Tonny Trimarsanto menyusuri jalan sunyi film dokumenter transgender

Ari Susanto

This is AI generated summarization, which may have errors. For context, always refer to the full article.

Tonny Trimarsanto menyusuri jalan sunyi film dokumenter transgender
Sutradara Tonny Trimarsanto banyak dikenal sebagai sineas dokumenter yang punya spesialisasi isu transgender

SOLO, Indonesia — Renita memiliki nama asli Muhammad Zein Pundagau. Ia lahir dan tumbuh di sebuah desa di Donggala, Sulawesi Tengah. Ia pernah dipukuli orangtuanya karena memilih menjadi perempuan, sementara mereka menginginkan anaknya menjadi seorang da’i. Renita diusir dari kampung halamannya karena keluarga besarnya tidak mengakui waria.

Renita kemudian pergi ke Palu dan bekerja di salon untuk bertahan hidup, sebelum pindah ke sebuah tempat hiburan malam di Balikpapan, Kalimantan Timur. Atas ajakan temannya, ia akhirnya memutuskan merantau ke Jakarta dan menjadi pekerja seks di hotel-hotel. 

Sayangnya, kehidupan waria di kota metropolitan tak seperti harapannya. Karena dianggap mengganggu ketertiban umum, Renita kerap dikejar-kejar, ditangkap, diperas oleh aparat, dan ditahan dalam satu sel dengan orang-orang berpenyakit jiwa. Lebih malang lagi, ia pernah ditusuk pisau di bagian perut oleh pelanggannya sendiri yang menolak membayar.

Film dokumenter pendek berjudul Renita Renita ini merupakan karya pertama Tonny Trimarsanto yang bertema transgender dan pernah diputar di puluhan festival film di berbagai negara. Film yang awalnya dibuat untuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) sebagai media advokasi hak-hak minoritas itu tak disangka bakal membawa sang sutradara terlibat lebih jauh mengakrabi dunia transgender.

Setelah memenangi penghargaan sebagai Best Short Asia di Cinemanila International Film Festival 2007 di Manila dan Best Film di Culture Unplugged International Film Festival 2009 di India, Tonny membuat film perjalanan pulang Renita dari Jakarta ke kampung halaman. Film berdurasi 98 menit ini juga diputar di beberapa negara, salah satunya yang bergengsi di International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA).

Renita, Renita memenangi hadiah uang tunai di kompetisi film, lalu saya bisa mendanai Renita yang ingin bertemu keluarganya sekaligus saya buat film keduanya The Mangoes. Film ini untuk menginspirasi keluarga dan orangtua untuk menerima anaknya yang transgender,” kata Tonny saat berbincang di Rumah Dokumenter di Klaten—tempat ia memproduksi film-filmnya sekaligus sekolah terbuka bagi anak-anak muda yang ingin belajar membuat dokumenter.

Selesai dengan The Mangoes, Tonny semakin berani mengangkat isu terkait hak-hak minoritas ke layar sinema dokumenter melalui film Bulu Mata, yang bercerita tentang komunitas transgender di Bireun yang bertahan di tengah berlakunya hukum syariah di Aceh.  

(BACA JUGA: Film ‘Bulu Mata’ mengulik diskriminasi transgender di Aceh)

Kini, juri dan mentor kompetisi film dokumenter Eagle Award itu sedang menyelesaikan dua judul lain, yaitu Nur, tentang komunitas pesantren waria di Kotagede, Yogyakarta, yang disegel oleh sekelompok ormas; dan Bissu yang berkisah tentang para pemimpin spiritual di Bone yang juga dianggap orang suci dan tidak termasuk golongan laki-laki maupun perempuan.

Dari layar lebar ke dokumenter

Debut Tonny di dunia perfilman sebenarnya dimulai sebagai periset materi visual, penulis skenario, dan penata artistik untuk film-film karya Garin Nugroho sejak film Bulan Tertusuk Ilalang. Ia pernah memenangi katagori Best Art Director film Daun di Atas Bantal di beberapa festifal film internasional.

Namun ternyata gemerlap industri film layar lebar tidak serta merta membuat Tonny betah. Salah satu alasannya, tidak ada tantangan dalam membuat film fiksi. Dengan puluhan kru, peralatan lengkap, dan dukungan teknologi Computer Generated Imagery (CGI), proses pembuatan film layar lebar bisa diatur dengan mudah. 

Sebaliknya, film dokumenter yang memotret realitas di masyarakat lebih banyak menangkap peristiwa spontan, penuturan cerita, dan tak jarang mengambil risiko jika bersentuhan dengan isu yang kontroversial dan sensitif, seperti yang pernah ia alami di Sampit, Ambon, Timor Leste, dan Papua. Namun justru itu yang membuat Tonny tertarik.

Ia sejak awal tahu bahwa film dokumenter adalah kasta terendah dalam dunia bisnis audio visual di bawah industri periklanan, layar lebar, dan sinetron. Pasar film dokumenter hanyalah festival, dunia akademis, dan komunitas terbatas. Apalagi sejarah yang lekat dengan propaganda, dari zaman Hitler hingga Soeharto, yang membuat film dokumenter kurang diminati.

“Dokumenter itu sepi, tak menjanjikan uang. Tetapi itu minat saya, membuat film sebagai media untuk mengekspresikan sikap saya terhadap sebuah persoalan,” kata Tonny.

Meski dengan modal pas-pasan, Tonny cukup produktif menghasilkan film dengan berbagai tema sosial, di antaranya Gerabah Plastik, The Last Prayer, It’s a Beautiful Day, Laki-laki dengan Dua Belas Istri, Tikus yang Kawin dengan Wereng, dan Egg, Chicken and Where’s Mr Kelly—film pendek tentang cerita kekerasan di Papua.

