Demo 4 November: Tak ada asap jika tak ada api

Zara Zettira
Sebagai seorang Muslimah, penulis merasa tersinggung atas ucapan Ahok. Namun ia berharap demo 4 November berjalan damai

Gubernur DKI Jakarta Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama menjawab pertanyaan wartawan di hari terakhir bekerja sebelum masa kampanye pada 27 Oktober 2016. Foto oleh Hafidz Mubarak A./Antara

Bismillahirahmanirahim, seperti kita semua ketahui bersama, bapak Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama itu memang punya kebiasaan asal ngomong. Yang tidak menyukai beliau akan mengatakan kasar, yang menyukai akan bilang tegas. 

Yang santun akan merasa tersinggung mendengar kata-kata jorok yang ia gunakan dalam acara siaran langsung televisi nasional. Sedangkan yang mungkin lebih terbiasa dengan gaya bicara seperti Pak Gubernur, akan mengatakan, “Bagus apa adanya”.

Wallahualam. Saya pribadi bukan generasi yang lahir di era ngomong seenaknya. Zaman saya kecil, menyebut kata “sialan” saja akan dikejar nenek dan dicabein mulutnya. Kedua, saya seorang ibu, yang tidak menginginkan anak-anak saya meniru perilaku asal njeplak seperti itu.

Jika kita mau jujur dan tidak punya kepentingan apapun, saya rasa kita semua setuju untuk menyarankan Pak Basuki lebih bisa mengontrol emosi dan ucapannya. 

Ketidakmampuan mengontrol ucapan akhirnya menjadi bumerang bagi beliau sendiri. Bukan baru sekali ini Pak Basuki menyelip-nyelipkan soal agama dalam rapat-rapat dinas. Videonya sudah viral kemana-mana.

Dalam sebuah video saat rapat, beliau bicara soal agamanya yang katanya membuat dia tidak takut mati karena pasti masuk surga, dapat makan, dan dapat rumah gratis. Dalam pemberitaan lain masih banyak lagi yang tidak mungkin saya rinci satu satu di sini, tapi dengan mudah bisa dicari di Google. 

Puncaknya adalah ketika ia menggunakan surat Al-Maidah ayat 51 dalam suatu kesempatan di hadapan warga Kepulauan Seribu. Sebagai seorang Muslimah, saya pribadi sangat tersinggung dan shocked karena ucapan beliau sangat jelas, baik segi tata bahasa maupun intonasinya, melecehkan ayat suci kami. Bagi saya pribadi, sudah jelas apa tujuan beliau. 

Dalam suasana kunjungan dinas di Kepulauan Seribu, percakapan dialog dengan rakyat tiba-tiba berubah diselipkan soal ayat? Bahkan bukan cuma ayat, beliau juga merinci soal cara mencoblos. 

“Kalau benci sama saya, jangan demo terus. Dicolok. Waktu pemilihan dicolok foto saya. Wah, nanti kepilih lagi saya. Jadi kalau benci sama saya, coloknya musti berkali-kali, baru batal. Kalau cuma sekali, ya kepilih lagi,” kira-kira begitu kata Ahok.

Seandainya Pak Basuki merasa kelepasan, seharusnya langsung minta maaf, karena kami umat Muslim istighfar bila sadar telah khilaf dalam berucap. Orang khilaf itu minta maaf sebelum diminta. Buktinya tidak ada penyangkalan, bahkan tim sukses Basuki menuntut Buni Yani soal video yang sama?

Permintaan maaf baru dilakukan setelah beberapa ormas melakukan pelaporan ke Bareskrim dan Polda. Satu laporan ditolak oleh Bareskrim dengan alasan: butuh fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Kemudian MUI menerbitkan fatwa bahkan ikut melaporkan. Belum cukup juga, umat Islam serentak mengisi petisi sebagai wujud rasa dinistakan, bahkan akhirnya aksi damai ke Jakarta dan sporadik di hampir seluruh pelosok nusantara. Pertanyaannya adalah mengapa tidak segera ditangkap Basuki?

ANAK. Seorang pengunjuk rasa memegang sebuah tulisan yang berbunyi "Penjarakan Ahok" saat bergerak ke Balai Kota, pada 14 Oktober 2016. Foto oleh Zachary Lee/Rappler.

Dugaan kasus pelecehan Nabi Muhammad oleh penulis Arswendo Atmowiloto masih lekat dalam ingatan kita. Jangan dikira masyarakat bodoh, mereka menuntut karena tahu ada pelanggaran bukan berbasis kebencian pribadi.  Videonya ada, pasalnya ada, saksinya ada. Untuk apa saksi ahli? Apakah puluhan atau mungkin ratusan ribu umat Islam yang aksi damai itu bukan bukti hidup? 

Kami khawatir, karena belajar dari pengalaman, kasus yang diendapkan terlalu lama akan menguap hilang. Contohnya kasus pembelian lahan rumah sakit Sumber Waras dan banyak lagi. Khususnya kasus-kasus yang menyentuh Basuki Tjahaja Purnama memang bisa dibilang “ghaib”, bisa hilang dengan sendirinya seiring waktu. Wallahualam

Saya berharap tidak ada kerusuhan, dan percaya aksi ini akan damai karena ulama itu sehari-harinya mengaji bukan berkelahi, kok. Kerusuhan bisa terjadi jika ada penyusup yang memprovokasi. Soal penyusup, kita juga jangan naif. 

Jadi harapan saya, aparat mengawasi provokator atau penyusupnya saja jika benar-benar ingin menjaga situasi. Jangan khawatir pada ulama dan umat, mereka bukan menyerang, mereka membela (diri) dan agamanya. —Rappler.com 

Zara Zettira adalah seorang penulis dan pengamat media sosial. Ia bisa disapa di Twitter @ZaraZettiraZR