tetap tegar dan tetap berjuang demi keadilan. Erwiana adalah contoh yang sempurna, ia menjadi pahlawan untuk dirinya sendiri,” katanya pada Rappler.  

“Dan dia telah menginspirasi banyak TKI, terutama mereka yang sedang mengalami masalah dengan hak-hak mereka. Erwiana is worldwide!” tandasnya.

Risa Suseanty

Olahraga ekstrim seperti downhill tak lantas menjadi monopoli kaum lelaki. Bahkan, di jalur prestasi olahraga bersepeda turun bukit terjal itu kini identik dengan sosok perempuan perkasa bernama Risa Suseanty.

Perempuan 34 tahun itu mendominasi perolehan medali emas downhill di SEA Games. Dia mencetak hat-trick medali emas pada 1997, 1999, dan 2001. Kemudian berlanjut pada SEA Games 2009 dan SEA Games 2011.

Rentetan emas itu sempat absen pada SEA Games 2013 lalu saat dia hanya menyabet perak. Meski sudah banyak mencetak prestasi, dia belum ingin pensiun dari cabang olahraga yang telah membesarkan namanya itu. 

Pelatih Risa, Oki Respati, paham betul soal bakat tersebut. Oki menyebut dedikasi Risa kepada sepeda sangat besar. “Sampai sekarang dia masih memiliki dahaga gelar yang sama seperti saat dia baru terjun ke olahraga ini. Dan perjuangan dia tidak mudah. Saat kehidupan pribadinya terganggu pun dia tak pernah kehilangan fokus di sepeda,” katanya.

Soal semangat untuk latihan tidak sulit bagi Oki untuk mengarahkan Risa. Tapi soal teknik dan strategi ia sering berdebat. Risa punya sikap. 

“Dia tidak mau hanya sekadar mengikuti arahan pelatih. Di situ berarti tugas saya untuk menjelaskan mengapa kita harus melakukan itu. Perdebatan yang ada sangat bagus karena berarti Risa juga benar-benar memikirkan dengan detail, tidak hanya menurut,” katanya. 

Siapa lagi generasi muda lainnya yang cocok menjadi Kartini masa kini menurut kamu? —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.