Indonesia

Hari Bumi: Mengubah gaya hidup kelas menengah yang tinggi karbon

Rika Novayanti

This is AI generated summarization, which may have errors. For context, always refer to the full article.

Hari Bumi: Mengubah gaya hidup kelas menengah yang tinggi karbon

ANTARA FOTO

Pakaian yang kita kenakan, makanan dan minuman yang kita konsumsi berpengaruh besar terhadap perubahan iklim

Setiap 22 April diperingati sebagai Hari Bumi Internasional. Saya melakukan survei kecil, bertanya kepada teman-teman yang tidak terafiliasi dengan organisasi lingkungan tentang bagaimana caranya menyelamatkan bumi. 

Menanam pohon adalah salah satu jawaban yang paling banyak dilontarkan, jawaban lain adalah hidup seimbang dengan alam.

Pohon kayu butuh waktu hingga lima tahun untuk berkembang dari bibit menjadi perdu, dan butuh waktu hingga 10 tahun untuk menjadi pohon dewasa. Selain itu, menanam pohon tidaklah mudah, banyak bibit tak berhasil tumbuh menjadi pohon.

Sebab itu, membuat aturan untuk sama sekali menghentikan penebangan pohon adalah pilihan paling masuk akal yang perlu dilakukan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup dari pada menanam satu miliar pohon.

Selanjutnya, hidup seimbang dengan alam. Salah satu cara mudah untuk mengimplementasikan hidup yang seimbang dengan alam adalah dengan gaya hidup rendah karbon. Pernah dengar tentang gaya hidup rendah karbon dan gaya hidup tinggi karbon? 

Gaya hidup modern biasanya berkelindan dengan gaya hidup tinggi karbon, gaya hidup masa kini yang sering kali mempercayai semakin banyak barang berharga dimiliki, maka akan semakin bahagia juga kita.

Tak heran kalau Jakarta macet setiap pagi, selain tak ada kendaraan umum yang memadai, memiliki kendaraan roda empat adalah kebanggaan tersendiri di kota ini. Mall melulu riuh, ribuan baju baru terjual tiap pekan, ribuan gelas kopi berpindah dari balik meja barista. 

Gaya hidup tinggi karbon erat dengan konsumsi. Makin banyak mengonsumsi, makin tinggi emisi gas buang kita. Emisi karbon berarti melepas karbon ke udara. Karbon yang dilepas ke udara akan membentuk lapisan yang menjebak panas matahari hingga tidak bisa meninggalkan bumi. 

Ini yang disebut-sebut sebagai efek rumah kaca (bukan band yang satu itu). Akibat efek rumah kaca, bumi bertambah panas, musim berubah tak menentu, petani gagal panen (bahkan di negara maju sekalipun), negara-negara kemudian memproteksi penjualan hasil pangan, lalu negara saling beperkara ke WTO. Panjang cerita.

Dalam pelajaran biologi kelas 4 SD, kita diajari bahwa manusia menghirup oksigen (O2) dan melepaskan karbon dioksida (CO2), sebaliknya pohon melepas oksigen dan menghirup karbon dioksida—kecuali pada malam hari saat pohon juga menghirup oksigen. 

Satu pohon dewasa bisa memberi cukup oksigen untuk dua orang. Berapa pohon yang ada di sekitar kita?  

Di dekat kos saya di Kuningan, Jakarta Selatan, sih tidak banyak, jumlahnya tak seberapa jika dibandingkan dengan ribuan manusia yang tinggal di sekitarnya. Artinya, saat kami para penduduk Kuningan melepas karbon, tak ada pohon yang dapat menyaring karbon tersebut. Belum lagi ditambah efek rumah kaca, tak heran Jakarta panas dan berwarna kelabu.

Seberapa penting pengaruh gaya hidup kita terhadap efek rumah kaca dan perubahan iklim?

Banyak yang beranggapan gaya hidup orang-perorang tidaklah penting, mungkin sebab itu acara mematikan lampu pada bulan lalu banyak menyasar gedung-gedung perkantoran, mall, dan tempat wisata.

Sesungguhnya, karbon yang berkaitan dengan pilihan gaya hidup individu justru lebih signifikan daripada emisi karbon gedung perkantoran, ataupun perumahan vertikal, begitu kata Juan J Lafuente dan Theodore Darviris dari Sturgis Carbon Profiling dalam riset yang dilakukan pada 2014. 

Menurut mereka, emisi karbon yang dihasilkan dari pilihan gaya hidup manusia berkontribusi hingga 72% dari total emisi karbon di udara. Tunggu dulu, apa yang mereka maksud dengan pilihan gaya hidup?

CINTA LINGKUNGAN. Sejumlah pelajar dari SD N Ungaran 1 mengikuti kirab saat acara peringatan Hari Bumi Internasional di kawasan Kota Baru, DI Yogyakarta, pada 21 April 2016. Foto oleh Andreas Fitri Atmoko/Antara

Saat bangun pagi, kita membuat pilihan gaya hidup yang pertama pada hari itu, apakah akan mengecek handphone terlebih dahulu, ataukah langsung bangun dan mandi. Selanjutnya, mau mandi menggunakan gayung, shower, atau berendam di bath tub

Bahkan lebih banyak pilihan sesudahnya, mulai dari minum kopi apa, sarapan apa, hingga bagaimana caranya membelah kemacetan Jakarta untuk sampai ke kantor. Tentu saja emisi karbon dari secangkir kopi atau secuil pilihan sarapan di pagi hari tak berdampak signifikan terhadap emisi karbon. 

