restaurants in Metro Manila

Kelompok Abu Sayyaf mengklaim jadi dalang di balik ledakan di kota Davao

Rappler.com
Kelompok Abu Sayyaf mengklaim jadi dalang di balik ledakan di kota Davao
Presiden Duterte mengaku telah siap atas aksi pembalasan dendam kelompok Abu Sayyaf. Dia pun mengatakan akan membalas Abu Sayyaf 10 kali lebih baik

JAKARTA, Indonesia – Sesuai dengan prediksi pemerintah, kelompok militan Abu Sayyaf mengklaim bertanggung jawab atas insiden ledakan mematikan di sebuah pasar malam di kota Davao. Stasiun radio dzMM melaporkan melalui juru bicaranya, Abu Rami, kelompok Abu Sayyaf mengaku mereka lah dalang di balik aksi ledakan pada Jumat malam, 2 September di pasar malam di Roxas, kota Davao.

Abu Rami menjelaskan ledakan itu sebagai seruan bagi para pejuang kelompok militan lainnya di Filipina untuk bersatu. Dia juga mengatakan aksi teror itu sebagai sebuah peringatan kepada Pemerintah Filipina yang dipimpin Presiden Rodrigo Duterte, mantan Walikota Davao.

Sementara, Duterte mengaku sudah memprediksi akan memperoleh balasan dari Abu Sayyaf. Hal ini lantaran Duterte memberikan instruksi kepada pihak militer agar menghancurkan mereka hingga tidak tersisa.

Dia pun mengaku siap dengan pembalasan dendam dari kelompok Abu Sayyaf.

“Apa yang kalian lakukan (terhadap kami), saya bisa melakukan (pembalasan) lebih baik 10 kali. Saya memiliki militer dan juga pesawat,” kata Duterte memberikan peringatan terhadap Abu Sayyaf.

Sesuai dengan instruksi Duterte, angkatan bersenjata Filipina kemudian mengirimkan 5 batalion yang terdiri dari 2.500 pasukan ke Jolo, Pulau Sulu. Dengan begitu, maka total terdapat sekitar 7.000 personil militer di Jolo.

Menurut Kepala Angkatan Bersenjata Filipina, Jenderal Ricardo Visaya, ini merupakan angka terbesar yang dikirim oleh pemerintah untuk melawan Abu Sayyaf. Dalam peperangan sebelumnya, sebanyak 14 anggota Abu Sayyaf tewas.

Berlakukan keadaan darurat

Instruksi lainnya yang disampaikan Duterte pasca ledakan di pasar malam di Davao yakni menyatakan kondisi darurat di Pulau Mindanao. Semula, Duterte mengeluarkan pernyataan keadaan darurat bagi seluruh Filipina, namun kalimat itu diklarifikasi beberapa jam kemudian oleh asisten khususnya, Bong Go dan hanya dibatasi untuk area Mindanao saja.

“Saya menyatakan kini keadaan darurat. Ini bukan darurat militer, tetapi saya mengatakan akan ada pos-pos pemeriksaan,” ujar Bong pada Sabtu dini hari, 3 September di kota Davao.

Dengan adanya instruksi ini, maka upaya terkoordinasi antara polisi dan militer untuk mendukung peperangan pemerintah melawan terorisme dan perdagangan narkoba. Diberlakukan keadaan darurat ini, menurut pemerintah, sesuai dengan aturan di dalam Konstitusi tahun 1987. Di sana tertulis, Presiden diizinkan untuk mengerahkan pasukan militer untuk mencegah atau menekan tindak kekerasan yang terjadi tanpa hukum.

Sejauh ini, Duterte hanya akan mengerahkan pasukan militer di seluruh wilayah Filipina dan di beberapa titik pemeriksaan. Namun, sejauh ini belum ada pemberlakuan jam malam.

“Ada waktu-waktu khusus, ada krisis di negara ini yang melibatkan narkoba, pembunuhan tanpa melalui proses peradilan dan lingkungan yang tidak memiliki aturan hukum,” kata Duterte.

Instruksi itu kemudian ditindak lanjuti oleh Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) dan Kepolisian Nasional Filipina (PNP).

“AFP tengah bersiap untuk melakukan tugas apa pun yang akan diberikan terkait dengan situasi darurat oleh panglima militer tertinggi,” kata perwakilan AFP pada Sabtu pagi ini.

AFP juga meminta kepada warga agar tetap tenang dan menahan diri untuk tidak membuat spekulasi apa pun agar situasinya tidak semakin memburuk. Sementara, PNP mengatakan pada hari ini bahwa mereka tengah melakukan penyelidikan secara menyeluruh untuk menentukan apa penyebab ledakan atau pihak yang bertanggung jawab.

“Kami jamin kepada publik, bahwa PNP menangani situasinya dengan baik,” kata mereka.

Sudah diperingatkan

Duterte sudah berkunjung ke lokasi ledakan pada pagi tadi sekitar pukul 05:10 waktu setempat usai digelar jumpa pers. Dia tidak mengungkap apa hasil temuan awal dari pemeriksaan kepolisian dan personil militer.

Tetapi, dia mengklaim beberapa badan hukum dan dirinya telah diperingatkan sebelum terjadi peristiwa ledakan itu.

“Kami telah diperingatkan, kami siap dan semua pejabat berwenang ada di sini, bahkan (Kepala Imigrasi Nicanor) Faeldon, dan semua kepala badan intelijen ada di sini,” kata Duterte.

Walaupun, dia tidak secara langsung mengatakan ledakan tersebut merupakan sebuah tindakan teror, tetapi dia terlihat mengaitkan insiden di pasar malam Davao dengan peristiwa pembobolan penjara yang melibatkan kelompok teroris.

“Ada peringatan ini, kemudian peringatan lainnya yakni insiden Maute. Ada banyak tindak kekerasan yang akhir-akhir ini dilakukan oleh kelompok teroris,” katanya lagi.

Pada tanggal 28 Agustus lalu, sebuah lembaga pemasyarakatan di kota Marawi diserang oleh kelompok teroris lokal.

Batalkan kunjungan ke Brunei

Selang beberapa jam setelah ledakan di Kota Davao, Duterte membatalkan perjalanan dinasnya ke Brunei Darussalam.

“Kunjungan ke Brunei dibatalkan,” kata Sekretaris Komunikasi Duterte, Martin Andanar, Sabtu.

Ia sebelumnya dijadwalkan untuk mengunjungi Brunei pada Sabtu, 3 September hingga Senin, 5 September.

Duterte juga direncanakan untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi se-Asia Tenggara (KTT ASEAN) di Laos pada 6-8 September. Setelah itu ia akan berkunjung ke Indonesia bertemu Presiden RI Joko “Jokowi” Widodo pada 8-9 September.

Namun belum ada pernyataan lebih lanjut tentang kunjungan berikutnya.

 —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.