Indonesia

LINI MASA: Jejak Indonesia dalam Panama Papers

Rappler.com

This is AI generated summarization, which may have errors. For context, always refer to the full article.

LINI MASA: Jejak Indonesia dalam Panama Papers

EPA

Dokumen panama, dan dampak domino-nya di Indonesia

This compilation was migrated from our archives

Visit the archived version to read the full article.

JAKARTA, Indonesia — Aliansi jurnalis investigatif global (ICIJ) menerbitkan seri Panama Papers pada awal April 2016.

Dokumen-dokumen ini mengulas jutaan dokumen finansial dari sebuah firma hukum asal Panama yang bocor. Dari situ, terungkap jaringan korupsi dan kejahatan pajak berbagai kepala negara, tokoh politik, hingga selebriti dari seluruh dunia.

Dokumen berisi 214.000 kesepakatan lepas pantai selama hampir 40 tahun tersebut berasal dari Mossack Fonseca, sebuah kantor pengacara yang berbasis di Panama dengan kantor di lebih dari 35 negara.

Dua belas kepala negara dan mantan kepala negara disebutkan dalam hasil investigasi tersebut, termasuk Perdana Menteri Islandia dan Pakistan, Presiden Ukraina, Raja Arab Saudi, pesepakbola Lionel Messi, hingga aktor laga Jackie Chan.

Nama-nama taipan dan pejabat publik asal Indonesia pun tak luput dari sorotan.

Investigasi yang dilakukan oleh lebih dari 100 media grup tersebut diklaim sebagai yang terbesar dalam sejarah penyuapan, dan melibatkan aset-aset milik setidaknya 140 tokoh politik dari seluruh dunia.

3 April 2016

(ICIJ) merilis artikel investigasi tentang kebocoran dokumen finansial yang mengungkap perusahaan di kawasan bebas pajak (offshore) milik orang kaya di seluruh dunia. 

Namun, ICIJ belum mengungkap daftar nama yang lengkap. Total dokumen yang bocor melebihi 11,5 juta dokumen.

5 April 2016

Pebisnis asal Indonesia, Sandiaga Uno. Foto oleh EPA     

Satu-satunya media di Indonesia yang terlibat dalam investigasi, Tempo, mengungkap beberapa nama orang Indonesia yang tercantum dalam dokumen Panama. Mereka adalah pebisnis Sandiaga Uno, tersangka kasus pengalihan hak tagih Bank Bali Djoko Soegiarto Tjandra, dan taipan minyak Muhammad Riza Chalid.

Nama-nama lain, menurut Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, baru akan dikeluarkan setelah mendapat izin dari ICIJ.

Saat dikonfirmasi Rappler, Sandiaga membenarkan kepemilikan atas perusahaan offshore. “Dalam proses investasi dan penciptaan lapangan kerja sangat lazim menggunakan jasa penyedia offshorecorporations, tentunya semua dalam koridor hukum,” kata Sandiaga.

Sementara itu, Perdana Menteri (PM) Islandia Sigmundur David Gunnlaugsson, yang namanya juga ada dalam daftar, mengundurkan diri dari jabatannya.

Sehari sebelumnya, ribuan rakyat Eslandia berdemo di depan gedung Parlemen menuntut Gunnlaugsson untuk meletakkan jabatannya. 

7 April 2016

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro (tengah) saat memberikan keterangan pers soal Dokumen Panama, pada 6 April 2016. Foto oleh Retno Asnir/Antara     

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro dan Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan mengatakan akan menggunakan nama-nama di dokumen Panama untuk pengejaran wajib pajak di luar negeri.

“Bagus itu, untuk pelengkap daftar yang sudah dimiliki Direktorat Jenderal Pajak,” kata Bambang.