Berbeda dengan sineas umumnya, dalam berkarya Tonny bukan penganut rezim gambar bagus. Baginya, dalam dokumenter, gambar bagus adalah gambar yang dekat dengan subyek, di mana secara spontan subyek berani bercerita langsung ke arah kamera, meski sisi pencahayaan dan artistiknya kurang.

Isu minoritas dan transgender

Sejak film Renita Renita dan The Mangoes, Tonny lebih banyak dikenal sebagai sineas dokumenter yang punya spesialisasi isu transgender. Bahkan, beberapa penyelenggara festival film international sering bertanya apakah dirinya memiliki film serupa untuk diputar dan diapresiasi.

Ketertarikan Tonny dalam memotret dunia transgender didorong oleh keinginannya untuk membuat film-film advokatif yang membela hak kelompok minoritas di Indonesia. Transgender ada di tengah-tengah masyarakat tetapi sering luput dari perhatian publik.

“Saya merasa berkepentingan dengan isu minoritas, karena mereka layak untuk dilihat dan dimanusiakan. Dan film-film saya tentang transgender adalah dialog yang tak pernah selesai,” kata Tonny.

Secara umum, orang-orang memandang kelompok waria dengan stigma negatif dan memperlakukannya secara diskriminatif. Sementara, saat itu belum ada film dengan teknik pengambilan gambar tak berjarak yang mengungkap sisi kehidupan transgender secara gamblang.

“Kalaupun ada, ambil gambarnya memakai tele, diam-diam mencuri, dan sudut pandangnya sebagai pihak luar. Saya membuat film dengan kamera yang sangat dekat dengan mereka, dan membuat mereka berani bercerita ke arah kamera,” kata Tonny.

Renita, Renita menjadi film dokumenter pertama tentang transgender yang memiliki intimasi dengan subyek. Sejak awal, Tonny memposisikan dirinya berada di pihak mereka dan berupaya membangun kedekatan secara personal sehingga tokoh yang difilmkan tak merasa risih dibuntuti kamera. 

Tonny lebih banyak menggunakan pendekatan empati terhadap kelompok transgender, sehingga mereka merasa sang sutradara seperti sahabat yang bisa dipercaya untuk berbagi cerita dan kehidupannya yang sangat pribadi. Ia harus menjadi bagian dari komunitas untuk memahami dunia mereka jika ingin membuat film yang bagus.

“Ada waria dari komunitas di pesantren di Kotagede yang ditangkap dan ditahan di Bantul. Dia telpon saya, di tengah hujan deras saya saya pergi ke sana untuk menjenguk, membawakan rokok dan makanan,” ujar Tonny.

“Mereka itu manusia waras, tetapi sering diperlakukan tak layak, kalau tertangkap dicampur dengan  orang-orang sakit jiwa,” ucapnya.

Dalam membangun cerita di film-filmnya, Tonny berusaha untuk mengungkap sisi manusia dalam diri seorang transgender yang tak banyak diketahui orang. Misalnya, latar belakang keluarganya, penyiksaan dan pengucilan yang pernah dialami, hingga persoalan diskriminasi dalam segala hal—dari pengurusan admistrasi kependudukan hingga mencari lahan penghidupan.

Menghidupi film

Membuat film dokumenter butuh biaya tak sedikit, tetapi tidak mendatangkan pemasukan besar. Tonny sadar bahwa seorang sineas dokumenter tak akan bisa bertahan hidup hanya dengan mengandalkan karya-karya dokumenter di dalam negeri—meski diakui beberapa kampus kerap meminta pemutaran dan diskusi untuk kajian akademis tentang gender.

Untuk bisa menghidupi film-film selanjutnya, Tonny selalu mengirimkan karyanya ke festival film internasional. Selain itu, ia juga menjual filmnya ke distributor internasional dengan sistem royalti yang dibayarkan setiap enam bulan. Tonny juga menyuplai film-filmnya ke perpustakaan di beberapa universitas di Eropa dan Amerika Utara sebagai koleksi audio visual. 

Sejumlah karyanya juga pernah dibeli oleh saluran televisi asing, seperti NHK di Jepang. Tak jarang pula, Tonny mendapat kucuran dana film dari sejumlah lembaga donor yang tertarik dengan presentasi gagasan yang akan diangkatnya dalam filmnya.

Soal apresiasi film dokumenter, ia menceritakan pengalamannya bahwa film Renita Renita pernah ditolak di Jakarta International Film Festival (JIFFest) 2006 karena dianggap tidak memenuhi standar kualitas yang ditetapkan panitia. Tetapi, film berdurasi 16 menit itu malah diminta oleh seorang kurator Singapore International Film Festival 2007 untuk diputar di festival tersebut.

“Untuk bisa bertahan di dokumenter, harus membangun jaringan, terutama di luar negeri yang punya prospek bagus. Dengan cara itu, saya bisa terus menghidupi film-film berikutnya yang akan dan sedang saya buat,” ujar Tonny yang kini juga menjadi pengajar tamu di beberapa kampus di Indonesia.

Godaan pun beberapa kali mendatanginya berupa tawaran menggarap sinetron dan film fiksi, namun semuanya ia tolak dengan halus meskipun menjanjikan pendapatan yang lebih besar. Ia ingin tetap berada di luar arus utama perfilman Indonesia, dan memilih menyusuri jalan sunyi sinema dokumenter yang mengangkat kehidupan kaum minoritas. —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.

Summarize this article with AI
Download the Rappler App!