Namun, bagaimanapun juga, akumulasi dari pilihan-pilihan ini, ditambah pilihan-pilihan tujuh miliar manusia di muka bumi, menjadikan emisi gas buang individual sangat penting.

Salah satu indikator paling penting dari gaya hidup karbon tinggi adalah diet, alias pilihan nutrisi dan asupan gizi. Misalnya saja jika pilihan kopi pada pagi hari adalah americano (espresso ditambah air), artinya kita melepas 21g COke udara, sementara meminum coffee latte (terdiri atas espresso, susu foamed, dan susu panas) setara dengan 340g CO2

Coffee latte berkontribusi pada lebih banyak karbon karena sebagian besar susu di Indonesia adalah hasil impor (baik dalam bentuk jadi maupun dalam bentuk sapi), apalagi peternakan sapi merupakan industri yang paling tidak ramah karbon. Sebagian besar karbon dihasilkan peternakan sapi dari membabat hutan untuk dijadikan peternakan, sementara sebagian lain dihasilkan karena memberi makan sapi juga menghasilkan banyak karbon.

Oleh karena itu diet yang mengandung daging diklasifikasi sebagai gaya hidup karbon tinggi, sementara vegetarian bertanggung jawab atas jumlah karbon yang lebih rendah. Misalnya saja, dengan menjadi vegan (tidak memakan binatang, telur, dan produk susu) selama tiga kali seminggu dapat menghemat hingga 0,5 ton CO2 dalam satu tahun per individu.

Pilihan gaya hidup lain yang menjadi penting adalah fashion. Mengenakan katun organik atau serat bambu organik berkontribusi terhadap jauh lebih sedikit emisi karbon karena serat organik tidak menggunakan pestisida dan pupuk kimia sehingga dalam prosesnya tidak melepas banyak karbon.

Menggunakan produk lokal yang didukung oleh bahan-bahan lokal juga memiliki lebih sedikit kontribusi terhadap efek rumah kaca karena menggunakan jauh lebih sedikit bahan bakar saat distribusi dibandingkan produk impor. 

Salah satu indikator paling penting dari gaya hidup karbon tinggi adalah diet, alias pilihan nutrisi dan asupan gizi.

Misalnya saja, membeli batik buatan tangan yang menggunakan pewarna alami indigo dari Imogiri (Yogyakarta) menjadikan tanggung jawab kita terhadap emisi gas buang jauh lebih rendah dari pada membeli pakaian merek Z*** yang diekspor dari Meksiko atau A***** yang diimpor Vietnam dan dibuat di pabrik raksasa dengan menggunakan bahan dan pewarna kimia. 

Membeli pakaian dari tangan kedua (sebut saja garage sale, Pasar Senen, awul-awul) atau bertukar pakaian dengan teman akan menghemat lebih banyak karbon. Membeli pakaian dari tangan kedua menghemat 0,3 ton CO2 dalam satu tahun, membeli pakaian buatan tangan menghemat 0,2 ton CO2, dan menggunakan serat alternatif (seperti bambu) sebagai bahan pakaian menghemat 0,1 ton CO2 dalam setahun.

Hal lain yang tak kalah penting adalah alat transportasi. Bike-to-Work yang sangat popular di Jakarta beberapa tahun lalu sesungguhnya menghemat hingga 0,3 ton CO2 per tahun per orang. Sayangnya, harus diakui jalanan Jakarta tidaklah ramah bagi pesepeda. 

Hal lain yang dapat dilakukan adalah mengurangi perjalanan bisnis. Tempat saya bekerja berinvestasi cukup banyak pada teknologi informasi, sejak 2012 kami berhasil mengurangi emisi gas buang dari perjalanan bisnis ke luar negeri hingga setengahnya. 

Misalnya saja, dua kali bolak-balik dalam bisnis trip menggunakan pesawat dari Jakarta ke Bangkok bisa menghasilkan 2,4 ton CO2. Sebab itu berinvestasi pada teknologi video conference dapat menghemat hingga lebih dari 10 ton CO2 dalam satu tahun per orang.

Meski demikian hal lain yang harus dipikirkan saat beralih ke teknologi video conference adalah menentukan elektronik yang paling ramah lingkungan. Cara lain yang bisa dilakukan adalah menggunakan kereta alih-alih pesawat terbang jika memungkinkan.

Banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk menjadi kelas menengah ngehek rendah karbon. Gaya hidup rendah karbon di Jakarta memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan, dan tidak langsung terasa instan manfaatnya. Namun dalam banyak penelitian, gaya hidup rendah karbon berdampak positif terhadap kesehatan fisik, dan mengurangi konsumsi berdampak positif bagi kesehatan jiwa.

Saya ingin menantang kamu untuk mengubah gaya hidup, dari gaya hidup tinggi karbon tinggi, menjadi gaya hidup rendah karbon, agar kita dapat membuktikan bahwa kita sudah berbuat sesuatu untuk bumi. Berani? —Rappler.com

Rika Novayanti adalah mantan wartawan ekonomi di Bisnis Indonesia. Ia kemudian bergabung dengan Greenpeace Indonesia. Rika tertarik dengan masalah lingkungan dan perempuan. Follow Twitter-nya di @RikaNova atau kunjungi blognya di www.rikanova.com.

BACA JUGA:

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.

Summarize this article with AI
Download the Rappler App!