Logo Badan Sepakbola Dunia (FIFA) di salah satu dinding di sudut kantor pusatnya. Foto oleh Michael Buholzer/AFP

Pada hari yang sama, pejabat senior organisasi sepak bola dunia FIFA, Juan Pedro Damiani, mengundurkan diri dari komite etik. Namanya juga tercantum dalam dokumen Panama. Komite etik FIFA saat ini tengah memastikan apakah ada aturan internal FIFA yang dilanggar oleh Damiani.

11 April 2016

Bambang mengaku telah mencocokkan data pengusaha dan perusahaan pengemplang pajak yang dimiliki pemerintah dengan dokumen Panama. Ia menemukan banyak kecocokan.

“Kami meyakini kecocokannya itu 79 persen dan diyakini memiliki uang di luar negeri,” kata Bambang dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR.

12 April 2016

Giliran Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Harry Azhar Azis yang santer dibicarakan lantaran masuk dalam dokumen Panama. Ia disebut-sebut sebagai pemilik Sheng Yue International Limited.

Awalnya Harry membantah memiliki perusahaan offshore itu. Namun, akhirnya ia mengakui kebenaran informasi itu. Menurut Harry, perusahaan itu merupakan permintaan anaknya.

“Anak saya meminta agar membuat usaha (keluarga), saya daftarkan,” kata Harry saat memberikan pernyataan di Gedung DPR. Kelak, perusahaan itu akan menjadi usaha bersama dengan menantunya yang berasal dari Chile.

Bahkan, Harry pun mengakui menjabat direktur di Sheng Yue International Limited dari 2010 hingga Desember 2015. Namun, karena sibuk ia tak sempat mengundurkan diri. Dia baru melepas jabatannya setahun setelah menjabat Ketua BPK.

“Dan sepanjang saya menjadi direktur memang tidak ada transaksi di perusahaan tersebut,” kata dia.

Harry bahkan mempersilakan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro untuk memeriksa apakah ia termasuk Warga Negara Indonesia yang memiliki rekening di luar negeri.

25 April 2016

Tempo kembali mengungkap nama baru dari dokumen Panama, yakni Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Pandjaitan. Ia tercatat sebagai direktur Mayfair International Ltd, yang berbasis di Seychelles sejak 29 Juni 2006.

Mayfair International Ltd sendiri diketahui dimiliki oleh dua perusahaan, yakni PT Persada Inti Energi dan PT Buana Inti Energi. PT Toba Bara Sejahtera, perusahaan milik Luhut, pada 2011 mencantumkan PT Buana Inti Energi sebagai mitra. 

Meski demikian, dalam pernyataan media, Luhut membantah pemberitaan di majalah Tempo tersebut.

“Saya tidak pernah terlibat di dalam itu (Panama Papers). Saya tidak tahu itu yang namanya perusahaan Mayfair,” kata Luhut ketika ditanya hubungannya dengan perusahaan cangkang itu.

Dia mengatakan justru baru tahu Mayfair International Ltd didirikan tahun 2006 lalu saat menerima permintaan wawancara Majalah Tempo.

 

9 Mei: Raja Arab Saudi sponsori kampanye PM Israel Netanyahu

Anggota parlemen dan Ketua Partai Buruh Israel, Isaac Herzog, mengungkapkan bahwa Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz membiayai kampanye pemilu Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

“Pada Maret 2015, Raja Salman telah mendepositkan 80 juta dolar AS untuk mendukung kampanye Netanyahu melalui seorang berkebangsaan Suriah-Spanyol bernama Mohamed Eyad Kayali,” kata Herzog, mengutip Panama Papers yang dibocorkan, pada Senin, 9 Mei, seperti dilaporkan Middle East Observer.

“Uangnya didepositkan ke akun milik perusahaan yang berkedudukan di British Virgin Islands yang dimiliki oleh miliuner dan pebisnis Israel Teddy Sagi, yang telah mengalokasikan uangnya untuk mendanai Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu,” ujar Herzog.

Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.

Summarize this article with AI