Kilas balik: 5 ‘startup’ inovatif 2015

Haryo Wisanggeni
Go-Jek menjadi salah satu 'startup' terinovatif tahun 2015. Siapa lagi?

PENGEMUDI GO-JEK. Foto oleh Famega Syavira/Rappler

JAKARTA, Indonesia — 2015 diwarnai oleh tumbuhnya sejumlah startup di Indonesia. Model bisnis mereka melahirkan berbagai terobosan dan inovasi. 

Sebelum 2015, pernahkah kamu membayangkan untuk memesan ojek hingga tukang pijat dari ponselmu? Atau, tanpa terhalang jarak dan waktu, kamu kini bisa berkontribusi untuk berbagai proyek sosial yang menarik perhatianmu di seluruh Indonesia.

Lagi-lagi, cukup melalui beberapa sentuhan di layar ponsel.

Dari berbagai startup tersebut, berikut lima di antaranya yang membuat perubahan di Indonesia, tanpa urutan tertentu: 

1. Go-Jek: Mulai fokus ke aplikasi, masuki ranah gaya hidup

Sulit untuk tidak memulai daftar ini dengan nama Go-Jek Indonesia. 2015 adalah tahun yang sibuk bagi Go-Jek. Mereka melakukan perekrutan besar-besaran hingga berkonflik dengan berbagai pihak, mulai pengemudi ojek konvensional sampai pemerintah.  

Di tengah berbagai tantangan, inovasi-inovasi Go-Jek membawa mereka bertahan sebagai aplikasi yang mampu menjawab berbagai persoalan masyarakat.

Dua di antara inovasi-inovasi tersebut adalah keputusan mereka untuk menyudahi layanan pemesanan ojek melalui call center dan fokus mengembangkan layanan berbasis aplikasi ponsel serta ekstensifikasi produk yang membawa mereka memasuki ranah gaya hidup.

Staf humas Go-Jek Yovita Liwanuru mengatakan, untuk mendukung gaya hidup penggunanya,  CEO Nadiem Makarim menempuh langkah ekstensif untuk berinovasi demi mengembangkan bisnisnya, seperti Go-Glam, Go-Clean, dan Go-Massage.

“Selama ini kebanyakan orang tahunya Go-Jek, ya buat booking ojek. Tapi di belakang itu Nadiem punya misi mengembangkan bisnisnya dan akhirnya lahir ekspansi ini,” kata Yovita.

2. Kitabisa: Situs ‘crowdsourcing’ untuk proyek sosial pertama di Indonesia

KITABISA. Rekam gambar dari kitabisa.com

Entah kamu seorang pembalap yang sedang mencari dana untuk berkompetisi di ajang Formula 1 seperti Rio Haryanto atau seorang alumni sebuah sekolah yang ingin menggalang dana untuk membeli kado bagi penjaga sekolahmu dulu, kamu bisa memulainya dari Kitabisa.com.

Menurut keterangan duo pendirinya, Alfatih Timur dan Vikra Ijas, serta sejauh pantauan Rappler, inilah situs crowdfunding untuk proyek sosial pertama di Indonesia.

Visi mereka adalah menghubungkan pihak yang membutuhkan dana untuk proyek sosialnya dengan calon donatur dan membuat proses kerjasama antara kedua pihak ini menjadi lebih efektif dan efisien dari sebelumnya. 

Pada 2015, Kitabisa berhasil mencatatkan rekor mengumpulkan donasi Rp 286 juta dari target semula Rp 200 juta hanya dalam empat hari untuk membangun kembali musala umat Muslim di Kabupaten Tolikara, Papua. Musala tersebut rusak dibakar saat pelaksanaan salat Idulfitri, pada 17 Juli. 

Secara umum, Kitabisa juga mengalami pertumbuhan yang signifikan tahun ini. 

“Jumlah dana yang terkumpul melalui website penggalangan dana online Kitabisa.com meningkat menjadi Rp 7,2 miliar dari Rp 1,4 miliar di akhir tahun 2014,” kata Vikra kepada Rappler, Selasa, 29 Desember.

