Mengenal baterai lithium-ion dan bahayanya

Alif Gusti Mahardika
Mengenal baterai lithium-ion dan bahayanya
Ketika di-recharge berlebihan, partikel kimia yang ada dalam baterai lithium akan bergerak tidak beraturan dan bahkan menyebabkan gelembung yang bisa memicu api atau ledakan

 

JAKARTA, Indonesia – Dalam rentang waktu dua pekan terakhir, masyarakat dunia dihebohkan dengan isu keamanan baterai ponsel.

Hal ini diawali dengan kasus meledaknya gawai rilisan terbaru Samsung, yakni Galaxy Note 7, beberapa pekan setelah dirilis pada 19 Agustus lalu.

Pada 1 September lalu, pihak perusahaan teknologi asal Korea Selatan tersebut merilis pernyataan di situs resminya bahwa akan menarik seluruh Galaxy Note 7 dari peredaran.

Bersamaan dalam pernyataan tersebut, Samsung mengatakan bahwa telah tercatat 35 kasus secara global yang berkaitan dengan produk terbarunya tersebut.

Samsung juga akan memberi ganti rugi untuk pengguna yang telah membeli Galaxy Note 7 berupa produk yang sama dengan baterai yang baru, atau dengan Galaxy S7 atau S7 Edge.

Meledaknya Galaxy Note 7 tersebut diakibatkan oleh baterai yang terpasang dalam gawai tersebut, yakni baterai lithium-ion.

Lalu, apa permasalahannya dan apa bahaya dari baterai jenis tersebut?

Kasus baterai Samsung

Pada Galaxy Note 7, kasusnya adalah baterai gawai tersebut meledak ketika diisi dayanya (recharge). Ledakan tersebut berasal dari baterainya yang berjenis lithium-ion.

Baterai jenis ini memang kerap ditemui dan digunakan pada kegiatan sehari-hari.

Umumnya, baterai lithium-ion digunakan pada ponsel, gawai, laptop, hingga kendaraan kecil maupun besar.

Meski demikian umum, baterai lithium-ion juga memiliki kekurangan.

Pada baterai tersebut, terkandung unsur kimia lithium yang mudah bereaksi terhadap oksigen atau air, bahkan guncangan.

Di dalam baterai, terdapat dua elektroda, yakni anoda yang berisi ion negatif, dan katoda yang berisi ion positif.

Normalnya, ketika ponsel digunakan, lithium di baterai akan bergerak dari katoda ke anoda, dan sebaliknya, ketika diisi daya, lithium akan bergerak dari anoda ke katoda.

Kedua ion tersebut tidak boleh bersentuhan, atau akan memicu api atau ledakan.

Pada baterai lithium-ion umumnya, terdapat pemisah antara dua ion tersebut dalam baterai.

Pada Galaxy Note 7, Samsung mengklaim bahwa ledakan terjadi karena adanya kesalahan dalam produksi baterai, yang mengakibatkan terjadinya ledakan.

Mengapa mengisi daya bisa menyebabkan ledakan?

Pada kasus Samsung tersebut, Galaxy Note 7 dikatakan meledak saat diisi daya.

Baterai lithium-ion pada dasarnya adalah produk yang aman, namun jika salah digunakan maka akan berakibat fatal.

Penyalahgunaan tersebut meliputi isi daya berlebihan atau overcharged, atau suhu panas yang berlebihan.

Ketika diisi daya secara berlebihan atau didiamkan melebihi waktu yang seharusnya, partikel kimia yang ada dalam baterai akan bergerak tidak beraturan dan bahkan menyebabkan gelembung yang bisa memicu api atau ledakan.

Bahaya secara umum

Ketika baterai lithium-ion atau jenis apapun meledak, tentunya bukan hanya api dan luka bakar yang berbahaya bagi manusia.

Justru bahan kimia dari dalam baterai seperti timah, asam sulfat, dan lainnya, yang akan membahayakan tubuh internal manusia.

Ketika baterai meledak, bahan kimia tersebut akan bersenyawa dengan oksigen di sekitar, dan dapat terhirup oleh manusia.

Hal tersebut bisa menyebabkan penyakit seperti gangguan pernapasan, gangguan otak, bahkan impotensi. Yang lebih rentan terkena dampak ledakan baterai, adalah anak-anak dan perempuan.

Bahan kimia yang mereka hirup dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, otak, serta saraf pada anak-anak, dan gangguan kehamilan dan janin pada perempuan.

Karena itulah, terdapat peringatan keras untuk menjauhkan baterai dari jangkauan anak-anak.

Pemegang baterai disarankan untuk segera mencuci tangan dan tidak langsung menyentuh mulut, mata, dan bagian tubuh sensitif lainnya sehabis menyentuh baterai. – Rappler.com

 

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.