Tontowi/Liliyana, Bhinneka Tunggal Ika, dan bulu tangkis Indonesia

Alif Gusti Mahardika

This is AI generated summarization, which may have errors. For context, always refer to the full article.

Tontowi/Liliyana, Bhinneka Tunggal Ika, dan bulu tangkis Indonesia

ANTARA FOTO

Etnis Tionghoa yang biasa diasingkan dan disebut aseng, mengharumkan nama Indonesia dan menjadi representasi dari Bhinneka Tunggal Ika di ajang olahraga

JAKARTA, Indonesia — Indonesia baru saja merayakan hari ulang tahun kemerdekaan yang ke-71 pada Rabu, 17 Agustus, kemarin. Pada hari yang sama, pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir yang menjadi wakil Indonesia untuk bulu tangkis di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, berhasil merebut medali emas.

Kemenangan dan medali emas tersebut seolah menjadi hadiah ulang tahun yang manis bagi Indonesia.

Namun, kemenangan pasangan yang akrab disapa Owi/Butet itu atas pasangan ganda campuran Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, dengan skor 21-14 dan 21-12 di babak final tersebut tak hanya sekedar kemenangan sistematis. Melainkan, ada sebuah makna yang lebih besar untuk bangsa Indonesia.

Bhinneka Tunggal Ika; berbeda-beda tetapi tetap satu, adalah semboyan negara Indonesia.

Faktanya, Owi/Butet pun berbeda, namun tetap satu. Owi merupakan pria Muslim yang lahir di Banyumas, 18 Juli 1987. Darah suku Jawa yang kental tentu mengalir dalam tubuhnya. 

Sedangkan Butet adalah wanita Kristiani yang lahir di Manado, 9 September 1985. Ia merupakan putri dari pasangan Beno Natsir dan Olly Maramis, alias Auw Jin Chen. Dan darah etnis Tionghoa pun mengalir dalam tubuhnya.

Di luar perbedaan yang mereka miliki, tujuan mereka sama, yakni menjadi pemenang dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Dan kesamaan utama yang mereka miliki, adalah keduanya merupakan anak bangsa Indonesia.

Potret kelam perbedaan di Indonesia

VIHARA DIRUSAK. Kondisi Vihara Tri Ratna yang rusak pasca kerusuhan yang terjadi, di Tanjung Balai, Sumatera Utara, Sabtu, 30 Juli. Foto oleh Anton/ANTARA

Pada 29 Juli silam, Sabtu dini hari itu, hal pahit terjadi di Tanjung Balai, Sumatera Utara. Sejumlah vihara dan kelenteng, yang digunakan etnis Tionghoa di sana untuk beribadah, dibakar oleh masyarakat setempat non-etnis Tionghoa.

Hal tersebut dipicu oleh tindakan seorang warga etnis Tionghoa yang meminta pengurus Masjid Al-Maksum, yang berada di sana, untuk mengecilkan volume pengeras suara.

Dan beberapa jam sebelum Owi/Butet memenangkan medali emas untuk Indonesia, Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Shabri Lubis dalam acara Milad ke-18 FPI di Jalan Petamburan III, Jakarta Pusat mengatakan, “Kita harus bersatu padu membangun Indonesia yang saat ini didominasi asing dan aseng yang sedang menggerogoti.”

Kata aseng tersebut dimaksudkan untuk etnis Tionghoa.

Kedua potret kelam di atas ditujukan untuk etnis Tionghoa. Padahal, etnis tersebut sudah lahir, tumbuh, dan berkembang bersama suku lainnya di Indonesia sejak lama.

Tak terkecuali di bidang olahraga. Dalam gelaran Olimpiade sendiri, Indonesia telah “dibantu” oleh etnis Tionghoa dalam meraih medali-medali emas. Dan hanya pada cabang olahraga bulu tangkis lah Indonesia memperoleh medali emas di ajang olahraga bergengsi tersebut.

Representasi dan sebuah harapan

PASANGAN PERAIH MEDALI EMAS. Pasangan peraih medali emas, Susi Susanti dan Alan Budikusuma, dalam cabang bulu tangkis di Olimpiade. Foto oleh ANTARA

Sebut saja Susi Susanti dan Alan Budikusuma di Olimpiade Barcelona 1992, Toni Gunawan dan Candra Wijaya di Olimpiade Sydney 2000, Hendra Setiawan yang berpasangan dengan Markis Kido di Olimpiade Beijing 2008, dan kini Butet yang menjadi pasangan Owi di Olimpiade Rio 2016.

Mereka semua adalah putra-putri bangsa Indonesia, yang beretnis Tionghoa, dan mengharumkan nama Indonesia dengan memperoleh medali emas di Olimpiade.

Bahkan Susi menitikkan air matanya ketika lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Bahkan euforia Owi/Butet dapat masyarakat rasakan meski hanya menyaksikannya lewat layar kaca. Dan bahkan rasa bangga muncul di hati masyarakat, ketika putra-putri bangsa beretnis Tionghoa tersebut mengharumkan nama Indonesia.

Telah sejak lama dan berulang kali, etnis Tionghoa yang biasa diasingkan dan disebut aseng, mengharumkan nama Indonesia dan menjadi representasi dari Bhinneka Tunggal Ika sendiri. Namun sedari dulu, belum juga kondisi sosial mengenai hal ini berubah.

Masyarakat Indonesia kini diingatkan kembali akan Bhinneka Tunggal Ika, dengan hadirnya juara baru dalam dunia olahraga. 

Owi/Butet merupakan representasi yang tepat dari perbedaan yang menjadi sebuah kesatuan. Dan pula, merupakan sebuah harapan akan semakin harumnya nama Indonesia dalam bidang olahraga kelak.

Namun terlebih lagi, Owi/Butet merupakan sebuah pelajaran yang seharusnya dapat dimanfaatkan masyarakat di Indonesia. Bahwa seharusnya, masyarakat bisa menjadi Owi ataupun Butet, yang bisa bersatu untuk satu bendera, bangsa, dan negara, yakni Indonesia. —Rappler.com

Alif Gusti Mahardhika adalah mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara. Saat ini sedang menempuh program magang di Rappler Indonesia.

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.

Summarize this article with AI
Download the Rappler App!