“Dana ini terkumpul dari 18 ribu lebih donatur yang berdonasi untuk kampanye penggalangan dana yang dilakukan melalui situs kami. Hingga akhir tahun ini, ada 628 kampanye penggalangan dana yang berhasil terdanai.”

3. Hipwee: Hadirkan konten viral yang membumi

HIPWEE. Rekam gambar hipwee.com

Semua situs dan platform penyedia konten tahu betul bahwa konten yang viral akan mendatangkan traffic dan pada akhirnya memberikan mereka keuntungan finansial.

Namun membuat dan menemukan konten semacam itu sama sekali bukan pekerjaan mudah. Salah satu yang berhasil melakukannya dengan sangat baik sepanjang 2015, menurut pengamatan Rappler, adalah situs Hipwee.

Terlihat sangat Buzzfeed di awal kemunculannya tahun lalu, perlahan Hipwee mulai menemukan daya tariknya sendiri. Mereka mengangkat berbagai persoalan yang begitu dekat dengan keseharian anak muda urban Indonesia, mulai dari asmara hingga keuangan, lalu mengubahnya menjadi konten yang menarik.  

Pada 2015 pula, potensi startup yang didirikan oleh ekspatriat asal Estonia, Laura Lahi, ini membuat mereka diakuisisi oleh platform social entertainment Migme.

4. BukaLapak: Pasca sejumlah pendanaan, tumbuh jadi raksasa ‘e-commerce’ lokal

BUKALAPAK. Rekam gambar dari bukalapak.com

Dunia perdagangan daring atau e-commrerce di Indonesia awalnya hanya didominasi oleh pemain asing seperti OLX dan produk-produk Rocket Internet, hingga tumbuhnya Tokopedia.

Kini, Tokopedia tak lagi sendirian dan ditemani oleh BukaLapak (lalu belakangan MatahariMall yang masih harus kita tunggu kiprahnya).

BukaLapak memanfaatkan betul serangkaian investasi yang mereka terima mulai dari Aucfan, 500 Startups, dan GREE Ventures pada 2014, hingga yang terakhir dari Emtek Group tahun ini untuk berinovasi mengembangkan bisnisnya dan tumbuh menjadi raksasa e-commerce lokal pada 2015.

BukaLapak, yang di awal 2015 baru mempunyai 163.000 penjual, kini telah mempunyai 450.000 penjual.

Mereka juga kreatif dalam proses pemasaran. Memanfaatkan momentum Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) bulan Desember ini misalnya, mereka merilis sebuah iklan unik di televisi yang menampilkan sang CEO, Achmad Zaky.

5. YesBoss: Hadirkan kenikmatan jadi bos dengan layanan asisten virtual

YES BOSS. Foto dari Tech in Asia

YesBoss resmi diluncurkan pada tanggal 2 Juni 2015 dan menjadi penyedia jasa layanan asisten virtual melalui ponsel pertama di Tanah Air (sebelum belakangan disaingi oleh HaloDiana). 

Dengan melakukan pendaftaran menggunakan alamat surel dan nomor telepon di situs YesBoss, pengguna bisa langsung memperoleh asisten pribadi yang bisa membantu mereka mengecek berbagai hal dari harga saham sampai jadwal film di bioskop. 

Para pengguna cukup mengirimkan pesan singkat untuk berkomunikasi dengan sang asisten yang disediakan oleh layanan YesBoss.

YesBoss dikembangkan oleh Irzan Raditya, Christian Franke, Wahyu Wrehasnaya, dan Reynir Fauzan. Mereka merupakan anggota tim dari startup karya anak Indonesia yang ketika itu sedang berada di Berlin, Jerman, Rumah Diaspora. 

Irzan menjelaskan bahwa saat ini semua permintaan yang diterima direspons oleh Client Services Representative (CSR). Hal ini tentunya akan sangat merepotkan ketika jumlah pengguna YesBoss dan permintaan mereka terus tumbuh. 

Sadar akan hal itu, Irzan pun mengatakan bahwa tim YesBoss sedang mengembangkan sistem Artificial Intelegent, atau kecerdasan buatan melalui ilmu Natural Language Processing sehingga ke depan mereka bisa merespons permintaan pengguna dengan lebih efisien — Dengan laporan Tech in Asia/Rappler.com

BACA JUGA: