Pesan untuk Bro Tito Karnavian jelang demo 4 November

Rusdian Lubis
Sebuah surat terbuka untuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian, yang akan menjadi orang nomor satu mengamankan NKRI di hadapan demonstran pada Jumat, 4 November

Kapolri Jenderal Tito Karnavian (tengah) memberikan keterangan kepada media, pada 21 Oktober 2016. Foto oleh Moko WH/Antara  

Bro Tito (kita saling memanggil “Bro”), alangkah cepat waktu berlalu sejak kita bersama melakukan ibadah haji tahun 2004. Saya amati waktu itu, wajah Bro tampak bersih, cerdas, rendah hati, santun, bahkan mendekati “culun”. Mungkin karena rambut kita dicukur pendek. 

“Lumayan ganteng,” kata ibu-ibu di kelompok haji. Lumayan.

Sejak itu, I followed your career with keen interest. Biarpun hampir tak pernah bertemu muka, kita bertukar pesan via smartphone. Saya ikuti karier Bro Tito lewat teman-teman di Kepolisian atau media, terutama tentang sepak terjang Bro bersama Densus 88 di Poso dan Papua. Profesionalisme dan dedikasi Bro sebagai Bhayangkara Negara membuat saya dan teman haji lain terkagum-kagum.  

Ketika saya bekerja di Manila dan Bro menuntut ilmu di Singapura, kita masih sempat “berdiskusi singkat” tentang topik disertasi doktor Bro. Saat itu, saya makin yakin Bro akan menjadi “Top Cop” di Indonesia. Keyakinan saya terbukti ketika Presiden Joko “Jokowi” melantik Bro sebagai Kapolri dengan pangkat Jenderal Polisi tahun ini.  

Menyandang bintang empat di pundak dan tanda–tanda jasa di dada, sekarang Bro tidak lagi “lumayan”, tetapi “full ganteng”. You are one of the most powerful people in the country. But power entails trials and responsibilities.  

Bro Tito, hari Jumat, 4 November, barangkali adalah hari yang mendebarkan dan mencekam —semoga tidak— bagi Jakarta dan Indonesia. Bro akan berada di garis komando paling depan menghadapi para demonstran.  

Angoota FPI bersama berunjuk rasa mendesak Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengusut tuntas dugaan pelecehan yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Ahok terhadap umat Islam dan Al-Qur’an, pada 21 Oktober 2016. Foto oleh Antara

Ya, di tangan Jenderal Polisi Tito Karnavian, bukan Presiden, para mantan Presiden, para Jenderal, mantan jenderal, ketua partai, apalagi Gubernur DKI yang sedang menikmati cuti, nasib Jakarta dan Indonesia akan ditentukan.  Bro Tito akan diuji sebagai Bhayangkara Negara, bukan sebagai pengawal Presiden atau Gubernur DKI, tetapi pengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia yang amat kita cintai.

Saya terkesan dengan komentar Bro Tito dan para pembicara lain pada acara Mata Najwa, Rabu, 2 November, bahwa pada dasarnya demo 4 November akan (dan seharusnya) berjalan damai dan konstitusional; meskipun diduga akan ada “penyusupan” yang harus dihindarkan/dijaga oleh Polisi dan TNI.  

Para pendemo adalah saudara-saudara setanah air, yang merasa tersinggung atau terganggu dengan karakter, ucapan, dan tindakan seorang pejabat penyelenggara negara, tetapi saluran aspirasi mereka tertutup. Pada saluran partai tertutup, pada saluran DPR juga tersumbat. Persis seperti banyak got di Jakarta.  

Mereka tak bisa “manggung” pada acara Mata Najwa. Yang lebih penting, mereka menuntut keadilan karena premis equality before the law, atau tak ada orang kebal hukum di Indonesia.

Saya hanya bisa berdoa, agar Bro Tito dan segenap satuan yang akan mengamankan demo 4 November tetap diberi kesabaran dan kekuatan menghadapi emosi serta tekanan. Sebaliknya, para pendemo juga dihindarkan dari kesengajaan atau terpancing untuk membuat kerusuhan. 

Mengingat sejarah demo-demo besar yang terjadi pada 1966, Tragedi Trisakti, pemakzulan Presiden Soeharto, dan lain-lain, sebutir peluru yang terlepas dan menumpahkan darah akan memicu kepada kejadian yang tidak kita harapkan.  

Alangkah tragisnya nasib negara dan bangsa kita cintai ini jika pertumpahan darah, pembakaran dan perusakan terjadi kembali.

Best regards from your Bro.

Dr. H. Rusdian Lubis 

PS: Tolong diberi perhatian/pengamanan khusus untuk para Polwan berjilbab. Mereka para Srikandi di garis depan. Salam. 

—Rappler.com

Rusdian kini adalah seorang environmentalist. Ia pernah bekerja di pemerintahan, lembaga internasional (Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia), dan seorang Eisenhower Fellow.