Filipino comic strips

51 orang tewas akibat bentrok sepak bola sejak 1995

Mahmud Alexander
Fanatisme terhadap tim yang didukung, apapun itu timnya, tak semahal harga sebuah nyawa

KERUSUHAN DI GELORA BUNG KARNO. Suporter Persija Jakarta melempar "flare" ke arah petugas kepolisian saat pertandingan Persija melawan Sriwijaya FC pada ajang Torabika Soccer Championship di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat, 24 Juni. Foto oleh Aprillio Akbar/ANTARA

JAKARTA, Indonesia — Sudah puluhan nyawa menjadi korban karena sepak bola, setidaknya sejak 20 tahun terakhir.

Meski tak tercatat seluruhnya, lembaga Save Our Soccer (SOS), yang mengumpulkan data tentang jumlah kematian warga saat pertandingan atau seputar kegiatan sepak bola, menyatakan prihatin terhadap aksi pengeroyokan yang berujung kematian.

Data dari SOS menyebutkan bahwa Muhammad Rovi “Omen” Arrahman (17 tahun) adalah korban ke-51 sejak Liga Indonesia digelar pada musim 1994/1995. 

(BACA: Suporter Persib tewas dikeroyok, 8 remaja jadi tersangka)

Omen juga menjadi bobotoh —julukan untuk pendukung Persib Bandung— keempat yang tewas saat mendukung klub kesayangannya setelah Rangga Cipta Nugraha (22), Lazuardi (29), dan Dani Maulana (17)  yang meninggal setelah dikeroyok oknum suporter The JakMania.

Koordinator SOS, Akmal Marhali, mengakui tewasnya Omen dan suporter lainnya tak seharusnya terjadi. Fanatisme terhadap tim yang didukung, apapun itu timnya, tak semahal harga sebuah nyawa.

“Kejadian ini tak boleh lagi terulang. Polisi harus mengusut tuntas pelakunya dan memberikan hukuman sepadan agar ada efek jera,” kata Akmal.

Budaya permusuhan itu, menurut Akmal, harus dihilangkan karena dalam sepak bola yang ada hanyalah rivalitas di dalam stadion. Di luar lapangan hijau, identitas itu tak perlu ditonjolkan.

“Ini harus dipahami semua elemen sepak bola di Tanah Air. Sepak bola adalah hiburan, bukan tempat pemakaman,” ucapnya.

Kasus Omen harus menjadi renungan sekaligus intropeksi bagi seluruh stakeholder sepak bola nasional. Mulai dari Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), operator kompetisi, klub, sampai kepada organisasi suporter harus berbenah. 

Kekerasan antara suporter tak boleh lagi terulang. Salah satunya tentu dengan membuat regulasi dan aturan yang jelas dan tegas untuk suporter. 

Menurut Akmal, sudah waktunya suporter juga dibuatkan regulasi. Football Spectator Act (FSA) yang diberlakukan di Liga Inggris sejak 1989 bisa dijadikan rujukan.

FSA mewajibkan seluruh suporter di Inggris memiliki kartu keanggotaan dari klub yang mereka dukung. Ini untuk mengidentifikasi suporter yang bikin rusuh.

“Mereka akan dicabut kartu anggotanya serta tak boleh menonton pertandingan seumur hidup di stadion bila dinyatakan bersalah,” kata Akmal.

Meski ini tak mudah dan lemahnya pengawasan di stadion, ternyata ini bisa berjalan. Awalnya memang tak seperti sekarang, adanya komitmen dari federasi, pengelola liga, serta kelompok suporter, membuat nonton bola di sana, lebih nyaman.

FSA juga mengatur keberadaan Badan Otoritas Lisensi baru yang bertugas memberi, atau mencabut izin sebuah stadion untuk menyelenggarakan pertandingan. 

Memang, perlu ada pembinaan suporter, perlu ada aturan yang tegas, dan perlu ada keseriusan dari pengelola kompetisi serta PsSI untuk berbenah, bukan sekadar prihatin dan janji-janji serapah untuk memperbaiki sepak bola Indonesia. 

Berikut adalah daftar orang yang meninggal dalam pertandingan dan kegiatan sepak bola: